Latest

Momen Potensial Munculnya Black Flight di Indonesia

Setiap tanggal 9 April dan 5 Oktober, warga Ibukota Jakarta dibuat terkesima dengan defile dan flypass dari pesawat-pesawat tempur TNI AU. Sebagian besar warga Jakarta dibuat kagum atas deru mesin jet tempur yang membelah langit. Yang jadi bintang, tak lain dan tak bukan adalah alutsista nomer wahid milik Republik Indonesia, seperti Sukhoi Su-27/30, F-16 Fighting Falcon, Hawk 109/209, dan F-5E/F Tiger.

Melihat dari kecenderungannya, beberapa hari jelang perhelatan akbar, selalu dilakukan latihan flypass, terbang formasi, bahkan atraksi aerobatik. Saya yang kebetulan tinggal di area Jakarta Selatan, biasanya mulai melihat flypass jet tempur secara intens pada H-7.

Lepas dari flypass dan atraksi aerobatik jet tempur diatas, sebenarnya ada suatu hal yang harus diwaspadai secara seksama, terutama oleh elemen Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas). Seperti sudah menjadi rahasia umum, dari segi kuantitas, Indonesia sangat kekurangan jet tempur. Jumlah jet tempur yang ada setiap hari dioperasikan secara terbatas untuk misi patroli, sebagian lagi ada di pangkalan untuk misi perbaikan.

Meski tentunya sudah disiasati, intinya saat hajatan 9 April sebagai hari jadi TNI AU, dan 5 Oktober sebagai HUT TNI, tingkat kesiapan jet tempur (terutama di wilayah perbatasan) menjadi berkurang, pasalnya sebagian ‘ditarik’ ke Jakarta untuk keperluan flypass. Sampai saat ini Kohanudnas memiliki 17 unit radar yang terbagi dalam Kosek (komando sektor). Kosek I yang bermarkas di Halim membawahi 6 radar, Kosek II di Makassar membawahi 5 radar, Kosek III di Medan membawahi 4 radar, dan Kosek IV di Biak membawahi 2 radar. Dalam pelaksanaan operasinya, unsur Kohandunas berintegrasi dan berkoordinasi dengan radar sipil, terutama untuk wilayah-wilayah di Indonesia Timur yang masih minim dari pantauan radar militer.

Momen Emas Terjadinya Black Flight
Dengan berkurangnya jumlah jet tempur di pangkalannya masing-masing, menjadi peluang emas bagi pihak asing untuk lebih leluasa melakukan misi black flight (penerbangan gelap). Mereka tahu, bila pada tanggal-tanggal tertentu kekuatan ‘interceptor’ TNI AU berkurang. Adanya elemen Arhanud (Artileri Pertahanan Udara) pastinya dapat mengelimir misi black flight yang akan masuk ke wilayah-wilayah obyek vital. Tapi tetap saja, elemen Kohanudnas yang utama adalah jet buru sergap untuk mengadakan tindakan sebelum black flight bertindak lebih jauh.

Black Flight
Sepanjang sejarah eksistensi hanud di Tanah Air, patut disyukuri ancaman yang dihadapi masih sebatas munculnya beberapa kali penerbangan gelap (black flight). Memang banyak diantara black flight berhasil dihadang oleh jet buru sergap TNI AU, tapi beberapa momen black flight lainnya hanya berhasil ditangkap oleh satuan radar TNI AU tanpa bisa direspon lebih lanjut. Umumnya black flight terjadi di wilayah sengketa atau konflik. Dalam beberapa laporan, black flight atau penerbangan tanpa izin kerap terdeteksi di Timor Timur (sekarang Timor Leste), pasa masa pra dan paska referendum tahun 1999. Black flight juga terlihat saat konflik horizontal di Ambon, Maluku.

Black flight tak melulu berwujud pesawat jet tempur yang berkecepatan supersonic, tapi bisa juga pesawat sipil, atau bahkan diindikasi juga oleh jenis helikopter. Umumnya pola hadirnya helikopter bisa terendus dari pantauan kecepatan dan manuver yang terlihat dari layar radar. Sumber dari Majalah Angkasa edisi Februari 2009 menyebutkan, sejak tahun 2006 kehadiran black flight cenderung terus meningkat, di tahun 2006 tercatat Lasa (laporan sasaran) tidak dikenal berjumlah 18 kali, tahun 2007 meningkat menjadi 23 kali, dan di tahu 2008 meningkat lagi menjadi 26 kali, dengan perincian 10 kali pelanggaran wilayah kedaulatan dan 16 kali pelanggaran yang bersifat mengancam wilayah kedaulatan.

Jenis-jenis pelanggaran terhadap kedaulatan wilayah udara nasional diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu pelanggaran wilayah udara nasional, pelanggaran air defence identification zone, dan laporan sasaran tidak dikenal (Lasa X)/black flight. Semenjak tahun 2009 hingga Juni 2010, terjadi 23 kali pelanggaran kedaulatan pada wilayah udara nasional. Diantara jenis pelanggaran yang ada, pelanggaran black flight adalah yang paling sering terjadi (11 kali).

Dari laporan diatas bisa disimpulkan secara pihak asing kian berani melintasi ruang udara RI. Meski sering disambangi black flight, hingga kini tak ada satupun insiden yang dapat ditaklukan oleh sistem arhanud TNI. Tapi ada beberapa kejadian yang cukup menarik antara hadirnya sosok black flight dan keberadaan rudal darat ke udara di Tanah Air.

Seperti pada tahun 60-an, di masa perjuangan operasi Trikora, rudal SA-2 sebagai sistem pertahanan udara lapis kedua (areal defence) setelah pesawat tempur, pernah sekali waktu hampir digunakan untuk melibas target black flight yang diketahui sebagai pesawat intai U-2 Dragon Lady yang tengah melintas di Teluk Jakarta. Awak rudal SA-2 yang masuk skadron peluncur 102 berhasil mendeteksi U-2 dan kemudian melaporkan ke Panglima Kohanud. Oleh panglima diteruskan kepada presiden lewat jalur “telepon merah“ untuk menunggu perintah selanjutnya. Sementara operator radar sudah mengunci posisi U-2. Kalau Bung Karno ada di tempat ketika telepon berdering dari Panglima Kohanud, tidak seorang pun bisa membayangkan. Pilihannya memang bisa tembak atau tidak.

Rudal SA-2

Terlepas dari pertimbangan politik, saat itu bisa hampir dipastikan rudal hanud SA-2 milik TNI mampu menjatuhkan U-2. Hal ini berkaca pada kejadian 1 Mei 1960, dimana SA-2 milik Uni Soviet berhasil menembak jatuh U-2 pada ketinggian 50.000 kaki. Berikutnya ada lagi informasi jatuhnya U-2 akibat sambaran SA-2 pada konflik Kuba vs Amerika Serikat di bulan Oktober 1962.

Gambaran diatas adalah situasi pada era 60-an, pertanyaannya bagaimana kesiapan sistem pertahanan udara kita saat ini? (Haryo Adjie Nogo Seno)

Awas! Black Flight di Atas Lanud El Tari

Pada 16 September 1999 di Lanud El Tari Kupang, Nusa Tenggara Timur, disiapkan 2 pesawat tempur Hawk 209, 1 Hawk 109, dan 3 pesawat tempur propeler OV-10 Bronco. Kegiatan berjalan seperti biasa pada hari itu, penerbang Hawk dipersiapkan untuk menggelar Combat Air Patrol (CAP) sebagai inti Operasi Pertahanan Udara “Elang Jaya”. (Dikutip dari Majalah Commando edisi Juli – Agustus 2004)

Dalam flight plan, ditentukan Kapten (Pnb) Azhar Aditama sebagai tactical lead dengan wing man Mayor (Pnb) Henry Alfiandi dan Lettu (Pnb) Anton Mengko. Azhar akan menerbangkan Hawk-209 TT-1207. Sedangkan Henry dan Anton menggunakan Hawk-100 versi tandem TL-0501. Persis pukul 08.45 Wita, mesin kedua pesawat dinyalakan dan segera lepas landas. Pesawat membumbung dengan formasi sejajar (take spread) hingga ketinggian 10.000 kaki, mengarah ke tenggara (225 derajat) menuju batas FIR (flight information region) Darwin. Jarak antar pesawat 1,2 mil.

Hawk 209 TNI AU
Hawk 109 TNI AU

Saat mendekati FIR, Azhar mengontak Satuan Radar (Satrad) 251 yang mengoperasikan radar jenis ground control interception (GCI). Saat Mayor Haposan melaporkan situasi di udara menurut pantauan radar, jam menunjukkan pukul 09.15. Masih dalam posisi sejajar, kedua pesawat terbang menyusuri FIR menuju arah pulau Roti, sekitar 80 mil dari El Tari.

Cepat sekali, mendadak Azhar dikagetkan oleh laporan Haposan. Satrad menangkap dua pesawat tidak dikenal melewati 10 mil dari batas FIR Darwin di ketinggian 8.000 kaki dengan kecepatan 160 knot. Begitu pelannya, Azhar dan rekannya menduga paling helikopter. Jarak antara Hawk dan ‘tamu tak diundang’ 97 mil, dengan heading 108 derajat dari Satrad. “Artinya mengarah ke lurus ke Satrad dari selatan,” jelas Kapten Azhar.

Karena posisinya mencurigakan, Satrad memerintahkan Hawk mendekati target. Hawk naik ke 20.000 kaki dengan terus dipandu oleh radar karena dalam jarak tersebut, radar Hawk belum bisa menangkap posisi target. Radar melaporkan lagi, bahwa jarak mereka mengecil jadi 40 mil. Mungkinkah Hawk di-jamming? Karena makin mencurigakan, Hawk meminta Satrad untuk terus menuntun hingga mendekati sasaran.

Setelah jarak menjadi sangat dekat, 10 mil, naluri tempur Azhar mulai bekerja. Dihidupkannya switch air combat manouver (ACM), agar radar rudal bekerja. Dengan kata lain, disiagakan untuk menembak. Saat itulah, Azhar, Henry dan Anton, dibuat kaget. Kedua pesawat asing tersebut, mendadak meleset dengan kecepatan 670 knot dan terus naik hingga 30.000 kaki. Melihat gelagat begitu, artinya tahu dikejar, mereka langsung bisa menyimpulkan bahwa pesawat diseberang sana adalah pesawat tempur.

Disinilah saat kritisnya. Kedua Hawk terus mengejar dengan kemampuan penuh, sambil terus mengikuti gerakan kedua target. Dengan kata lain, dog fight baru saja digelar di atas Pulau Roti. Sebagai tactical lead, Azhar mempertahankan posisi untuk tetap mengejar (di belakang). Kejar-kejaran berlangsung seru. Sampai akhirnya Hawk mencapai ketinggian lebih 30.000 kaki. Saat itulah, Kapten Azhar melihat dua titik hitam terbang vertikal dengan kecepatan 675 knot. Azhar dan Henry cepat mengambil posisi serang (pesawat kedua pindah ke belakang).

Tiba-tiba GCI memecah lagi ketegangan, “Target di ketinggian 40.000 kaki (sekitar 12,1 Km) berbalik arah menuju Hawk!” Tapi Hawk saat itu di ketinggian 32.000 kaki (sekitar 9,75 Km) dengan posisi nose up. Sesaat lagi, keempat pesawat akan berpapasan. Ketika itulah, Azhar yang mendongakkan kepalanya ke atas melihat pesawat berekor ganda pada jarak 5 mil darinya menyambar ke arah berlawanan. “F-18,” umpat Azhar.

F/A-18 Hornet, lawan tanding Hawk 209 TNI AU, milik Australia kah?

Sebenarnya, saat kejar-kejaran, posisi dua Hawk sudah menguntungkan untuk menembak. Mereka berada tepat di belakang F-18. ACM sudah aktif, satu dari kedua pesawat telah terkunci dalam TD Box (penunjuk posisi target), missile lock on, tone slave. Artinya tinggal menunggu perintah, AIM-9 P-4 Sidewinder akan meleset mengejar target. Tapi komando bawah hanya memerintahkan : bayang-bayangi dan indentifikasi. Menurut Azhar, sepertinya F-18 Australia. Sayang, kedua F-18 sudah keburu kabur menuju FIR Australia. Kedua Hawk pun, memutuskan kembali ke pangkalan. Setelah itu, GCI banyak menangkap pergerakan pesawat di FIR Darwin. Entah ada hubungannya atau tidak, malamnya terjadi peristiwa menjengkelkan. Delapan F-18 terbang melintas di atas Lanud El Tari.

Nah, soal delapan F-18 yang terbang di atas lanud El Tari yang menarik dikupas, bila kedatangan F-18 Hornet siangnya sudah bisa terdeteksi oleh Satrad 251 yang menempatkan unit radanya di daerah Burean, pantai selatan Kupang, maka pada malamnya pun kehadiran pesawat tersebut bisa lebih dulu di deteksi, dan bukan hanya menjengkelkan, tapi juga memalukan, artinya F-18 berhasil masuk ke wilayah daratan RI, ditambah terbang di atas lanud. Meski ada Satrad, sangat disayangkan sebagai pangkalan aju, El Tari tak dilengkapi elemen arhanud, baik berupa rudal darat ke udara atau pun kanon PSU (penangkis serangan udara) DShk.

PSU jenis DShk kaliber 12,7mm milik Paskhas TNI AU, andalan pertahana udara titik jarak dekat.

Padahal bila ditelaah, pada masa itu arhanud RI memiliki deretan penangkis serangan udara yang lumayan ‘bertaring’, sebut saja dari TNI AD ada Rapier, RBS-70, bahkan rudal bopong SA-7 Strela pun sudah kita miliki. Belum lagi, dari unsur armada TNI AL, ada rudal Sea Cat yang bisa dilepas dari frigat Van Speik maupun frigat kelas Tribal. Entah mungkin karena koordinasi di tingkat Kohanudnas yang rumit dan birokratis, alhasil gelar unsur alutsista tak bisa digelar di lokasi tersebut. Kohanudnas merupakan komando utama terpenting dalam kekuatan Markas Besar TNI. Kohanudnas berfungsi sebagai mata dan telinga yang mengawasi berbagai pergerakan pesawat udara yang melintasi wilayah Indonesia.

Panglima Kohanudnas dijabat oleh perwira tinggi dari TNI AU, meski demikian untuk pengoperasian alutsistanya (rudal dan meriam) lebih banyak berada di bawah TNI AD dan TNI AL. Alustsista yang telah di BKO (bawah kendali operasi)-kan ke Kohanudnas, selanjutnya komando dan pengendaliannya berada di tangan Pangkosekhanudnas (Panglima Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional). TNI AU sendiri saat insiden El Tari belum memiliki rudal darat ke udara, TNI AU kala itu masih mengandalkan Triple Gun kaliber 20 mm peninggalan tahun 60-an. Berbeda dengan kondisi saat ini, dimana TNI AU, khususnya Korps Paskhas telah memiliki resimen baterai rudal sendiri yang mengandalkan Portable Combat Radar Vehicle QW-3 berikut rudal panggulnya.

kanon Triple Gun kaliber 20mm, arsenal andalan Paskhas TNI AU untuk pertahanan titik.

Sebuah Teori Insiden El Tari
Pada insiden melintasnya F-18 Hornet di atas lanud El Tari, ada sebuah teori yang mungkin bisa jadi kajian, namun sayang informasi fly pass F-18 Hornet tidak disertai dengan data-data ketinggian pesawat tersebut. Tapi secara logika, bila Hornet melintas dalam rangka pengintaian atau katakanlah provokasi, kemungkinan besar fly pass Hornet dalam ketinggian maksimum. F-18 Hornet secara umum dapat terbang dengan kecepatan 1,7 Mach pada ketinggian 15 Km.

F-117 Nighthawk, jet tempur yang kampiun untuk misi black flight

Bila seandainya Hornet terbang pada ketinggian tersebut, maka bisa dipastikan sistem hanud rudal dan merim PSU TNI tidak akan mampu berbuat banyak. Obyek bisa jadi sudah terindentifikasi satrad 251 yang menggunakan radar CGI/EW dengan kemampuan deteksi 250 mil (sekitar 403 Km), tapi sayang langkah penindakan tak bisa dilakukan. Sebagai ilustrasi, bila Hornet dihadang meriam PSU S-60 kaliber 57 mm TNI AD, jarak jangkau peluru yang bisa dilepas maksimum hanya 6 Km. Andai kata di kawasan El Tari sudah digelar Rapier dan RBS-70, Rapier pun hanya efektif meluncur maksium 6,8 Km dengan ketinggian ‘hanya’ 3 Km. Begitu pun dengan RBS-70 MK-2, rudal portable ini maksimum hanya efektif menjangkau sasaran hingga 7 Km dengan ketinggian ‘hanya’ 4 Km.

Satuan radar 251

Benar atau salah, saya memperkirakan pihak intelijen Australia memang sedari awal sudah mengetahui gelar kekuatan hanud di El Tari, seperti minimnya unsur arhanud hingga keberadaan pesawat-pesawat tempur TNI AU. Sebagai ilustrasi, ketinggian maksimum Hawk 109/209 adalah 13,5 Km. Bila dilihat dari spesifikasi pesawat, jet tempur TNI AU yang ideal menyergap Hornet adalah F-16 Fighting Falcon Skadron 3 di lanud Iswahyudi, Madiun. Tapi secara teori agak sulit untuk mengerahkan F-16, bila yang dihadapi black flight pada jarak sangat jauh.

Tapi lepas dari itu, misi operasi udara di perbatasan bukanlah misi perang, namum misi daman, sehingga tindakan yang bisa diambil maksmimalnya hanya pengusiran dan force down. Walau bila sampai ‘berani’ terbang fly pass di atas lanud, sebenarnya sudah amat kelewatan. Meski ada kemampuan untuk menyergap atau menembak Hornet sekalipun, situasi politik saat itu membuat pemerintah RI dihadapkan pada keputusan yang sulit untuk mengambil tindakan. Di dalam negeri TNI sedang dihujat berkaitan dengan isu pelanggaran hak asasi manusia, sedangkan di luar negeri, Indonesia kala itu tengah dikepung berbagai sanksi dan embargo.

Belum sempat menampilkan taringnya, akibat embargo militer dari AS dan Uni Eropa berdampak keras pada kesiapan alutsista TNI AU. Sebut saja pengiriman Hawk 109/208 sempa tertunda, bahkan pesawat F-16 sempat tidak memiliki cadangan ban, dan para teknisi asal AS ditarik pulang. Untuk jet F-5 pun nasibnya tragis, suku cadang yang jumlahnya sudah minim, beberapa kiriman komponen yang sudah dibeli malah ditahan pengirimannya. Begitu pun dengan proyek refrofit F-5 pun sempat terganggu karena solidaritas Belgia sebagai sesama anggota Uni Eropa. (Haryo Adjie Nogo Seno)

 

Commando Ranger : Ranpur Lapis Baja Andalan Paspampres

Commando Ranger Paspampres dalam sebuah latihan penembakkan

Untuk melindungi orang nomer satu dan orang nomer dua di Republik ini, sudah barang tentu Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) harus dibekali dengan beragam perangkat perlindungan yang memadai. Untuk menunjang misi pengamanan VVIP tersebut, salah satunya dengan kendaraan tempur (ranpur) lapis baja yang dapat digunakan untuk misi evakuasi maupun pengawalan bersenjata.

Tentu ada syarat khusus untuk rampur Paspampres, diantaranya harus punya daya gerak dan mobilitas yang tinggi. Maka tak heran bila Paspampres sejak tahun 80-an mempercayakan Commando Scout dan Commando Ranger untuk misi tersebut. Commando Scout tak lain adalah panser ringan untuk keperluan pengawalan dan intai, sedangkan Commando Ranger merupakan kendaraan lapis baja angkut personel. Baik Commando Scout dan Commando Ranger, merupakan ranpur buatan Cadilage Cage, AS, umumnya dua ranpur ini digunakan secara duet dalam berbagai misi oleh Paspampres, untuk kru operatornya sendiri adalah dari Korps Kavaleri TNI AD.

Dilihat dari bentuknya, Commando Ranger cukup unik, tapi terlihat sangat kaku untuk sebuah kendaran militer. Desainnnya yang ‘kotak’ menjadikan Commando Ranger mudah dikenali, walau saya yakin banyak yang tidak tahu identitas dari ranpur ini. Sebagai ranpur angkut personel (armoured personel carrier), Commando Ranger mengandalkan senjata utama senapan mesin M-60 kaliber 7,62 mm. Meski versi yang dimiliki Indonesia tak dilengkapi kubah, tapi terdapat perisai baja untuk perlindungan juru tembak. Sudut putar senjata ini mencapai 270 derajat, dan untuk memudahkan dalam mengenali sasaran, sebuah lampu sorot juga ditanamkan pada dudukannya.

Commando Ranger Paspampres dalam simulasi latihan anti teror

Commando Ranger diawaki oleh 2 orang, yakni sopir yang merangkan komandan, sedangkan disampingnya adalah asisten penembak atau navigator. Perlu diketahui, sisi depan ranpur ini, atau tepatnya diantara apitan dua kaca anti peluru (depan dashboard), terdapat lubang senjata yang bisa dibuka tutup, hal ini diperlukan bila awak/personel di dalam mobil ingin memberikan bantuan tembakan. Tak cuma disitu, pada tiap-tiap pintu juga terdapat lubang serupa, di sisi kiri ada 2 lubang, sisi kanan2 lubang, dan di pintu belakang juga ada 2 lubang. Untuk personel yang bisa dibawa ranpur ini sebanyak 6 orang bersenjata lengkap.

Menilik dari sejarahnya, Commando Ranger mulai diproduksi pada akhir 1970-an hingga pertengahan tahun 80-an. Rancangan Commando Ranger mengacu pada mobil pick up Dodge 200 atau Dodge Ram. Selain AS, negara pengguna Commando Ranger diantaranya Indonesia, Filipina, dan Luxembourgh. Menurut informasi dari Wikipedia.com, Indonesia memiliki 22 unit Commando Ranger.

Dalam operasionalnya, ranpur ini lebih banyak ditugaskan untuk menjaga obyek-obyek yang sedang dihuni atau disinggahi oleh kepala negara. Tak heran bila Commando Ranger dan Commando Scout kerap nongkrong di sekitar kediaman Presiden/Walkil Presiden, juga saat Sidang Umum di DPR/MPR, ranpur ini kerap disiagakan di Senayan.

Tampilan 3 dimensi Commando Ranger
Tampak samping
Commando Ranger versi Ambulance

Mesin ranpur ini menggunakan jenis Mopar dengan bahan bakar bensir, sayang tidak diketahui lebih detail tentang kemampuan mesinnya. Sekelumit bisa digambarkan, kecepatan maksimum mampu dikebut hingga 113 Km per jam, dan jarak tempuh bisa mencapai 482 Km. Sebagai bentuk perlindungan, selain kaca yang anti peluru, ketebalan bajanya mencapai 7 mm. Sebagai ranpur, awalnya Commando Ranger mengusung jenis ban run flat, tujuannya agar tahan jika dihujani peluru, tapi karena mengganggu mobilitas, pasalnya ranpur ini di AS kerap dibawa ngebut diatas 50 Km per jam, sehingga kurang pas memakai run flat, maka digantilah tipe ban dengan jenis tubeless pneumatic.

Meski Paspampres kini dilengkapi dengan panser Anoa buatan Pindad, tapi Commando Ranger nyatanya masih tetap eksis digunakan, bahkan setelah usianya mencapai 3 dekade. Perlu diketahui, meski berpenggerak roda four wheel drive alias 4×4, tapi Commando Ranger tidak dirancang untuk melahap medan off road. Dan ranpur ini tidak punya kemampuan berenang di air.

Tampilan depan Commando Ranger, tampak penutup untuk lubang penembakkan diantara dua kaca anti peluru

Commando Ranger lengkap dengan perisai baja untuk pelindung juru tembak

Digunakan oleh Tim SWAT
Ranpur ini kerap tampil di beberapa sekuel film Hollywood, salah satunya di Lethal Weapon (yang keberapanya saya lupa). Commando Ranger di AS memang saat ini masih dipercaya oleh pihak kepolisian sebagai saran serbu bagi tim SWAT (special weapon and tactics). Bahkan kini, Commando Ranger sudah di upgrade versinya menjadi Peacekeeper II, kendaraan serbu yang serupa tapi mengambil chasis Ford-F350. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Commando Ranger milik polisi Filipina
Dipandang pas untuk misi anti teror, hingga kini Commando Ranger terus dipercaya oleh Tim SWAT, salah satunya dari Metro Nashville

Spesifikasi Commando Ranger
Buatan : Amerika Serikat
Pabrik : Cadilage Cage
Awak+personel : 2+6
Mesin : Mopar (cc..?)
Kecepatan max : 113 km/jam
Jarak tempuh : 482 km
Senjata : M-60 kaliber 7,62 mm

Ironis, Tiga Dekade TNI AU Hanya Bersandar Pada Sidewinder

F-16 Skadron 3 TNI AU dengan rudal AIM-9 P4 Sidewinder

Bila dicermati, sudah tiga dekade lebih sistem senjata pada pesawat tempur TNI AU bertumpu pada rudal Sidewinder. Semenjak hadirnya F-5 E/F Tiger II pada awal tahun 80-an, hingga kini TNI AU hanya menyandarkan pada kemampuan Sidewinder sebagai rudal udara ke udara. Versi Sidewinder tercanggih yang dimiliki TNI AU adalah AIM-9 P4 yang bisa menghantam target dari beragam sudut. AIM-9 P4 dipasang oleh TNI AU pada pesawat F-16 dan Hawk 100/200.

Dari analisa kekuatan di kawasan regional Asia Tenggara, AIM-9 P4 boleh jadi masih cukup mumpuni untuk eskalasi pertempuran terbatas. Tapi harus diperhitungkan bila yang dihadapi misalnya Australia atau Singapura, yang mempunyai rudal udara ke udara kelas menengah, seperti Sparrow dan AMRAAM, yang masing-masing punya jangkauan tembak 70 Km dan 110 Km. Perlu dicatat, Sidewinder adalah rudal pengejar panas untuk target jarak dekat, dan terkenal afdol dalam dog fight.

Sedangkan belajar dari perang Teluk, konsep pertempuran udara sudah bergeser, berkat kecanggihan sistem deteksi radar pada pesawat, serta dukungan rudal jarak menengah/jauh, target bisa dihajar pada posisi lintas cakrawala, alias antar pilot pun tak mengetahui sosok pesawat lawan secara langsung. Inilah yang harus dipertimbangkan secara cermat, semoga saja generasi Sukhoi Su-27/Su-30 TNI AU nantinya akan dilengkapi rudal yang setara dengan AIM-7 Sparrow atau AIM-120 AMRAAM. Hal ini penting untuk dicatat dan didengar oleh parlemen di DPR RI, mengingat Singapura dan Malaysia sudah membekali jet tempurnya dengan rudal Sparrow  dan AMRAAM.

Sukhoi Su-27 Skadron 11 TNI AU, kita berharap agar jet tempur ini segera dilengkapi dengan rudal yang mumpuni.

Mungkin karena alasan politis yang bertele-tele dan anggaran yang ngepas, tak usahlah melirik rudal buatan AS, sebagai opsi TNI AU bisa membeli Vympel R-77/R-27, rudal jarak menengah berjangkauan 80 – 175 Km yang dirancang sebagai persenjataan untuk Sukhoi. Kita semua yakin, kemampuan pilot tempur TNI AU tak kalah cakap dengan pilot dari Negeri Jiran, namun terlepas dari olah ketrampilan tempur di udara, semuanya akan jadi sia-sia bila arsenal persenjataan yang melengkapi jet tempur TNI AU tidak disesuaikan dengan kondisi tantangan yang ada di kawasan. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Westland Wasp : Legenda Heli AKS TNI AL

Westland Wasp TNI AL kini menjadi monumen di Surabaya

Bila merujuk pada kuantitas kapal perang yang dimiliki, boleh disebut TNI AL merupakan angkatan laut terbesar yang ada di kawasan ASEAN. Tapi terbesar belum tentu jadi yang terkuat, perihal yang terkuat masih harus dikalkulasi ulang, terutama bila dilihat dari perspektif jenis dan teknologi alutsista yang dimiliki oleh AL Singapura dan AL Malaysia.

Untuk segmen rudal anti kapal, TNI AL kini memang menjadi ‘raja’ di ASEAN dengan mengadopsi Yakhont sebagai rudal jelajah dengan jangkauan hingga 300Km. Bagaimana dengan segmen yang lain? Di lini kapal selam misalnya, Korps Hiu Kencana TNI AL tak terbantahkan menjadi operator kapal selam pertama di Asia Tenggara, tapi faktanya kini? Dari segi kuantitas dan teknologi, kapal selam TNI AL sudah tertinggal dari milik Singapura dan Malaysia. Semoga saja pesanan kapal selam terbaru untuk TNI AL dari Rusia dan Korea Selatan tidak terkendala lagi kedatangannya.

Lalu dengan merajalelanya kekuatan kapal selam di ASEAN, apakah TNI AL memiliki armada anti kapal selam (AKS)/anti submarine warfare (ASW)? Jawabannya punya, tapi itu duluu.., persisnya pada awal tahun 60-an, Penerbal (Pusat Penerbangan TNI AL) memiliki pesawat pemburu kapal selam. Pesawat yang dimaksud adalah Fairey Gannet. Pesawat ini sangat khas, pertama karena sosoknya yang terlihat tambun dan kedua, Gannet punya dua bilah baling-baling yang sejajar di bagian hidung. Dua bilah baling-baling ini berputar saling berlawanan arah.

Gannet, menjadi legenda pemburu kapal selam Penerbal TNI AL

Masuknya pesawat AKS jenis Gannet ke jajaran TNI-AL diawali dengan kontrak pembelian pesawat Gannet tipe AS-4 dan T-5 oleh KSAL dengan pihak Fairey Aviation Ltd (Inggris) pada tanggal 27 Januari 1959 di Jakarta. Untuk ’mengganyang’ kapal selam musuh, Gannet dibekali kemampuan membawa dua unit torpedo yang ditempatkan dalam bomb bay. Serta tak ketinggalan peluncur roket dibawah kedua sayap. Di periode yang sama, Penerbal juga pernah memiliki heli AKS Mi-4 yang masuk dalam skadron 400. Tapi informasi diatas tentu hanya bicara dalam konteks masa laloe. Nah, bagaimana kondisi saat ini?

Wasp Dalam Kenangan
Sejak NKRI berdiri, TNI AL sejatinya baru mengopersikan 2 tipe heli AKS, yakni Mi-4 dan Westland Wasp HAS MK.1 . Dan Wasp-lah sosok heli ringan yang menjadi kepanjangan mata dan kekutan penghancur kapal selam pada frigat-frigat TNI AL di dasawarsa 80 dan 90-an.

Wasp adalah heli yang dirancang ideal untuk diopersikan dari atas geladak frigat, meski dibuat oleh Westland Helicopter yang merupakan perusahaan Inggris, Wasp yang digunakan oleh TNI AL merupakan bekas pakai dari AL Belanda. Jumlah yang dibeli sebanyak 10 unit, dan sejatinya merupakan paket dalam pembelian frigat kelas Tribal dari Inggris, dan frigat kelas Van Speijk dari Belanda. Karena dibeli second dan masuk dalam sistem paket, Wasp dihargai cukup murah, yakni US$75.000 per heli.

Ruang kokpit Wasp

Ada beberapa hal yang unik dari heli ini, Wasp dibuat dengan empat roda yang bisa bergerak kesegala arah, ini memudahkan dalam pengaturannya di helipad dan hangar pada frigat yang luasnya terbatas. Untuk memudahkan mobilitas, saat akan dimasukkan ke dalam hangar, selain baling-baling yang bisa dilipat, ekor heli pun juga bisa ditekuk, sehingga bisa memaksimalkan ruang yang ada di hangar. Ekor lipat inilah yang menjadi ciri khas sejati untuk kebutuhan AL, tidak seperti heli Bo-105 dan Nbell-412 yang aslinya tak dirancang untuk pengoperasian di frigat.

Tampilan 3 dimensi Westland Wasp
Tak cuma baling-baling, bagian ekor pun bisa dilipat, ciri khas heli untuk AL
Ciri khas Wasp, bagian mesin dibiarkan terbuka

Secara kasat mata, penempatan mesin heli ini pun sangat menarik perhatian, sebab mesin dibiarkan terbuka tanpa penutup. Desain mesin terbuka tentu cukup memudahkan dalam perawatan, tapi jadi elemen yang melemahkan dari sisi perlindungan, semisal bila heli diberondong tembakan, bisa fatal akibatnya. Karena dirancang untuk ‘hidup’ di lautan, heli ini pun dilengkapi pelampung yang dapat mengembang bila terjadi crash, letak pelampung ini terdapat pada besi penyangga, persisi disisi kiri dan kanan mesin.

Menilik dari sejarahnya, prototipe heli ini mulali meluncur dengan kode Saro P.531 pada 20 Juli 1958. Dan mulai terbang perdana pada 1962 untuk mengisi kebutuhan Royal Navy dan Royal Army. Khusus untuk versi Royal Army, disebut sebagai Westland Scout, bedanya terletak dengan tidak digunakannya roda. Meski menyandang tugas sebagai pemburu kapal selam, perangkat avionik heli ini terbilang kuno, dimana belum dibekali radar, dan sonobuoy. Sebagai informasi, sonobuoy merupakan perangkat sonar yang dicelupkan ke dalam air, gunanya untuk mendeteksi letak dan posisi kapal selam musuh.

Pelepasan Sonobuoy dari helikopter
Wasp milik AL Selandia Baru, nampak membawa torpedo MK46

Meski kelengkapannya serba terbatas, di era 60 dan 70-an Wasp cukup diandalkan oleh NATO, lantaran heli ini sanggup menggotong 2 torpedo MK44, atau 1 torpedo MK46, atau 2 bom laut MK44, bahkan secara teori bisa menggendong bom laut dengan hulu ledak nuklir. Untuk misi serangan ke permukaan, Wasp juga bisa dibekali 4 rudal SS1 atau 2 rudal AS12. Untuk kelengkapan pertahanan diri, Wasp juga dapat dipasangi GPMG (general purpose machine gun) 7,6mm, dan flares.

Dalam event Pameran ABRI di tahun 1995, Wasp TNI AL bahkan pernah dipamerkan dengan kelengkapan penuh, selain Torpedo MK46, juga diperlihatkan beberapa perangkat yang bisa dipasang untuk misi SAR di lautan.

Wasp milik AL Afrika Selatan tengah melakukan misi SAR/evakuasi di laut

Untuk menjalankan misinya, Wasp diawaki oleh seorang pilot dan seorang aircrew yang juga berperan sebagai navigator untuk pelepasan senjata. Untuk kapasitas angkutnya, di bagian belakang, heli ini dapat memuat 3-4 orang penumpang. Untuk melayani misi tempur dan patroli, Wasp ditenagai oleh sebuah mesin Rolls-Royce Nimbus 103 turboshaft, mesin ini dapat menghantarkan Wasp hingga kecepatan maksimum 193Km per jam, serta jangkauan terbang sampai 488Km.

Dipakai Juga Oleh Malaysia
Wasp nyatanya cukup laku juga dipasaran, heli ini telah diproksi sebanyak 133 unit, 10 diantaranya dioperasikan TNI AL. Selain Inggris dan Indonesia, negara pengguna Wasp adalah Belanda, Brazil, Selandia Baru, Afrika Selatan, dan Malaysia. Ya, AL Malaysia (TLDM/Tentara Laut Diraja Malaysia) jadi satu-satunya pengguna Wasp di Asia selain Indonesia. Baik TNI AL dan TLDM, sejak tahun 2000 tidak lagi mengoperasikan Wasp.

Inilah Wasp milik TLDM, kini nasibnya juga menjadi monumen.
Heli Super Lynx milik AL Malaysia, lengkap dengan 4 unit rudal Sea Skua. Heli jenis inilah yang beberapa waktu lalu sempat menyergap kapal patroli Bea Cukai RI di wilayah perbatasan.

Hanya bedanya, TLDM diberkahi jalan keluar dengan membeli Super Lynx MK100, heli yang juga buatan Westland ini terbilang yang paling canggih untuk misi AKS. Malaysia tercatat punya 6 unit Super Lynx yang dibekali rudal anti kapal Sea Skua, bom laut dan torpedo. Tak itu saja, untuk misi pengintaian, TLDM juga mengoperasikan heli AS550 Fennec buatan Eurocopter.

AL Singapura justru lebih sangar lagi, sejak tahun 2005 telah memiliki S70 Sea Hawk (varian SH-60 Sea Hawk). Heli super canggih ini dimiliki sebanyak 6 unit dan siaga tempur on board pada frigat kelas Formidable yang berkemampuan stealth. Belum lagi Negeri Pulau ini punya Fokker-F50, sebagai pesawat intai maritim yang dapat dipersenjatai rudal Harpoon dan torpedo.

Singapura telah melangkah jauh dengan menggunakan varian Sea Hawk, salah satu heli AKS tercanggih di dunia saat ini.

TNI AL Pasca Wasp
Pasca ‘ditinggal’ Wasp, sayangnya TNI AL tidak punya heli pengganti yang berkualifikasi Wasp. Sejak 10 tahun ini sandaran kekuatan Penerbal hanya berkutat pada heli Bo-105, Nbell-412, dan Super Puma. Yang walaupun dipersenjatai pun, bukan untuk misi AKS, biasanya sekedar dipasangi GPMG dan roket untuk misi melawan terorisme di laut.

Dengan wilayah laut yang begitu luas, ironis bagi kekuatan angkatan laut Indonesia yang saat ini tak memiliki satuan pesawat AKS. Walau ada Boeing 737 surveillance TNI AU, N22 Nomad dan CN-235 MPA (maritim patrol aircraft), kedua pesawat tadi hanya sebatas mampu melakukan fungsi pengintaian, tanpa bisa melakukan aksi tindakan bila ada ancaman kapal selam. Maklum Boeing 737, Nomad dan CN-235 MPA tidak dibekali senjata ke permukaan.

Wasp dengan frigat Van Speijk tengah bertarung dengan ganasnya gelombang laut.

Pastinya TNI AL sadar akan perlunya heli AKS, dikutip dari Tribun-news.com (26/2/2012), KSAL Laksamana TNI Soeparno mengatakan, kebutuhan heli dan pesawat Patmar adalah tuntutan, terutama Helikopter yang memiliki kemampuan AKS. Dan sesuai anggaran pengadaan 2010-2014, ditargetkan TNI AL dapat memiliki setidaknya 10 heli berkemampuan AKS. Kandidat heli AKS untuk TNI AL pun sudah banyak diperbincangkan. Westland Super Lynx, sebagai ‘saudara kandung’ Wasp juga santer disebut-sebut, pasanya heli ini pernah melakukan demo terbang di Indonesia. Dari segi kecanggihan tak usah ditanya, tapi sayang harga heli dan biaya operasi yang mahal membuat Super Lynx tergeser dari bursa.

Kandidat masih banyak dipasaran, baik heli AKS dari Eropa dan Rusia, tapi nyatanya pemerintah telah kepincut dengan sosok heli SH2G Seasprite buatan Kaman Helicopters. Heli ini terbilang punya reputasi yang tinggi. Menurut kabar, 6 heli Sea Sprite akan dibekali kemampuan AKS, sedangkan 5 sisanya akan dilengkapi dengan persenjataan anti kapal permukaan.

Seasprite milik AL Australia, tipe inilah yang bakal menjadi armada heli AKS TNI AL.

Selain radar deteksi, pesawat ini juga akan dilengkapi dengan kemampuan untuk melakukan penindakan. “Rencananya pada 2012 pengadaannya,” ujarnya. Sekretaris Komite Kebijakan Industri Pertahanan Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan, pengadaan CN-235 untuk MPA TNI AL masuk dalam prioritas alutsista TNI.

Lepas dari sosok Seasprite, tapi faktanya heli yang akan dibeli TNI AL ini justru sudah tak dipakai lagi oleh AL AS (US Navy) dan AL Australia. Kedua AL tersebut, dan juga AL Singapura kini mempercayakan peran AKS pada heli Sikorsky SH-60 Sea Hawk. Ada informasi yang menyebutkan, Australia tak betah memakai Seasprite lantaran seringnya terjadi kerusakan pada heli ini. Mudah-mudahan bagi TNI AL Seasprite adalah pilihan yang tepat sebagai pengganti Wasp. Selain isu teknis, sudah selayaknya pemerintah Indonesia juga mempertimbangkan trauma saat mengalami embargo dikala terjadinya tekanan politis dari AS. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi Wasp HAS Mk.1
Pabrik : Westland Helicopters, UK.
Kru : 2 orang (pilot dan aircrew)
Kapasitas : 3-4 penumpang
Panjang : 12,30 meter (termasuk rotor)
Diameter rotor : 9,83 meter
Tinggi : 2,72 meter
Berat kosong : 1,569 kg
Berat Max : 2,500 Kg
Mesin : 1 × Rolls-Royce Nimbus 103 turboshaft
Kecepatan maksimum : 193 Km/jam
Kecepatan jelajah : 177 Km/jam
Kecepatan menanjak : 7,3 meter/detik
Jangkauan terbang : 488 Km

Indonesian Missile – Perisai Angkasa Nusantara

Dengan pudarnya dominasi rudal di Indonesia, tentu ada perhitungan sendiri, di bawah panji kestabilan ekonomi dan membina hubungan yang baik di kawasan, pada era Soeharto pengembangan rudal mulai berjalan, walau sangat lamban, bahkan secara de facto etalase rudal Indonesia sudah tertinggal dari Singapura dan Malaysia.

Tapi harus diakui, tak serta merta sistem rudal Indonesia tertinggal secara keseluruhan, di lini rudal anti kapal, terlihat pemerintah sangat serius untuk memperkuat beragam rudal anti kapal, sebagai bukti adalah Yakhont, yang kini menjadi lambang supremasi alutsista Indonesia.

Khusus pada era orba, pemerintah nampak kurang mempersiapkan militer seumpama menghadapi konflik terbuka antar negara tetangga, berkat sosok Soeharto yang sangat disegani sebagai pemimpin pemerintahan paling senior di ASEAN, beragam alutsista di per-modern, tapi sayangnya dengan kuantitas yang serba minim. Tapi fakta kini berbicara lain, musim telah berganti, era baru pun harus disikapi secara tepat tanpa harus berlebihan. Dengan segala intrik dan konflik di seputar perbatasan, potensi munculnya perang antara negara bertetangga bisa saja meletus di masa mendatang.

Tanpa bermaksud mengharap datangnya peperangan, tapi diyakini, seandainya terjadi duel antara militer Indonesia dan Malaysia, beberapa lakon dalam pertempuran akan memunculkan nama Sidewinder, Maverick, Exocet, atau bisa jadi Yakhont. Uniknya antar negara tetangga di ASEAN, termasuk Malaysia dan Singapura, mempunyai karakter dan jenis alutsista yang serupa. Sebut saja seperti rudal Maverick, Sidewinder, RBS-70, dan Rapier dimiliki oleh Indonesia, Malaysia dan Singapura.

Inilah yang menarik untuk dicermati, konflik di masa mendatang akan terkait dengan teknologi tinggi, dan bisa dipastikan rudal akan selalu kebagian peran strategis yang menentukkan. Dalam buku “Indonesian Missile, Perisai Angkasa Nusantara” untuk pertama kalinya dibahas tentang sepak terjang dan etalase rudal yang dahulu dan kini memperkuat TNI.

Informasi Buku
Judul  : Indonesian Missile, Perisai Angkasa Nusantara
Penulis  : Haryo Adjie Nogo Seno
Penerbit : Matapadi Pressindo
Hal : xii+158
Harga : Rp45.000
Note : Tersedia di Toko Buku Gramedia

 

 

Torpedo SAET-50 : Senjata Pamungkas Korps Hiu Kencana Era-60an

Bagi Anda pemerhati bidang kemiliteran, pastinya telah mengenal identitas Whiskey class, ya ini lah jenis kapal selam yang memperkuat arsenal kekuatan Korps Hiu Kencana TNI AL di dasawarsa tahun 60-an. Seperti diketahui, ada 12 kapal selam kelas Whiskey yang sempat dimiliki Indonesia, dan kehadirannya saat itu dimaksudkan sebagai salah satu elemen penggetar dalam operasi Trikora, merebut Irian Jaya dari tangan Belanda.

Seperti banyak ditulis dalam berbagai literatur, keberadaan kapal selam bagi sebuah negara merupakan komponen yang strategis. Beragam fungsi bisa diemban dari adanya kapal selam, mulai dari patroli, intai maritim, penyusupan, hingga perang bawah/atas permukaan laut. Untuk yang terakhir disebut, perang bawah/atas permukaan laut, tentunya bisa berjalan bila kapal selam ditunjang dengan persenjataan yang memadai. Bicara soal senjata kapal selam, jelas yang utama dan tak tergantikan adalah torpedo, setelah itu baru bisa disebut ranjau laut, rudal anti kapal, dan sebagainya.

Sosok torpedo SAET-50 di museum AL Rusia
Tampilan baling-baling pada SAET-50

Nah, guna menapaki sejarah kejayaan militer Indonesia di masa lalu, TNI AL kala itu juga sudah memiliki jenis torpedo yang terbilang canggih pada masanya. Jenis torpedo tersebut adalah SAET (Samonavodiashaiasia Akustisticheskaia Elektricheskaia Torpeda)-50, sebuah torpedo jenis homing akustik yang ditenagai dengan teknologi elektrik. Kecanggihan SAET-50 yakni saat diluncurkan dapat langsung mencari sasaran sendiri (fire and forget) berdasarkan suara baling-baling atau material magnetik yang dipancarkan oleh badan kapal target. Yang cukup menakutkan bagi armada kapal perang Belanda, hulu ledaknya mencapai berat 375 Kg, dan teknologi homing akustik pasif torpedo ini dapat mengendus sasaran mulai dari jarak 600-800 meter.

Selain negara-negara anggota Pakta Warsawa, Indonesia menjadi pengguna pertama, dan yang pasti di Asia baru Indonesia lah yang memiliki torpedo maut ini. Tentu ada udang dibalik batu atas kedatangan torpedo ini, Uni Soviet tentu berharap kinerja SAET-50 dapat dijajal dalam operasi tempur yang sesungguhnya. Operasi Trikora bisa menjadi kampanye keunggulan militer Uni Soviet melawan kubu Blok Barat yang diwakili oleh Belanda.

Jenis torpedo Whiskey Class di Museum Satria Mandala
Sosok torpedo di kompartemen Monkasel KRI Pasopati, Surabaya

Sayangnya, kesaktian SAET-50 tidak pernah dibuktikan untuk menghantam armada kapal Belanda. Karena beragam kepentingan, versi torpedo ini kemudian juga diadaptasi oleh Cina secara lisensi. Dan jadilah torpedo berdiameter 533mm ini dengan versi buatan Cina yang diberi kode Yu-3/Yu-4A dan Yu-4B. Ada beberapa pengembangan yang dilakukan oleh Cina, dimana versi torpedo ini dibuat bukan hanya dalam versi akustik pasif, tapi juga akustik aktif, yakni memancarkan gelombang untuk mencari pantulan dari logam di kapal target. Cina sendiri terus memproduksi torpedo yang berasal dari platform SAET-50 hingga 1987.

SAET-50 versi Cina (Yu-4)
Tabung peluncur torpedo di buritan KRI Pasopati

Tidak ada informasi, berapa unit torpedo SAET-50 yang sempat dimiliki TNI-AL. Secara umum SAET-50 produksi Uni Soviet terbagi dalam dua versi, yakni SAET-50 (digunakan mulai tahun 1950) dan SAET-50M (digunakan mulai tahun 1955). Tidak diketahui jenis mana yang dipunyai oleh TNI AL. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah spesifikasi torpedo SAET-50. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi Torpedo SAET-50
Diameter : 533 mm
Berat : 1.650 Kg
Panjang : 7,45 m
Berat Hulu Ledak : 375 Kg
Jangkauan : SAET-50 – 4 Km/SAET-50M – 6 Km
Kecepatan : SAET-50 – 23 knots/ SAET-50M – 29 knots
Sumber Tenaga : Lead Acic Battery

KRI Ratulangi : Induk Semang Kapal Selam TNI AL

KRI (RI) Ratulangi

Sebagian besar dari kita mungkin sudah mahfum dengan nama KRI Irian, sosok kapal penjelajah pertama dan terakhir yang pernah dimiliki TNI AL pada era orde lama. Tapi untuk segmen kapal permukaan, sebenarnya ada beberapa nama kapal perang TNI AL lainnya yang juga fenomenal di masa tersebut. Sebut saja salah satunya adalah KRI Ratulangi (RLI), kapal yang disebut kapal tender kapal selam ini punya peran penting pada masa operasi Trikora sampai operasi Seroja di tahun 70-an.

KRI Ratulangi adalah alutsista yang khas di era tersebut, pasalnya peran kapal ini begitu vital sebagai kapal induknya armada kapal selam TNI AL yang saat itu memiliki 12 kapal selam kelas Whiskey buatan Uni Soviet. KRI Ratulangi adalah jenis kapal perang atas air yang berfungsi sebagai pendukung dan pengendali operasi taktis kapal-kapal selam. Keberadaan jenis kapal ini diperlukan untuk menyuplai logistik, merawat, dan memperbaiki peralatan kapal, serta melakukan tindakan medis. Dan karena desain kapal selam kelas Whiskey yang kurang nyaman dan ergonomis untuk awaknya, maka KRI Ratulangi juga dimanfaatkan para awak kapal selam untuk beristirahat selama sedang tidak aktif.

Logistik yang dapat diberikan kepada kapal selam dari KRI Ratulangi adalah logistik cair seperti bahan bakar, pelumas, air suling untuk elektrolit baterai, dan air minum. Logistik padat berupa bahan makanan untuk awak kapal dan suku cadang kapal. Dan tak ketinggalan beban berupa logistik tempur berupa torpedo, ranjau dan amunisi lainnya. Terkait torpedo, yang dibawa kapal tender ini bukan sembarangan, yakni torpedo kendali bertenaga listrik tipe SAET-50.

Torpedo SAET-50 yang dimuat pada kapal tender kapal selam

Torpedo SAET-50 adalah senjata bawah laut paling mematikan milik Soviet saat itu, setelah diluncurkan torpedo ini dapat langsung mencari sasaran sendiri (fire and forget) berdasarkan suara baling-baling kapal atau magnetik badan kapal tersebut. Torpedo jenis ini bisa berada di tangan Indonesia dengan harapan kinerjanya dapat dijajal dalam operasi Trikora, sehingga merupakan poin penting bagi kampanye militer Uni Soviet.

KRI Ratulangi merupakan kapal tender kelas Don buatan Uni Soviet. Bobot kapal ini mencapai 6.800 ton dalam kondisi standar dan 9.000 ton pada kondisi muatan penuh. Don class mulai diproduksi pada periode tahun 1958 – 1961. Untuk keperluan Angkatan Laut Uni Soviet, kapal Tender jenis Don ini diprodukksi sebanyak 7 unit, dan 1 unit diproduksi untuk digunakan oleh TNI AL (ALRI).

Armada Whiskey class TNI AL, kemungkinan tengah merapat di kapal tender

Dalam operasinya, KRI Ratulangi dapat melayani 6 kapal selam sekaligus, selain berupa pasokan aneka logistik, kapal tender ini juga dapat melakukan pengisian tenaga listrik untuk baterai kapal selam yang sedang bersandar, sebab KRI Ratulangi memiliki generator untuk keperluan tersebut. Sebagai kapal dengan bobot yang cukup besar, KRI Ratulangi juga memiliki beragam fasilitas kesehetan umum dan rawat gigi untuk para awak kapal selam.

Salah satu yang unik dari kapal ini adalah geladaknya yang cukup luas dan dilapisi papan dari kayu, sehingga memberi kenyamanan, baik bagi pejalan di atas geladak maupun kesejukan di ruang bawah geladak. Seperti diketahui, kayu adalah isolator panas yang baik sekaligus peredam getaran dan tidak licin.

Mesin
KRI Ratulangi ditenagai mesin diesel listrik, denga diesel listrik olah gerak kapal ini menjadi lebih lincah dan efektif. Diesel utama memutar generator, dan generator menghasilkan tenaga listrik. Tenaga listrik memutar elektro motor, dan selanjutnya elektro motor memutar poros baling-baling yang ujungnya terpasang daun baling-baling. KRI Ratulangi memiliki dua poros baling-baling yang memutar pada sisi kanan dan kiri.

Desain
Dibanding jenis kapal perang pada umumnya, desain KRI Ratulangi terbilang lebih mirip kapal penumpang, sebab lambung kapal dibuat tinggi dengan banyak jendela kedap. Adanya fasilitas bengkel dan gudang menjadikan kapal ini layaknya depot. Sebagai induk semangnya kapal selam, pada ujung haluan terdapat sebuah katrol berukuran besar dengan daya angkat sampai 300 ton. Katrol ini diperlukan untuk perbaikan baling-baling dan sistem poros kapal selam dengan jalan menggulingkan kapal selam kedepan, sehingga baling-baling mencuat ke permukaan.

Tampilan bagian buritan Don class submarine tander milik AL Uni Soviet

Persenjataan
Kapal perang dengan awak 300 personel ini dilengkapi dengan aneka persenjataan yang membuatnya setara dengan destroyer. Dalam catatan sejarah, KRI Ratulangi memiliki 4 pucuk meriam kaliber 100mm dalam kubah meriam tunggal, dan 8 pucuk meriam kaliber 57mm berada dalam 4 menara meriam berlaras kembar. Dan untuk melibas kapal selam lawan, kapal tender ini juga dapat menyebar ranjau laut.

Ikhwal Kedatangan KRI Ratulangi
Kedatangan KRI Ratulangi merupakan bagian dari paket pembelian 12 kapal selam oleh misi Nasution I, dalam paket pembelian disebutkan Indonesia akan menerima 2 kapal tender kapal selam. Ini artinya KRI Ratulangi punya ‘saudara’ dalam penusannya, yakni KRI Thamrin (THR). Baik KRI Ratulangi dan KRI Thamrin tiba di Indonesia ketika konflik Irian Barat hampir rampung, sehingga belum sempatt unjuk gigi kepada Belanda.

Uni Soviet masih menggunakan Don Class hingga tahun 1998

Kedua kapal tender ini nyatanya baru berperan penuh saat Indonesia terlibat konfrontasi dengan Malaysia. Bahkan KRI Ratulangi dikabarkan masih beroperasi dan aktif hingga tahun 1980-an, meskipun fungsinya telah berubah dari kapal tender menjadi kapal tempur/kapal markas. Ini tak lain berkat merian-meriam kaliber 100mm di geladaknya.

Saat memasuki order baru, Indonesia terkena embargo militer dari Uni Soviet, kiprah KRI Ratulangi terbukti tetap berkibar. Dengan pola kanibalisasi suku cadang dari jenis kapal perang lain, Ratulangi masih dapat mengemban beberapa misi tempur, terutama pada operasi Seroja di tahun 70-an. Di Uni Soviet sendiri, kapal tender kelas Don ini masih digunakan sampai tahun 1998. Artinya bila suku cadang tersedia, sebenarnya kapal jenis ini masih diperlukan, apalagi bila Indonesia berniat punya kapal selam dalam jumlah lebih dari 2 unit seperti saat ini.

KRI Thamrin Yang Misterius
Bila KRI Ratulangi punya catatan sejarah yang cukup lengkap, maka lain hal dengan KRI Thamrin. Jejak KRI Thamrin agak sulit ditelusuri, antara KRI Ratulangi dan Thamrin meski sama-sama kapal tender, tapi berangkat dari kelas yang berbeda. KRI Thamrin berasal dari kelas Atrek dan berpenggerak mesin turbin uap. Tidak jelas bagaimana riwayat kapal ini, dan kisah-kisah yang menyertainya.

Sosok KRI (RI) Thamrin, kapal tender TNI AL yang misterius

Terkait nomer lambung kapal juga ada yang unik dari keberadaan kapal tender milik TNI AL, mungkin karena dianggap bagian dari Satsel (satuan kapal selam), diketahui KRI Ratulangi memiliki nomer lambung 400, tapi dalam beberapa literatur juga terlihat nomer lambung kapal ini adalah 4101. Bahkan ada foto yang tak terbantahkan, bila nomer lambung KRI Ratulangi adalah 552. Mana yang benar, mungkin pihak TNI AL bisa memberikan informasi lebih lanjut.

Satu hal lagi, tidak jelas pula bagaimana nasib akhir KRI Ratulangi, apakah kapal tender tersebut berakhir sebagai besi tua, atau dijadikan sasaran latihan tembak. Mungkin ada dari Anda yang punya kisah lanjutannnya? Monggo kita saling berbagi.. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi KRI Ratulangi
Pabrik : Nikolayev shipyard
Dimensi : 140 x 17,7 x 6,4 m
Berat Standar : 6.800 ton
Berat Penuh : 9.000 ton
Awak : 300 – 450 orang
Jarak Jelajah : 21.000 Km pada kecepatan 10 knot
Kecepatan max : 17 knot
Fasilitas Sensor : Radar Hawk Screech, Slim Net, 2 x Watch Dog ECM system dan Vee Cone Communication System.
Persenjataan : 4 – 100mm guns (4×1), 4 – 57mm guns
Lama berlayar tanpa bekal ulang : 40 hari
Kapasitas Torpedo : 42 torpedoes 533 mm

KS Type 206 : Nyaris Jadi Arsenal Korps Hiu Kencana TNI AL

Suatu hari di tahun 1997, pada acara “Dunia Dalam Berita” di TVRI, diwartakan bahwa TNI AL akan kedatangan armada kapal selam (KS) jenis baru, melengkapi 2 unit yang sudah ada sejak awal tahun 80-an. Tak tanggung-tanggung, disebutkan TNI AL langsung menambah 5 unit kapal selam. Kala itu, berita pengadaan kapal selam cukup mengagetkan, walau beritanya tak heboh, tapi pengadaan langsung 5 unit adalah ‘prestasi’ di saat itu, pasalnya selain pemerintah harus siapkan budget besar, juga TNI AL harus menyiapkan awak dalam jumlah yang ideal.

Tapi ibarat untung tak dapat diraih, krisis ekonomi (krismon) yang mendera Republik ini terbilang dahsyat, selain akhirnya mampu menjungkirkan kekuasaan Soeharto, paket pengadaan 5 unit kapal selam dari Jerman pun ikut kandas. Padahal 5 unit kapal selam tadi sudah setengah sah jadi arsenal TNI AL, dalam siaran TV bahkan diperlihatkan kapal selam yang diketahui dari Type 206 sudah memakai nomer lambung 403, 404, 405, 406, dan 407. Masing-masing pun sudah dinamai, yakni KRNI Nagarangsang (eks U-13), KRI Nagabanda (eks U-14), KRI Bramasta (eks-U19), KRI Cundamani (eks U-21), dan KRI Alugoro (eks U-20). Bahkan dalam siaran berita TVRI, nampak awak TNI AL wara wiri di sekitar dermaga kapal selam tersebut di kota Kiel.

Meski akhirnya tak jadi milik TNI AL, rasanya ada baiknya kita kenal lebih jauh tentang Type 206. Kapal selam ini dibangun pada periode perang dingin, dan masih terus digunakan hingga tahun lalu (2011), bahkan AL Kerajaan Thailand berencana untuk membeli kapal selam ini. Type 206 merupakan jenis kapal selam untuk beroperasi di perairan dangkal, dan dilihat dari desainnya, jangkauan jenis kapal selam ini pun terbatas. Tapi kapal selam dengan penggerak diesel listrik ini punya mobilitas tinggi dan dapat beroperasi senyap, pasalnya saat menyelam di bawah permukaan laut menjalankan penggerak dari listrik yang berasal dari cell baterai.

Dengan kemampuan diatas, armada destroyer harus bekerja keras untuk bisa mendeteksi keberadaan kapal selam ini. Bahkan bila Type 206 berdiam diri di kedalaman laut, secara teori mustahil kapal selam ini bisa diendus sonar. Perlengkapan peran Type 206 bisa dibilang cukup handal, seperti material baja yang dilapisi bahan anti magnetik. Ini memang sengaja dipersiapkan bagi kapal selam untuk bisa terhindari dari ancaman ranjau laut dari pihak lawan. Tak itu saja, deteksi menggunakan teknologi MAD (magnetic anomaly detector) juga menjadi sulit diterapkan.

Tampilan 3 dimensi Type 206

Type 206 dibuat di galangan Howaldtswerke Deutsche Werft/HDW, (dahulu masuk dalam wilayah Jerman Barat). Sebagai oleh-oleh masa perang dingin, Bundesmarine (AL Jerman Barat) memang mempersiapkan Type 206 untuk beroperasi di laut Baltik, guna memburu armada kapal perang dari grup pakta Warsawa bila terjadi perang terbuka, dan sekaligus melakukan misi pengintaian.

Dari segi persenjataan, Type 206 mampu menggotong 8 tabung torpedo ukuran 533 mm, jumlah torpedo yang dibawa ya hanya 8, artinya dalam kondisi tempur, kapal selam ini tak bisa melakukan reload ke tabung peluncur. Senjata lain yang bisa ditebar yakni 24 ranjau laut yang dibawa dalam komponen eksternal. Salah satu keunikan pada desain Type 206 yakni adanya tonjolan/punuk pada sisi haluan atau bulge. Tonjolan ini disinyalir berisi beragam sensor, selain Type 206, kapal selam Type 209 yang dimiliki TNI, KRI Cakra (401) dan KRI Nanggala (402) juga memiliki punuk di haluannya, walau tampak tidak sebesar Type 206.

Sejak diproduksi antara tahun 1968 – 1975, total ada 18 unit Type 206 yang akhirnya memperkuat Bundesmarine. Dan untuk misi modernisasi, 12 unit diantaranya di upgrade pada tahun 1990, dan hasil upgrade ini dinamakan Type 206A. Pada versi 206A dilakukan upgrade berupa pemasangan sonar STN Atlas DBQS-21D, juga ada upgrade pada jenis periskop, sistem kendali senjata, lalu ada penggantian sistem ESM menggunakan GPS (global positioning system). Jenis torpedo pun diperbaharui dengan tipe Seeaal. Untuk memperkuat kinerjam sistem propulsi juga diperbaharui, dan terakhir ada perbaikan untuk kompartemen awak.

Dari 18 unit Type 206 yang dioperasikan, sebagian besar kini memang sudah di besi tuakan, tapi ada beberapa yang masih beroperasi hingga pertengahan 2011 lalu, sisa Type 206 inilah yang bakal dibeli AL Thailand, kabarnya pemerintah Thailand telah menyetujui untuk membeli 2 unit Type 206A. Keseriusan Thailand untuk membeli kapal selam yang usianya sudah menjelang 40 tahun ini, membutikan bahwa kualitas Type 206 memang memikat, terutama bagi negara-negara di kawasan ASEAN yang umumnya lebih cocok mengadopsi jenis kapal selam ringan untuk beroperasi di laut-laut sempit. Bila dahulu, sekiranya badai krismon tak menerjang RI, Type 206A bakal menjadi arsenal Korps Hiu Kencana TNI AL.

Sebagai informasi, Type 206 adalah satu pabrik dengan Type 209/1500 yang kini digunakan TNI AL, dari segi desain keduanya pun mirip, tapi bila dilihat dari spesifikasi, Type 209 jelas lebih unggul karena punya jangkauan kedalaman hingga maksmium 500 meter, dan torpedo yang dibawa pun bisa hingga 14, bandingkan dengan Type 206 yang hanya bisa menyelam hingga kedalaman 200 meter dengan maksimum 8 torpedo. Tapi lain dari itu, banyak yang beranggapan Type 206 bekas pakai Bundesmarine punya kualitas yang mumpuni, sebab memang aslinya dirancang dan dipakai untuk kebutuhan AL Jerman. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi Type 206A
Berat        :   450 ton (dipermukaan)
498 ton (saat menyelam)
Panjang    :   48,6 meter

Bem         :   4,6 meter

Draft          :   4,5 meter

Penggerak : 2 MTU 12V 493, 4-stroke 600 hp (441 kW) diesel engines, each coupled with an Asea Brown Boveri-generator 1 Siemens-Schuckert-Werke 1100 kWelectric motor driving single five (Type 206) or seven (Type 206A) bladepropeller

Kecepatan   :    10 knots (19 km/jam) – dipermukaan
17 knots (31 km/jam) – saat menyelam
Jangakauan : 4,500 nmi at 5 knots, dipermukaan; (8,300 km at 9 km/h) 228 nmi at 4 knots, di bawah

permukaan  (420 km at 7 km/h)
Awak           : 23 orang

Batas kedalaman : Lebih dari 200 meter

Sistem Sensor : STN Atlas DBQS-21 (CSU-83) submarine sonar
Thomson-CSF DUUX 2 passive rangefinder sonar
Safare VELOX sonar intercept
EDO-900 active mine avoidance sonar
Thomson-CSF Calypso II surveillance and navigation radar

Perangkat Perang Elektronik : Thomson-CSF DR-2000U ESM system
Thorn-EMI SARIE

Indomiliter 2011 Annual Report

The indomiliter.com/ stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

London Olympic Stadium holds 80,000 people. This blog was viewed about 330,000 times in 2011. If it were competing at London Olympic Stadium, it would take about 4 sold-out events for that many people to see it.

Click here to see the complete report.