Latest

Konsep Pengadaan Alat Utama Sistem Senjata Berbasis ‘Gamangisme’

MBT Leopard

Baru-baru ini tengah ramai berita seputar rencana pembelian MBT (main battle tank) jenis Leopard 2A6 buatan Jerman. Sontak saja kabar ini menjadi isu hangat diantara pemerhati militer, masyarakat luas dan tentunya juga para anggota dewan yang katanya terhormat.

Apa yang menyebabkan berita MBT ini jadi heboh? Dari sisi teknis inilah upaya serius dari pihak Kementrian Pertahanan dan Mabes TNI untuk secara eksplisit menyatakan ketertarikannya dalam membeli MBT. Maklum sedari dulu kodrat kendaraan lapis baja milik TNI hanya berkutat pada jenis tank ringan (light tank). Ditambah pengadaan MBT ini turut mengusung skema pembelian government to government, dengan meniadakan peran broker, artinya akan mengelimir terjadinya praktik korupsi.

Lepas dari polemik soal peran broker dan politik, memang sudah jadi tradisi di Republik ini untuk meributkan hal-hal yang membosankan. Contoh, polemik soal tonase MBT Leopard yang mencapai 62,5 ton, disinyalir oleh beberapa pengamat dan analis tidak cocok untuk kontur tanah di Indonesia. Lain lagi dari kubu pro MBT, menyatakan bahwa Leopard cocok dan tidak ada masalah dengan kontur tanah dan jembatan di Indonesia, mereka memperlihatkan contoh Malaysia yang sudah lebih dulu punya MBT, bahkan Singapura sejak 8 tahun lalu sudah punya 196 unit Leopard.

Meski MBT Leopard aslinya buatan Jerman, tapi Leopard yang bakal dibeli Indonesia adalah bekas pakai AD Belanda. Konon disebut-sebut, armada Leopard Belanda dalam kondisi sangat baik, tidak pernah digunakan untuk perang, dan tidak pernah dilibatkan dalam latihan besar. Belanda sendiri menjual Leopard dalam rangka perampingan kekuatan militernya, sebagai imbas krisis keuangan yang mendera Eropa. Sejatinya yang disodorkan Belanda tak hanya Leopard, tapi juga ada helikopter AH-64 Apache dan jet tempur F-16 Block 52.

F-16 Block 52 dan AH-64 Apache milik AB Singapura

Sebagai orang yang awam dalam dunia kemiliteran, saya pribadi senang mendengar bakal datangnya Leopard, F-16 Block 52, dan Apache. Setidaknya TNI bisa punya alutsista (alat utama sistem senjata) yang setara dengan Singapura dan Malaysia. Tapi disisi lain, hati ini rasanya miris juga, lantaran terlihat strategi pengadaan alutsista TNI terlihat tak memiliki platform yang jelas, sekilas seperti didorong pembelian karena emosi, ya emosi karena ada “Big Sale” dan emosi karena sekedar tak ingin kalah dari negara tetangga.

Emosi diatas (jika benar) tentu juga tidak salah, tapi yang jadi aneh bila pemerintah jadi gamang menentukan prioritas. Adanya MBT Leopard dan Apache jelas sangat penting untuk penguasaan teknologi militer Indonesia, tapi menurut saya pribadi, itu bukan prioritas utama. Seharusnya prioritas utama TNI lebih ditekankan pada pemenuhan kekuatan armada pesawat pengintai dan helikopter AKS (anti kapal selam)/Surveillance untuk ketajaman indra kapal-kapal perang TNI AL. Alasan saya tidak terlalu rumit, justru sebenarnya daya getar (deteren) Indonesia ada di Laut, dan sebagai negara maritim terbesar, ironis Indonesia bahkan tak punya heli anti AKS.

Pada era 60-an sistem AKS kita cukup ideal, walau sesusahnya terus redup, kemudian masih ada heli WASP dari Inggris, tapi setelah itu di grounded, dan tak ada lagi gantinya. Sempat di tahun 2005, pemerintah meng-order 3 unit heli BO-105 versi OTHT (over the horizon target) radar dari PT. DI, tapi entah karena alasan apa, order tersebut batal. Bayangkan negara martim terbesar tidak punya heli AKS atau heli intai. Pesawat intai, meski ada satuan intai martim dari Boeing 737 Surveillance Skadron 5 Makassar, jumlahnya yang 3 unit amat minim dan teknologinya sudah mulai usang.

Heli BO-105 OTHT, sempat dipesan namun gagal direalisasi oleh TNI

Kalau mau di compare, AL Malaysia sejak lama sudah punya Sea Lynx dan AL Singapura memiliki Sikorsky SH-60B Seahawk. Kedua heli tersebut pun sudah dibekali Torpedo. Belum lagi bekal E-2C Hawkeye yang mampu ‘menyapu’ coverage yang sangat luas.

Seolah terlupakan, padahal pemenuhan heli/pesawat pengintai sangat vital, karena bisa menangkal terjadinya tindak pelanggaran teritori di Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) Indonesia, belum lagi aksi kejahatan di laut lebih bisa direspon dengan cepat. Artinya devisa dan hasil bumi Indonesia lebih bisa diamankan. Ujung-ujungnya semua itu akan membawa kesejahteraan bagi ekonomi perairan Nusantara.

Saya pribadi menganggap hal diatas lebih penting ketimbang meributkan pengadaan MBT. Seandainya Leopard tahun depan datang pun, daya deteren TNI tidak akan meningkat signifikan, secara Singapura sudah memiliki tank dengan jenis yang sama, bahkan dalam jumlah lebih besar, begitu pun dari sisi Malaysia. Kalau mau jujur, sebenarnya kita amat butuh heli/pesawat dengan kemampuan OTHT. TNI AL sudah punya rudal Yakhont dan C-802, tapi kehandalannya tak maksimal, bahkan keterbatasan elemen OTHT, untuk pointing target rudal Yakhont ternyata dilakukan lewat kapal selam.

‘Keanehan’ strategi prioritas alutsista TNI juga terlihat dari elemen rudal. Sejak 3 dekade nasib rudal udara ke udara milik TNI AU tak pernah disegerkan, hanya mengandalkan versi ‘tua’ dari Sidewinder, berbanding terbalik dengan Malaysia dan Singapura yang punya versi mutakhir AIM-9X Sidewinder. Belum lagi, sudah sejak lama armada Sukhoi didatangkan tanpa rudal, baru setelah 8 tahun terdengar dalam tingkat desas-desus, Sukhoi TNI AU akan dilengkapi rudal udara ke udara jarak menengah. Semoga ini benar.

Armada sukhoi TNI AU, cukup lama 'merana' tanpa dibekali rudal

Lalu miris lagi di armada heli tempur Mi-24 milik Penerbad, sayang disayang heli sangar ini juga tak dibelai rudal pelibas tank. Tanpa ada kejelasan konsep pengembangannya, pemerintah keburu kesemsem dengan promo “Big Sale” Apache. Ya semoga saja Apache dibeli berikut rudal anti tank-nya. Dan jangan lupa, seyognya pemerintah juga jangan lupa dengan pengalaman buruk embargo militer dari AS. Perlu diketahui meski yang menjual Belanda, tapi toh nyatanya AS dan NATO mampu meng-cut aliran suku cadang dan persenjataan ke Indonesia, terutama bila aksi militer Indonesia bertentangan dengan kepentingan negara-negara Barat.

Memang dalam pemenuhan MEF (minimum essential force), di tahun 2012 anggaran pertahanan RI mengalami kenaikan terbesar, yakni mencapai Rp61,5 triliun, melonjak 29,5% dari tahun sebelumnya. Sebagai informasi, anggaran pengadaan 100 Leopard dari Belanda yakni sebesar Rp2,5 triliun. Memang masih ada sisa anggaran yang cukup besar, tapi seyogyanya pemerintah tetap memikirkan pengembangan alutsista di dalam negeri.

Dalam beberapa hal, ada baiknya strategi alutsista RI mengacu ke Iran dan India, tetap fokus dan tidak gamang. Mungkin saja saya keliru, tapi alotnya penentuan jenis kapal selam terbaru TNI AL, selain karena masalah anggaran, juga karena adanya ‘syarat’ baru dalam spesifikasi yang diajukan. Isunya karena melihat kapal selam Singapura dan Malaysia yang bisa menembakkan rudal anti kapal dari bawah permukaan laut, maka syarat kemampuan tersebut juga ‘harus’ ada untuk kapal selam TNI AL. Dan, untuk hal tersebut pilihan pastinya juga tak terlalu banyak dan budget harus ditingkatkan.

Akhir kata, selamat datang Leopard dan Apache, semoga bisa menjadi alutsista yang membawa berkah dan kejayaan bagi NKRI. Kita tahu produk-produk tersebut memang battle proven, dan mudah-mudahan bisa optimal digunakan oleh militer Indonesia. (Haryo Adjie Nogo Seno)

FH-2000 155mm : Meriam Kaliber Terbesar Armed TNI AD

Meski dikenal sebagai surganya koruptor Indonesia, dan kerap bersinggungan dengan wilayah perbatasan NKRI, namun nyatanya hubungan kerjasama pertahanan antara Indonesia dan Singapura cukup harmonis. Salah satu indikasinya bisa dilihat dari adopsi alutsista kelas berat milik TNI AD yang diimpor dari Singapura, yakni meriam FH-2000. Meski didatangkan dari Singapura, FH-2000 cukup monumental bagi satuan artileri medan (Armed), pasalnya inilah meriam dengan kaliber terbesar (155 mm) yang saat ini dan satu-satunya jenis yang digunakan TNI AD.

FH-2000 mulai diluncurkan pada tahun 1993 dan pertama dioperasikan oleh Batalion Artileri Singapura ke-23 pada tahun 1995. Tidak banyak FH-2000 yang dimiliki TNI AD, jumlahnya hanya 6 unit meriam, dan saat ini ditempatkan sebagai elemen kekuatan di Resimen II Armed/Sthira Yudha, salah satu satuan komando dibawah Divisi Infantri 1/Kostrad TNI AD yang bermarkas di Sadang, Purwakarta, Jawa Barat.

Dibanding jenis meriam konvensional yang umum digunakan oleh TNI AD, FH-2000 merupakan jenis meriam howitzer yang dapat dijalankan secara mobile dengan dua mekanisme. FH yang artinya Field Howitzer dapat ditarik/digandeng layaknya meriam biasa, ditarik dengan truk angkut berat. Tapi lain dari itu, FH-2000 dapat bergerak sendiri, pasalnya meriam rancangan dan produksi dari Singapore Technologies (ST) Kinetics ini memiliki mesin penggerak berjenis Diesel berdaya 75 hp. Dengan mesin ini memungkinkan meriam bergerak secara mendiri (self propelled) dengan kecepatan 10Km per jam tanpa perlu ditarik kendaraan pengangkut.

FH-2000 merupakan pengembangan dari sistem meriam FH-88 yang pertama kali diproduksi pada tahun 1983 dengan menggunakan komponen yang sama.Pada awalnya sejumlah meriam FH-88 banyak yang menggunakan kaliber laras 52mm dan 39mm, seiring dengan perkembangannya kaliber laras 52mm dirasa cocok diaplikasi ke meriam generasi terbarunya (FH-2000).

Saat Howitzer digunakan platform pendukung penembakan menggunakan struktur tripod mekanis. Beban tembakan di transmit ke permukaan tanah melalui tripod ini, isolasi silinder hidrolik dari platform ini cukup handal untuk digunakan. FH2000 juga dapat mengaplikasi serangkaian sistem pengamatan optik ke elektro-optik. Sistem pengamatan ini bisa dihubungkan kedalam kontrol penembakan di komputeri. Di bagian belakang meriam menggunakan mekanisme semi-otomatis, bagian ini terbuka secara otomatis selama counter recoil digunakan. Kontrol elektronik dan hidrolik power mendorong ceklikan ram proyektil masuk ke ruang barel dengan konsistensi tinggi.

Inovasi pengembangan FH-2000 kini terus berlanjut, ST Kinetics juga membantu Turki dalam perancangan dan manufaktur dari meriam towed howitzer sistem buatan dalam negerinya sendiri (155mm/52calibre) bernama “PANTHER”. Artileri ini dibangun dengan mengambil dasar FH-2000 yang telah ditingkatkan, salah satunya penggunaan Diesel Auxiliary Power Unit (APU) berkekuatan160 hp (aslinya 75 hp), sehingga mampu memberikan kecepatan self-propelled 18km per jam.

FH-2000 juga dapat dimasukkan ke dalam kabin C-130 Hercules

FH-2000 mempunyai jangakaun tembak efektif 19 Km dengan amunisi M107, sedangkan jarak tembak maksimumnya bisa mencapai 40 Km. Kiprah industri pertahanan Singapura memang mengagumkan, negara pulau dengan luas wilayah tak sampai sebesar DKI Jakarta ini nyatanya memiliki artileri medan yang cukup kuat, bahkan dari sisi teknologi justru mampu melangkahi saudara tuanya, Republik Indonesia. (Haryo Adjie Nogo Seno)

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=uI8n0J55524]

Spesifikasi FH-2000
Tipe : Howitzer
Manufaktur : ST Kinetics
Berat : 13,2 ton
Panjang : 12,9 meter
Lebar : 9,73 meter
Awak : 6 orang
Kaliber : 155 mm
Elevasi : -3°/+70°
Jarak Tembak Efektif : 19 Km
Jarak Tembak Maksimum : 40 Km
Mesin : Air-cooled turbo charged diesel 75 hp (56 kW)

Grom : Rudal Utama Arhanud TNI AD

Rudal Grom Arhanud TNI AD dalam platform peluncur Poprad

Setelah rudal Rapier dipensiunkan oleh TNI AD, maka kemudian Arhanud (artileri pertahanan udara) TNI AD memilih rudal Grom, yakni rudal jenis SHORAD (short range air defence), alias rudal pertahanan udara jarak pendek/SAM (surface to air missile). Sebagai rudal SAM ringan, Grom pertama kali diproduksi pada tahun 1995, dirancang oleh Military Institute of Armament Technology, dan diprodkusi oleh Mesko, Skarżysko-Kamienna, manufaktur senjata asal Polandia.

Dengan berakhirnya masa tugas Rapier pada Juni 2007, secara bertahap Grom mulai memperkuat arsenal arhanud TNI AD. Unit Arhanud TNI AD pertama yang dilengkapi Grom adalah Detasemen Rudal 003 Kodam Jaya, dan kini detasemen rudal Arhanud lain dilingkungan TNI AD sudah berbekal Grom, yakni Detasemen Rudal 001 Kodam Iskandar Muda yang mengamankan area kilang Arun, Detasemen Rudal 002 Kodam Tanjungpura yang mengamankan obyek vital di Bontang, dan Detasemen Rudal 004 Kodam Bukit Barisan yang mengamankan obyek vital di Dumai.

Kobra Modular air defence system

Paket pengadaan rudal Grom mencakup Kobra modular air defence system dari yang terdiri dari battery command vehicle, sistem peluncur rudal Poprad, 3D multi-beam search radar, dan meriam 23-mm/ZUR komposit rudal Grom.

Grom
Rudal Grom berasal dari platform rudal panggul yang bisa dioperasikan secara perorangan. Karena berasal dari Polandia yang merupakan eks sekutu Rusia, basis desain Grom juga diambil dari rudal SAM SA-7 yang sudah lebih dulu kondang. Pertama kali Grom digunakan oleh Angkatan Darat Polandia pada tahun 1995. Dan pada tahun 2007, Polandia menjual beberapa Grom ke beberapa negara, termasuk ke Georgia, negara pecahan Uni Soviet. Georgia membeli 30 peluncur dan lebih dari 100 rudal.

Tampilan rudal Grom, tanpa peluncur
Rudal Grom dalam versi Manpad (panggul)

Pembelian Grom oleh Georgia-lah yang kemudian mengangkat pamor rudal ini, pasalnya Georgia pada tahun 2008 sempat terlibat konflik dengan Rusia dalam perang di wilayah Ossetia Selatan. Dilaporkan selama perang tersebut, 20 helikopter Rusia tertembak oleh Grom. Di medan konflik yang lain, tepatnya pada akhir 2008, pihak Rusia telah menemukan paket rudal Grom yang digunakan oleh pejuang Checknya. Itulah perjalanan tempur rudal Grom yang beberapa kali telah ‘mentas’ di beberapa medan perang di wilayah dingin. Apakah ini yang menjadi dasar pembelian Grom oleh Indonesia?

Secara spesifikasi, Grom mempunyai berat 10,5 Kg, serta berat berikut peluncur mencapai 16,5 Kg. Bobot hulu ledak Grom yakni 1,82 Kg, sedangkan diameter Grom hanya 72 mm dan panjang rudal 1.566 mm. Bagaimana dengan soal jangkauan? Jangkauan tembak Grom horizontal yakni 5.500 meter dan jangkauan tembak vertikal antara 3.000 sampai 4.000 meter, dengan minimal jangakauan tembak 10 meter. Untuk kecepatan, Grom bisa menguber target dengan kecepatan 650 meter per detik. Pihak pabrik menyebutkan, Grom bisa beroperasi pada suhu -35 sampai 50 derajat celcius, jadi secara teori cukup layak digunakan di Indonesia.

Grom berpemandu infrared, sistem penembakan yakni mengusung konsep fire and forget, atau setelah ditembakkan secara otomatis rudal akan mengejar sumber panas sasaran. Secara umum, antara Rapier dan Grom punya kodrat yang sama dalam menguber target, yakni sama-sama mengincar target yang terbang rendah dengan manuver dan kecepatan tinggi.

Peluncur Poprad

Dalam gelar operasinya, Grom milik Arhanud TNI AD dipasang dalam platform peluncur Poprad dan meriam 23-mm/ZUR komposit. Untuk Poprad yang dipakai oleh TNI AD, menggunakan platform jip Defender dari Land Rover. Dalam satu jip tersedia 4 peluncur Grom yang dapat diputar 360 derajat. Dengan adopsi peluncur Grom pada kendaraan berkemampuan off road, diharapkan gelar operasi rudal ini dapat lebih mobile dan fleksibel. Umumnya dalam satu jip peluncur membawa 8 rudal, 4 yang siap tembak, dan sisanya 4 rudal sebagai cadangan.

Peluncur Poprad, dilengkapi beragam sensor canggih
Poprad bisa diadopsi ke berbagai plaform kendaraan tempur

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=me4WZpxvXlc]

Meski dapat ditembakkan secara terpadu dari Battery Command Vehicle, tapi komponen Poprad dapat beroperasi secara mandiri, dengan dua kru (komandan/operator dan supir), Poprad dapat menguntit target lewat atomatic target tracking (videotracker) dalam kondisi siang dan malam hari. Agar akurat membidik target, Poprad juga dilengkapi teknologi FLIR (forward looking infra red) dan electro optical sensor yang berkemampuan thermal camera plus laser range finder. Untuk menghindari friendly fire, atau salah menembak target, Poprad juga sudah dibekali IFF (identification friend or foe) interrogator.

Meriam 23-mm/ZUR komposit rudal Grom
Untuk unsur yang satu ini, keberadaan rudal Grom ditendemkan pada meriam 23-mm/ZUR. Dalam posisi siap tembak, 2 peluncur Grom ditempatkan pada sisi kanan juru tembak, tentu saja proses isi ulang rudal bakal lebih cepat di sistem meriam ini. Secara umum, meriam 23 mm ini memiliki jangkauan tembak maksimum vertikal 2.000 meter, dan jangkauan tembak horizontal 3.000 meter. Meriam ini diawaki oleh 6 awak, 2 bintara dan 4 tamtama. Dengan konsep komposit/hybrid, amumisi meriam dan rudal dapat ditembakkan ke target secara simultan, hingga mencapai daya hancur yang berlipat.

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=T2f2e8eYGTE]

Battery Command Vehicle
Dalam Kobra modular air defence system, terdapat elemen Battery Command Vehicle dan Mobile Multibeam Search Radar, kedua ditempatkan terpisah dalam platform jip Defender Land Rover. Battery Command Vehicle merupakan kendaraan pos pengendali baterai, perangkat ini mampu mengendalikan hingga 6 pucuk meriam secara serentak. Command Vehicle dipandu dengan alat bidik optronik yang memiliki interface dengan rudal/meriam. Kemampuan deteksi Battery Command mencapai 20 Km, dilengkapi dengan laser range finder, TV camera, dan optical direcetor. Sebagai ‘jantung’ sistem pertahanan modular, Battery Command dapat mengusung 3 sumber energi, yakni dari generator, listrik PLN, dan baterai.

Awak pada Battery Command Vehicle

Mobile Multibeam Search Radar (MMSR)
Bila Battery Command Vehicle berperan sebagai elemen pengendali, Multibeam Search Radar berperan sebagai radar penjejak dan pemantau pergerakan target. Perangkat ini mempunyai jangakauan horizontal hingga 40 – 50 Km, sedangkan jangakau vertikal mulai dari 50 meter – 10.000 meter. Mobile Multibeam Search Radar dapat menampilkan obyek 3 dimensi, perangkat ini diawaki oleh 2 orang. Karena menggunakan platform jip Defender, waktu gelar radar ini bisa dilakukan dengan singkat, waktu siap tempur hanya butuh 4 menit.

Mobile Multibeam Search Radar

Uji Coba Grom di Indonesia
Untuk mengetahui seberapa besar kehandalan alutsista yang dimiliki, TNI AD beberapa kali telah menggelar Grom dalam serangkaian uji coba. Boleh saja Grom berjaya di medam tempur Eropa yang bersuhu dingin, tapi apakah jenis rudal ini juga handal saat dioperasikan di wilayah tropis seperti di Indonesia?

Rangkaian kendaraan tempur pengusung rudal Grom

Uji tembak pertama seluruh meriam dilakukan pada 24-25 Oktober 2007 di lapangan tembak Ciampea – Bogor, oleh instruktur dari Polandia. Uji tembak ini disaksikan langsung oleh Direktur Peralatan TNI AD dan hasilnya meriam dapat beroperasi dengan baik, dan tembakan dapat mengenai sasaran seperti yang diharapkan.

Selanjutnya dilakukan uji tembak yang kedua, berlangsung pada 28 Oktober – 3 November 2007 di lapangan uji tembak senjata berat di Bulus Pesanteren, Kebumen – Jawa Tengah. Titik berat pengujian dilakukan pada rudal Grom yang diintegrasikan dengan Battery Command Vehicle dan MMSR. Uji tembak ini disaksikan oleh pucuk pimpina TNI AD, sasaran tembak yang dipakai adalah pesawat model yang dikendalikan dengan remote control. Hasilnya, dari empat kali penembakkan rudal, sasaran tidak dapat dihancurkan.

Mengenai kegagalan Grom, ada tanggapan dari pihak operator. “Menurut perhitungan, akurasi, dan toleransi terhadap sasaran yang sebenarnya (pesawat udara), sesunghunnya sasaran itu dapat dihancurkan sebelum mendekati obyek vital yang dilindungi,” ujar Serka Sutoyo, Bintara Den Arhanud 003 Kodam Jaya, dikutip dari Majalah Defender, edisi September 2008.

Kemudian ada lagi uji coba rudal Grom pada 4 Mei 2010, dikutip dari Tribunenews.com, ujicoba tiga rudal di perairan Sekerat, Bengalon Kabupaten Kutai Timur,lagi-lagi tidak mengenai target.
Sistem senjata tersebut jenis Grom Komposit Meriam 23 MM Zur 23-2KG-1 yang diperagakan oleh 26 pria Polandia. Disaksikan oleh Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI George Toisutta, pejabat TNI AD, pejabat Kodam VI Tanjungpura, juga Muspida Kutim.

Dandim Kutim Letkol Inf Mukhtar menjelaskan, peragaan beberapa elemen sistem persenjataan itu berfungsi secara integral. Adapun rudal yang meleset sedikit dari target atau sasaran karena pengaruh cuaca panas. Menurutnya, sesaat sebelum misil meluncur, komputer melakukan pengecekan terhadap 3 parameter yaitu sistem elektronik misil, jarak sasaran, dan besar suhu sasaran. Bila salah satu parameter tersebut tidak terpenuhi, maka misil tidak akan meluncur ke sasaran. Dalam uji coba, rudal meledak tanpa mengenai target.

Usai peluncuran, pihak pelaksana uji terima menganalisa bahwa faktor yang mengakibatkan luputnya sasaran adalah cuaca panas. “Karena cuaca di Kutim panas, maka misil yang menggunakan detektor suhu bisa jadi luput dari sasaran. Berbeda saat uji coba di Polandia dan Jawa Tengah yang sukses mengenai target” ujar Letkol Muchtar. KSAD Jenderal TNI George Toisutta mengatakan akan membicarakan kembali rencana pembelian rudal ini di Jakarta. Kemungkinan juga akan ada pengujian ulang di Ambal, Jawa Tengah.

Skema gelar Kobra Defence system, terlihat satu sistem radar dapat memasok informasi ke beberapa peluncur Poprad dan meriam 23 mm

Melihat beberapa kali kegagalan Grom dalam uji coba, pertanyaan lalu muncul, apakah Grom adalah alutsista yang cocok untuk Indonesia? Kalau yang menjadi alasan seputar di hawa yang panas, bagaimana dengan gelar operasi Grom saat digunakan di medan perang sesungguhnya, bukankan sebagian besar wilayah/obyek vital berada di area yang panas menyengat, semisal di daerah kilang minyak. Jangan sampai nantinya target sudah terkunci, jutru rudal malah loyo sebelum ditembakkan. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi Rudal Grom
Pabrik : Mesko, Skarżysko-Kamienna – Polandia
Panjang : 1.596 mm
Diameter : 72 mm
Berat rudal : 10,5 Kg
Berat rudal + peluncur : 16,5 Kg
Berat amunisi : 1,82 Kg
Jarak tembak horizontal : 5.500 meter
Jarak tembak vertikal : 4.000 meter
Kecepatan : 650 meter/detik

C-705 : Rudal Pamungkas Andalan Kapal Cepat TNI AL

Rudal C-705

Pada hari Senin, 25 April 2011, Armada Kawasan Barat (Armabar) TNI AL mendapat tambahan alutsista baru berupa kapal cepat rudal (KCR) tipe 40. Kapal cepat rudal yang diberi nama KRI Clurit (641), tak lain adalah kapal perang buatan dalam negeri yang pertama kali dibangun di PT. Palindo Marine, Batam. Meski kodratnya berupa kapal patroli berukuran kecil, jangan diragukan, KRI Clurit mempunyai kemampuan yang cukup maju. Dengan panjang kapal ‘hanya’ 43 meter, Clurit dipersenjatai kanon kaliber 30 mm, meriam anjungan 20 mm, dan rudal anti kapal C-705.

Jenis senjata yang terakhir disebut, C-705, yang menjadikan KRI Clurit rada spesial dibanding kapal cepat TNI AL lainnya. Sebagai pengingat, jenis KCR FPB-57 baru dipasangi rudal anti kapal C-802, setelah diluncurkan versi FPB-57 NAV-V. Seperti halnya C-802, rudal C-705 juga dibuat di Cina oleh pabrik China Aerospace Science and Industry Corporation (CASIC). C-705 merupakan keluarga seri rudal C-70X, rudal ini merupakan pengembangan dari rudal C-704.

Rudal C-704

Sosok rudal ini masih terbilang baru, pertama kali dimunculkan ke publik pada ajang Zhuhai Airshow ke-7 tahun 2008. Dibanding generasi sebelumnya, C-705 hadir dengan beberapa peningkatan, seperti pada elemen mesin, hulu ledak, dan sistem pemandu. Hingga kini, sumber informasi tentang spesifikasi teknis pada rudal ini masih terbatas, yang jelas C-705 dirancang sebagai rudal yang menawarkan efisien si dalam operasionalnya. Secara umum bisa dikatakan spesifikasinya berada diatas C-704, tapi masih dibawah C-802.

Tampilan buritan KRI Clurit, tampak 2 unit tabung peluncur C-705

C-705 mempunyai jangkauan tembak antara 75-80 Km tanpa roket booster, sedangkan bila ditambahkan roket booster jangkauan bisa terdongkrak hingga 170 Km. Dilihat dari jangkauannya, C-705 bisa disebut pula sebagai rudal lintas cakrawala (over the horizon). Untuk urusan kecepatan, meski tak diketahui persis informasi kecepatan luncurnya, banyak disebutkan C-705 masuk dalam kategori rudal high sub sonic. Tentang bobot rudal juga tak ada keterangan pasti, tapi bobot hulu ledak rudal ini mencapai 110 Kg HVDT-H high explosive, lebih ringan ketimbang hulu ledak C-802, yang 165 Kg High Explosive.

C-705 dilengkapi beragam sistem pemandu
Dengan jangkauan 75 Km, C-705 masuk dalam kategori rudal jelajah anti kapal

Dengan bobot hulu ledak 110 Kg, C-705 dipersiapkan untuk mengkandaskan kapal perang lawan yang berbobot hingga 1.500 ton.Daya hancur yang dihasilkannya bisa mencapai 95,7%, ideal untuk menenggelamkan kapal. Konfigurasi rudal pun di-setting pas untuk dipasangkan pada platform kapal patroli dengan bobot antara 50 – 500 ton. KRI Clurit sendiri memiliki bobot 250 ton, pada KRI Clurit terlihat hanya membawa 2 unit C-705 dalam sekali berlayar.

Sebagaimana rudal anti kapal modern, C-705 mempunyai kemampuan sea skimming, yakni terbang rendah diatas permukaan laut, untuk C-705 batas terbawah mampu terbang 12,5 meter dari atas permukaan laut. Dengan terbang rendah, menjadikan sosok rudal ini sulit terdeteksi oleh radar. Untuk urusan pemandu, lagi-lagi tak ada informasi yang spesifik, tapi beberapa literatur menyebut C-705 mengkombinasikan sistem pemandu dari radar, infrared, GPS (Global Positioning Systems), GLONASS (Global Navigation Satellite Systes), dan TV.

Menurut pendapat penulis, C-705 sangat pas untuk diterapkan pada beberapa kapal patroli TNI AL yang kini belum dilengkapi rudal anti kapal, seperti pada jajaran FPB-57. Lainnya seperti kapal cepat TNI AL yang baru diterima secara hibah dari Brunei Darussalam, yakni KRI Badau (642) dan KRI Salawaku (643). Kedua kapal cepat tersebut sejatinya masuk kategori KCR, tapi sayang dalam paket hibahnya, tidak disertakan rudal MM-38 Exocet. Dilihat dari jenis dan ukuran, antara KRI Badau dan KRI Clurit tak beda jauh.

Jangkauan C-705 dapat ditingkatkan dengan roket booster

Embrio Rudal Anti Kapal Nasional?
Hingga kini Indonesia belum berhasil menciptakan rudal anti kapal buatan dalam negeri. Hal ini didasarkan atas ajakan Jenderal Guo Boxiong, Wakil Ketua Komisi Militer Tiongkok, dalam kunjungannya ke Jakarta (21/5/2011). Boxiong menawarkan kerjasama pembuatan rudal C-705, mengingat sebelumnya TNI AL sudah menggunakan rudal buatan Cina, C-802.

Ajakan tersebut lalu ditanggapi oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, menteri mengatakan, “kita menawarkan adanya joint production peralatan senjata, salah satunya membuat rudal bersama. Mereka mempunya teknologi yang luar biasa, kita berharap bisa belajar dan berbagi pengalaman.” Apakah niatan tersebut akan terealisasi? Mari kita tunggu perkembangan selanjutnya. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi C-705

Negara pembuat : Cina
Bobot rudal :
Diameter :
Hulu ledak : 110 Kg HVDT-H high explosive
Mesin : motor roket
Propellant : solid fuel
Kecepatan : High sub sonic
Jangakauan : 75 – 80 Km
Pemandu : Radar/TV/Infrared
Platform peluncuran : truck, kapal perang, dan pesawat tempur.

Maverick : Rudal Maut Pelibas Tank

A-10 Thunderbold II "The Tank Buster" - pengguna setia rudal Maverick

Meski anggaran belanja pengadaaan peralatan militer RI serba terbatas, tapi pemerintah masih berusaha untuk meningkatkan kemampuan yang ada. Bicara di arsenal peluru kendali (rudal), terutama di ranah rudal udara ke permukaan (air to surface missile/ASM), pasca tahun 60-an arsenal ASM TNI memang super kedodoran, setelah pernah memiliki rudal AS-1 Kennel yang fenomenal di tahun 60-an, praktis baru pada tahun 1990-an Indonesia kembali memiliki ASM.

Rudal yang dimaksud tak lain adalah AGM (air ground missile)-65 Maverick. Rudal ini awalnya dibeli TNI untuk dipasangkan pada armada F-16 Skadron Udara 3 yang datang pada tahun 1989. Maverick terbilang rudal yang battle proven, nama rudal ini sangat legendaris sejak tahun 70-an. Maverick dirancang sebagai senjata ampuh untuk menghancurkan sasaran di permukaan dengan obyek berupa lapis baja dan beton.

AGM-65K melesat menghantam sasaran

Rudal buatan Hughes Aircraft Company (sekarang Raytheon) ini pertama kali diproduksi pada tahun 1972, debut pertama rudal ini mulai terlihat pada ajang Perang Vietnam, dan menjadi salah satu rudal yang paling sering ditembakkan dalam Perang Teluk I dan II. Selain ampuh untuk menghancurkan obyek berupa bunker, Maverick nyatanya jauh lebih populer sebagai senjata pemusnah tank. Dalam perang Teluk I, Maverick banyak dilepaskan dari A-10 Thunderbold (tank buster) untuk menghancurkan armada tank Irak.

AGM-65A, versi pertama Maveerick dengan pemandu TV
AGM-65A, populer digunakan oleh A-7 Corsair dan A-4 Skyhawk

Maverick hingga kini masih digunakan sebagai rudal andalan di banyak negara sekutu AS, negara NATO, dan pastinya USAF, US Marines, dan US Navy. Lantaran sudah digunakan cukup lama, Maverick sudah dihasilkan dalam banyak varian. Kini Maverick sudah tak diprosuksi lagi, tapi rudal yang sudah dipakai oleh 28 negara ini sudah diproduksi sebanyak 60.000 unit. Karena tak lagi diprosuksi, sementara Maverick masih terus ‘disiagakan’, maka rudal ini beberapa telah mengalami upgrade.

Inside Maverick
Struktur Maverick dapat dibedah menjadi tiga bagian utama. Bagian terdepan berupa guidance (pemandu) unit mempunyai tiga varian (TV guidance, IR guidance serta laser guidance). Sistem ini terhubung dengan sirip pengendali. Bagian tengah berisi bahan ledak padat yang mampu membawa beban antara 57 – 136 kg dan hanya bisa meledak dengan kinetic energy. Sementara bagian paling belakang berupa tabung roket berisi solit propeland agar Maverick dapat meluncur hingga 20 nm sebelum mengenai sasaran.

Struktur AGM-65 Maverick

Bila sensor guidance telah mengenali sasaran dan pilot mengunci (lock on), tugas selanjutnya akan dikerjakan sendiri oleh Maverick. Meskipun dalam perjalanan menuju sasaran banyak gangguan termasuk jamming, decoy ataupun upaya lain, termasuk menembak jatuhnya. Pola ini disebut juga sebagai fire and forget (tembak dan lupakan).

Dengan diameter selebar satu kaki (kira kira 30 cm, termasuk sayap manjadi 70 cm) berupa tabung sepanjang 2,5 m, Maverick menjadi sangat sulit untuk ditembak jatuh dengan senjata antiserangan udara. Apalagi Maverick melesat pada kecepatan hampir 1 Mach. Kecepatan saat mengenai sasaran akan berubah menjadi enerji kinetik. Dengan daya ini akan meledakkan isian amunisi seberat 57 kg dengan daya ledak cukup dasyat.

AGM-65G Maverick

Ledakan ini dapat membobol beton bertulang (R300/5.000 psi) hingga tembok beton sedalam 2 meter atap tembok biasa sedalam 5 meter. Untuk menembus baja, Mavercik bisa menembus baja (R1800) setebal 15 cm. Hingga saat ini belum ada benda yang mempunyai ketebalan baja sampai 15 cm. Dengan kata lain tidak ada sasaran atas permukaan yang tidak dapat ditembus Maverick.

Pilihan jenis pemandu dan hulu ledak pada varian Maverick

Agar cocok untuk segala tugas, pihak pabrikan sengaja menciptakan Maverick dengan desain modular. Alhasil dengan konsep ini perangkat penuntun bisa digonta-ganti sesuai keinginan pemesan. Sebagai contoh untuk AGM-65 A/B/H menggunakan sistem pemandu TV. Lantas masih ada lagi AGM-65 D/F/G yang memiliki pemandu infra merah. Dan yang terbaru AGM-65E dengan pemandu target dari sinar laser.

Selain urusan sensor, desain modular juga diberlakukan pada kapasitas bopong hulu ledak. Ada dua opsi yang dipilih, standar 57 kg untuk varian AGM-65 A/B/D/H dan 136 kg bagi AGM-65 E/F/G/H/K. Dalam penerapan di lapangan, untuk hulu ledak ringan biasanya dipakai oleh pesawat-pesawat tempur milik US Marine dan USAF. Sedangkan hulu ledak berbobot lebih besar untuk menghantam target diatas permukaan laut lebih condong digunakan oleh pesawat-pesawat US Navy.

Keluarga Maverick
AGM-65A Maverick adalah varian pertama yang dilansir pada 1972 atas pesanan AU AS. Saat itu AU AS mengisyaratkan untuk mengganti bom konvensional dengan peryaratan ketat bahwa bom tersebut harus memenuhi kriteria berupa berat maksimal 500 lbs (226 kg), dapat dikendalikan dengan sistem sederhana, dapat diangkut pesawat tempur yang ada serta mudah perawatannya. Setelah mengajukan berbagai contoh, terpilihlah produk Raytheon System Co., dengan wujud rudal kecil, manis, mempunyai empat sayap delta, mampu membawa hulu ledak seberat 57 kg serta mampu diluncurkan mulai dari ketinggian 10 hingga 27 kilometer

Dalam uji coba yang diperagakan, Maverick dapat diluncurkan pada variasi kecepatan mencengangkan. Mulai dari 200 knots hingga 2 Mach. Hampir mustahil saat itu ada rudal atas permukaan mampu dilepaskan pada kecepatan supersonik. Hal ini dimungkinkan karena Raytheon System Co., telah melengkapi rudal ini dengan motor roket yang akan bereaksi dua tahap, yaitu tahap realesed selama 0,5 detik dengan daya dorong sebesar 10.000 lbs (4536 kg) dan tahap launching selama 3,5 detik dengan daya dorong 2.000 lbs .

AGM-65A: diproduksi pertama 1972 sebanyak 25.000 unit untuk keperluan AU AS dengan hulu ledak 125 lbs, dikendalikan infra red video over come. Hanya untuk sasaran siang hari.

AGM-65B: dilengkapi pemandu electro-optical television guidance system yang memungkinkan pilot dapat melihat sasaran lebih kecil serta jarak jangkau pembidikan lebih jauh.

AGM-65C: pengembangan model-A tetapi dapat dioperasikan pada malam hari.

AGM-65D: pengembangan dari model sebelumnya dengan tambahan adverse weather limitations yang memungkinkan rudal dapat melihat target pada cuaca buruk pada jarak pandang terbatas.

AGM-65E: khusus pesanan US Marine Corps berpemandu laser guided system dengan hulu ledak lebih besar.

AGM-65F: digunakan hanya oleh AL AS dengan laser guidance seperti varian terdahulu tetapi jenis ini mempunyai hulu ledak 300 lbs.

AGM-65G: diluncurkan pada Februari 1986, pengembangan tipe D berupa penambahan software agar mampu dikendalikan dengan Infra Red Seeker terbaru, sehingga rudal mampu mengendus sasaran lebih jauh termasuk sasaran kapal laut. Mempunyai hulu ledak seberat 300 lbs.

AGM-65H: mengambil rancang bangun tipe D dengan meningkatan kemampuan daya ledak. Banyak digunakan sewaktu Perang Teluk.

AGM-65K: masih dalam uji coba dan ditengarai sebagai Maverick generasi terakhir, pesanan khusus AU AS.

Maverick TNI AU
Dari beragam tipe Maverick diatas, tipe manakah yang dimiliki TNI AU? Jawabannya adalah seri AGM-65G. Jadi bisa dikatakan dari segi teknologi, versi yang dimiliki TNI AU tak terlalu ketinggalan jaman. Cuma sayang dari beragam jenis pesawat tempur yang dimiliki TNI AU, nyatanya Maverick hanya bisa digotong oleh F-16 Fighting Falcon dan Hawk 100/200. Tidak diketahui berapa unit yang dibeli Indonesia, tapi kabar menyebutkan jumlahnya mencapai lusinan.

F-16 TNI AU tampak menggotong Maverick

Untuk F-16, dalam sekali terbang dapat membawa hingga 4 unit Maverick, sedangkan pada Hawk 100/200 maksimal hanya bisa membawa 2 unit rudal. Harga rudal ini terbilang cukup mahal, yakni per unit US$ 225.000, saat dibeli pada tahun 1990. Mengenai harga memang tergantung varian, dalam pembelian mencakup pula penambahan untuk biaya pelatihan, fasilitas gudang penyimpanan, perawatan, biaya uji coba serta delivery, patokan harga ini dapat melambung hingga di atas US$500.000.

Hawk 200 TNI AU tampak membawa 2 unit Maverick

Tapi toh rudal ini tetap laku bak kacang goreng. Beruntung TNI AU telah membeli sebelum harga melambung setelah terbukti andal saat Perang Teluk. Kelengkapan lain yang yang tak kalah penting adalah pengadaan rudal palsu guna menambah kemahiran para teknisi atau alat peraga. Rudal palsu lainnya sebagai kelengkapan sebut saja:

TGM-65: Training Groung Missile-65. Ditandai dengan cicin putih yang berarti dummy dipakai sebagai prasarana latihan penerbang dalam hal pembidikan di udara. Mempunyai sistem serupa dengan AGM-65, cuma tidak dilengkapi motor roket, jadi tidak dapat diluncurkan.

MLT-65: Munition Load Training-65. Digunakan para teknisi di darat untuk latihan loading dan un loading agar terlatih sewaktu memasang Maverick beneran. Rudal dummy mempuyai bentuk, berat, warna sama dengan rudal beneran cuma bercincin biru. Karena mempunyai kemiripan dengan rudal asli, sering dipakai saat static show.

MMT-65: Munition Maintenance Training. Dipakai teknisi guna mengecek sistem alat bidik yang ada di pesawat, untuk membedakan dari jenis lain alat peraga ini bercincin kuning. Untuk TNI AU ada dua jenis pesawat yang dapat membawa TGM-65, yaitu F-16 A/B dan Hawk Mk-209.

Barang aspal (asli tapi palsu) di atas merupakan kelengkapan yang digunakan untuk memahirkan teknisi dalam memasang rudal, memahirkan pilot dalam pembidikan serta pengecekan sistem yang ada di pesawat. Sedangkan rudal asli TGM-65G Maverick tetap terpelihara di gudang penyimpanan dan hanya dikeluarkan dan dipasang di pesawat bila benar benar akan digunakan. Rudal ini ditandai dengan cincin merah yang berarti live, mempunyai hulu ledak seberat 300 lbs, infra red guidance pada moncongnya yang selalu tetutup serta mempunyai “jendela kaca” sebesar ibu jari. Selama warna jendela ini Amber to Red, berarti sang Maverick masih serviceable.

AGM-65 sesaat sebelum menghantam tank M-48
AGM-65 setelah menghantam tank, daya hancur rudal ini sangat besar

Penembakkan Maverick oleh TNI AU
Untuk mengasah ketrampilan teknisi dan pilot, TNI AU sudah beberapa kali melakukan uji penembakkan Maverick. Khusus untuk pesawat F-16, sudah tiga penerbang yang pernah menembakkan rudal pintar ini. Yaitu Letkol Pnb Muhammad Syaugi, Letkol Pnb Agung Sasongkojati dan Letkol Pnb Fahcri Adami.

Uji kalibrasi pada AGM-65G TNI AU

Salah satu tempat uji tembak Maverick adalah di Rambang, Lombok Timur, Selasa siang lalu. Blaaar… dan hancurlah sasaran menjadi kepingan tak berbentuk lagi. Itulah sebabnya-kata Komandan Lanud Iswahyudi, Marsekal Pertama F Djoko Poerwoko-yang tampak hanya nyala api dan kepulan debu tebal setelah bunyi blaar itu. Soalnya, peluru dan bom itu ditembakan dari F-16 dengan ketinggian sekitar 4.000 kaki dari atas permukaan air laut dan kejauhan sekitar 5 mil laut dari lokasi sasaran.

Sedangkan uji penembakkan baru-baru ini juga dilakukan dari atas pesawat Hawk Skadron Udara 1. Latihan mengambil lokasi di di Air Weapon Range (AWR) Pulung, Ponorogo dengan melibatkan 7 pesawat tempur Hawk 109/209 dari Skadron Udara 1, dengan waktu pelaksanaan pada 6-17 Juni 2011. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi AGM-65G Maverick
Produsen : Hughes Aircraft Corporation (kini Raytheon Corporation)
Mulai digunakan : Februari 1986
Mesin : Thiokol TX-481 – motor roket berpendorong ganda
Berat : 301,5 Kg
Panjang : 2,55 meter
Diameter : 30,48 cm
Bentang sayap : 71,12 cm
Kecepatan Max : 1.150 km/jam
Jangkauan : 27 km (ketinggian tinggi), 13 km (ketinggian rendah)
Hulu ledak : 135 kg, pemicu dengan interval
Pemandu : Infrared

Strela : Si Pemburu Panas Andalan Parchim dan Korps Marinir TNI AL

Masih ingat tentang 39 kapal perang eks Jerman Timur yang dibeli Indonesia pada tahun 1990-an. Dibalik pembelian borongan kapal dalam jumlah besar, nyatanya juga termasuk paket persenjataan yang melengkapi kapal-kapal tersebut. Diantaranya untuk korvet Parchim dan LST Frosch dilengkapi dengan 5.000 ton amunisi, meski dipreteli tapi bisa dibawa ke Tanah Air. Nah, yang cukup mencengangkan di paket senjata tadi juga terdapat 1.550 peluru kendali SA-7 Strela yang terbilang canggih dimasa itu.

Strela adalah jenis rudal panggul (Manpad) yang amat populer, dan banyak digunakan pada berbagai konflik di seluruh dunia. Hadirnya Strela pada awal 1990, menjadikan senjata ini sebagai rudal panggul pertama yang dimiliki TNI, khususnya di segmen rudal anti serangan udara jarak dekat/SHORAD (short range air defence). Baru kemudian TNI kedatangan rudal model panggul yang lebih modern, seperti Mistral dan QW-3.

Strela terbilang mudah dibawa oleh perseorangan

Strela dirancang pada tahun 1964 oleh Kalomna (KBM) di Uni Soviet, dan mulai diprouksi untuk keperluan AB Uni Soviet pada tahun 1968. Dan di tahun 1970 rudal ini sudah banyak malang melintang di arena konflik global. Diantaranya terlibat dalam Perang Arab-Israel, Vietnam, Angola, Lebanon,Irak, Afganistan dan Malvinas. Kehandalan Strela tak perlu diragukan, dalam perang Yom Kippur, hampir separuh dari armada Skyhawk AU Isreal pernah merasakan sengatan maut rudal ini. Bahkan tak usah jauh-jauh, di kawasan Asia Tenggara, Jet tempur F-5E Tiger milik AU Thailand pada tahun 1988 pernah ditembak jatuh oleh Strela milik Vietnam dalam konflik perbatasan. Sebelumnya beberapa jet temput Thailand juga pernah disengat Strela milik Vietnam dan Kamboja.

Dengan pengabdian yang panjang, pastinya Strela sudah dihadirkan dalam beberapa versi, bahkan sudah pula digarap secara lisensi oleh negara-negara sekutu Rusia. Untuk Strela di Indonesia, karena berasal dari persenjataan di atas kapal perang, yang digunakan adalah versi SA-N-5 Grail. SA-N-5 Grail merupakan kode penamaan yang diberikan oleh NATO, rudalnya sendiri berasal dari platform Strela-2M. SA-N-5 Grail memang dirancang oleh Pakta Warsawa (kala itu) untuk ditempatkan pada kapal perang. Yang membedakan dari versi Strela lainnya, SA-N-5 Grail pada kapal perang dilengkapi dengan dudukan (mounting fasta) sebagai pelontar rudal. Tipe mounting yang digunakan adalah peluncur Fasta 4M, model peluncur ini dapat memuat 4 rudal tiap unitnya, tapi dalam beberapa penampilan umumnya satu peluncur hanya disiapkan dengan 2 rudal.

Penampang rudal dan peluncur Strela
SA-N-5 Grail dalam mounting fasta

Strela yang dioperasikan TNI AL hingga kini memperkuat jajaran armada korvet kelas Parchim. Karena sudah berusia tua dan bekas pakai pula, rudal ini perlu dimodifikasi lebih lanjut agar sesuai kebutuhan dalam gelar operasi. Modifikasi pun telah dilakukan oleh Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AL, alhasil walau rudal ini usianya sudah 34 tahun masih tetap topcer dalam uji coba. Dari hasil modifikasi, Strela kini dinamai rudal AL1.

Beginilah tampilan Strela/Grail saat dioperasikan dari atas geladak kapal perang

Si Pengejar Panas
Streal bekerja dengan sistem pemandu pasif infra red, rudal ini bisa mendeteksi sasaran dengan tepat di atas temperatur 200-400 derajat Celsius–suhu yang dikeluarkan oleh exhaust nozzle pesawat terbang atau helikopter sasaran. Sistem peluncur rudal terdiri dari tabung peluncuran rudal dan silinder baterai termal. Dalam teorinya satu tabung peluncur dapat diisi ulang (reload) hingga lima kali pengisian.

Karena sifatnya manpad, rudal ini sepenuhnya dikendalikan oleh awak secara manual. Saat rudal meluncur dari tabung, digunakan sistem pembakaran sesaat (short burnt booster). Pola penembakan ini harus diwaspadai oleh awak, sebab semburan roket dapat mengenai penembak.

Sistem pembakar sesaat (short burnt booster), digunakan meluncurkannya dari tabung. Selain membahayakan penembak, sistem ini juga membatasi sudut tembak. Kelemahan lain adalah Strela harus benar-benar diarahkan ke saluran buang (exhaust nozzle) pesawat atau helikopter sasaran. Saat rudal pertama kali meluncur dari tabung, kecepatan yang didapat yakni 32 meter per detik dan rudal berputar pada porosnya sekitar 20 putaran per detik. Pada puncaknya, Strela akan memburu target dengan kecepatan 430 meter per detik. Setelah rudal keluar dari tabung, otomatis badan rudal akan mengembangkan sirip untuk terbang.

Strela amat pas untuk menghadang pesawat yang terbang rendah dengan manuver tinggi. Dengan kecepatan luncur yang dahsyat, Strela hanya punya jangkauan tembak hingga 5,5 kilometer dan ketinggian luncur maksimum 4,5 kilometer. Strela juga bisa menghadang sasaran dalam jarak sangat dekat, tapi minimum jarak target harus 18 meter dan ketinggian minimum 500 meter. Berat rudal Strela mencapai 9,8 kilogram, termasuk hulu ledak seberat 1,15 kilogram.

Strela juga pas dan lebih stabil dipasang pada dudukan di atas kendaraan/truck

Sedangkan berat rudal beserta tabung dalam posisi siap tempur mencapai 15 kilogram, beratnya masih cukup ideal untuk dipanggul oleh unit-unit pasukan infantri. Versi terbaru dari Strela adalah SA-14 Gremlin. Bentuknya sama dengan pendahulunya. Perubahan yang mencolok adalah pada sistem penjejak yang lebih sensitif. Keuntungannya rudal ini bisa ditembakkan dari sudut yang lebih lebar.

Dipakai Korps Marinir TNI AL

Strela ditampilkan dalam sebuah defile oleh Korps Marinir TNI AL

Jumlah unit Strela yang banyak, ditambah sifatnya yang portable, menjadikan rudal ini sangat pas “dikaryakan” untuk mendukung unit militer lain, yakni Korps Marinir. Cukup lepas Strela dari mounting di kapal perang, maka jadilah rudal ini sebagai senjata pamungkas bagi infantri. Hadirnya Strela di Korps Marinir sudah diketahui cukup lama, salah satunya penulis saksikan saat defile HUT 50 Tahun ABRI tahun 1995 di Lanud Halim Perdanakusumah. Saat itu Strela dipasang dengan mounting pada truk Unimog, jadi satu truk bisa meluncurkan 2 rudal sekaligus, mirip dengan pola di kapal perang. Tapi belakangan Strela juga kerap muncul dalam formasi single shooter pada defile- militer baru –baru ini. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi SA-7 Strela/SA-N-5 Grail
Perancang : KBM Kolomna
Berat rudal : 9,8 Kg/termasuk hulu ledak 1,15 kg
Panjang : 1,44 meter
Diameter : 72 mm
Bentang maksimum : 4200 mm
Lebar sayap : 70 cm
Jangkauan max : 5.500 meter
Ketinggian max : 4.500 meter
Kecepatan max : 430 meter per detik (sekitar 1,5 Mach)

C-802 : Rudal Penebar Maut dari Cina

C-802 saat dilepaskan dari KRI Layang

Sejak pertengahan 2008 diketahui TNI AL telah memiliki keluarga rudal baru buatan Cina. Rudal anti kapal ini tak lain adalah C-802. Debut pertama rudal ini ditampilkan TNI AL dalam Latgab TNI 2008, dalam ajang latihan tersebut C-802 dipasang pada KRI Layang (805), tipe kapal FPB (fast patrol boat)-57 buatan PT. PAL. Dengan desain kapal yang relatif kecil, memang hanya dua tabung peluncur C-802 yang bisa dipasang pada jenis FPB-57.

Rencananya tiap armada FPB-57 TNI AL akan dilengkapi rudal C-802, ini tentu akan meningkatkan ‘kesaktian’ jenis kapal patroli ini, pasalnya armada kapal patroli cepat TNI AL memang minim yang dibekali rudal anti permukaan. Saat awal tahun 80-an hingga kini TNI AL memang punya jenis KCR (kapal cepat rudal), yakni 4 dari tipe PSMM Mark 5, atau dikenal sebagai kelas Dagger, diantaranya adalah KRI Rencong (621), KRI Mandau (622), KRI Badik (623) dan KRI Keris (624). Ditaambah baru-baru ini TNI AL mendapat hibah 2 KCR dari Brunei Darussalam, yakni KRI Salawaku (643) dan KRI Badau (642).

KRI Badau dan KRI Salawaku - dua KCR asal hibah dari Brunei

Alhasil bila dilalkukasi, TNI AL hanya punya 6 unit KCR, tentu jumlah yang amat minim. Ditambah lagi secara kualitas rudal-rudal pada 6 KCR tersebut sudah cukup tua, keenamnya mengadopsi jenis rudal MM-30 Exocet. Nah, mengatasi minimnya jumlah KCR, TNI AL berusaha meningkatkan status KCT (kapal cepat torpedo) yang selama ini melekat di kelas FPB-57. Dengan dipasangnya C-802, kini FPB-57 dapat berperan sebagai KCT sekaligus KCR. Maklum senjata andalan FPB-57 sebagai KCT adalah dua tabung torpedo berpemandu AEG SUT (surface and underwater target).

Tak semua FPB-57 cocok untuk dipasangi rudal C-802, yang pas menyandang rudal maut ini tak FPB-57 NAV-V yang sudah mengalami modifikasi pada sistem kendali persenjataan. Selain KRI Layang, C-802 juga akan dipasangkan pada KRI Hiu (804), KRI Lemadang (806), dan KRI Todak (803).

KRI Todak - salah satu KCT armada TNI AL
Armada KCR TNI AL kelas Dagger

C-802
Sejarah kelahiran C-802 dimulai sejak masih berupa konsep rancangan CHETA (China Hai Ying Electro – Mechanical Technology Academy) di awal dekade 1970-an. Tujuan kerja proyek ini tak lain untuk memenuhi kebutuhan AL Cina akan sebuah rudal anti kapal perang permukaan yang relatif kecil, lebih kecil bila dibanding desain rudal dari Uni Soviet. Spesifikasi yang diharapkan yakni berkecepatan subsonic, sanggup melakukan terbang sea skimming (sedikit di atas permukaan laut), mampu melakukan attact flight (terbang serang) dengan didukung sistem teknologi penjejak sasaran mutakhir.

Nah, selain melansir beberapa rudal versi lokal untuk konsumsi Cina sendiri, CHETA juga mendesain sejumlah versi ekspor YJ-8. YJ-8 adalah nama lain dari C-802. Tentu saja spesifikasi teknis dan kinerjanya sedikit dibawah versi lokal yang dipakai AL Cina. Nah, nama resmi YJ-8 yang di ekspor adalah C-802 (YJ-82).

Salah satu varian C-802 adalah C-802A. Rudal ini pertama kali menampakkan sosoknya pada ajang DSEIE (Defence Systems and Equipments International Exhibition) di London, Inggris pada September 2005. Jangkauan C-802A dikabarkan mampu mencapai 180 km. Desain YJ (Ying Ji : Sambaran elang) tidak lagi mengacu pada konsep desain rudal asal Uni Soviet. Oleh perancangnya YJ-8 diklaim perancangnya sebagai hasil perpaduan fisik antara rudal RGM-84 Harpoon dan sistem kendali jelajah rudal MM-38 buatan Perancis.

Rudal Lintas Cakrawala
C-802 mampu menjangkau sasaran yang berada di balik garis cakrawala (over the horizon attack), agar rudal dapat mengenai sasaran dengan tepat (misalnya jarak sasaran, ketinggian jelajah optimal dan kecepatan serta arah angin) telah dihitung dengan tepat oleh perangkat kendali penembakan rudal, maka keseluruhan data tersebut dimasukkan kedalam ‘otak’ YJ-8. Selanjutnya dilakukan kegiatan pra penembakan rudal. Begitu rudal telah siap ditembakkan, arah hadap kotak peluncur rudal akan disetel sedemikian rupa agar sasaran berada di dalam jangkauan rudal. Setelah sasaran telah benar-benar berada di dalam jangkauan tembak YJ-8 (sekitar 8-40 kilometer untuk YJ-81) maka juru senjata akan segera menembakkan rudal.

Tampilan mock up C-802

Tidak lama setelah rudal ditembakkan dan melesat keluar dari wadahnya dengan sudut evaluasi penembakan sekitar 30-45 derajat, maka secara bertahap solid propellat booster akan terbakar (bekerja). Dalam hitungan beberapa detik kecepatan jelajah YJ-8 secara bertahap akan meningkat. Dari semula Mach 0,0 menjadi hingga Mach 0,9 (setara 956 kilometer per jam). Setelah terbakar habis, solid propellat booster akan segera terlepas (detached) dari badan rudal. Kini tiba giliran mesin penggerak membawa rudal menuju sasarannya. Dikendalikan oleh sistem otopilot dan radio altimeter berpresisi tinggi, YJ-8 sanggup menjelajah hingga sejauh 120 kilometer dengan terbang pada kecepatan jelajah Mach 0,8 – 0,9. Ketinggian jelajah pra serang yang dapat dicapai oleh masing-masing anggota keluarga rudal YJ-8 sepenuhnya tergantung situasi dan kondisi perairan (sea status) yang tengah dilintasinya.

Saat memasuki tahapan akhir masa jelajahnya, setiap anggota keluarga rudal YJ-8 akan segera mengaktifkan radar penjejak sasarannya untuk memindai (scan) sasarannya agar ia dapat menentukan secara lebih akurat lokasinya dan kemudian mendekatinya. Berkat sistem pemandu berpola pulsa tunggal yang bekerja pada daerah gelombang radio berfrekuensi tinggi, radar penjejak sasaran YJ-8 menjadi lebih kebal dari segala bentuk upaya pengacakan dan pengecohan yang mengandalkan aneka perangkat gelar perang elektronik. Dengan kata lain kemampuan anti jamming-nya cukup tinggi.

C-802 milik AD Iran, C-802 bisa ditembakkan dari platform di darat

Setelah sasaran yang dituju telah ‘dikunci’ (locked) dalam jarak beberapa kilometer, maka secara bertahap ketinggian terbang YJ-8 akan anjlok hingga tinggal lima sampai tujuh meter dari permukaan laut. Begitu sasaran yang dituju telah berada di hadapannya, YJ-8 akan segera menukik ke bawah untuk selanjutnya mencebur ke laut. Tujuannya agar ia dapat dengan telak menghajar daerah lambung sasaran pada titik sekitar garis air kapal (water line).

Sikap serang seperti ini diyakini perancang YJ-8 sebagai dapat memaksimalkan derajat kerusakan sasaran. Setelah dinding lambung sasaran jebol dan moncong YJ-8 berada di dalamnya, maka tidak lama kemudian hulu ledak rudal segera meledak disertai timbulnya tenaga penghancur yang sangat kuat.

Berkat C-802, AS harus berpikir dua kali untuk menyerang Iran dari lautan

Secara fisik C-802 relatif agak sulit terlacak oleh radar kapal perang yang paling canggih sekalipun. Alasannya jejak radar C-802 sulit dibedakan dengan jejak radar ikan lumba-lumba. Tak cuma itu, perancang C-802 juga mengklaim jika hasil karyanya sanggup beraksi optimal dalam segala kondisi cuaca.

Tantangan Pada Radar Permukaan
C-802 dan Yakhont terbilang rudal handal yang bisa beroperasi lintas cakrawala, tapi dalam gelar operasinya bukan tiada tantangan, khususnya bila dioperasikan pada jenis kapal cepat, umumnya punya keterbatasan jangkauan radar. Sehingga bisa jadi jangkauan radar tak memadai untuk kinerja optimal sang rudal yang bisa menjangkau sasaran sangat jauh dibalik cakrawala. Lain hal bila dioperasikan dari kapal jenis fregat atau korvet yang punya jangkauan radar permukaan lebih baik.

Battle Proven

INS Hanit, korban hantaman C-802, sayang kapal ini tidak tenggelam

Produk buatan Cina kerap mendapat stigma kw-2 (kualitas dua), dimana standarnya dicibir masih dibawah produk besutan AS/Eropa. Tapi lewat C-802, Cina berhasil membutikan bahwa rudal yang dibuat cukup ampuh. Salah satunya diperlihatkan saat kelompok Hizbullah menghadang serbuan Isreal di Lebanon pada medio 2006. Mereka mengklaim telah menembakkan C-802 untuk mematahkan blokade laut AL Israel. Hizbullah menghajar kapal perang Israel, INS Hanit, dengan dua rudal, kapal perang itu rusal berat. Walau tidak tenggelam, diketahui empat pelautnya tewas. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi C-802
Berat : 715 kg
Panjang : 6,392 meter
Diameter : 36 centimeter
Mesin : Turbojet
Hulu ledak : 165 kg High Explosive
Lebar sayap : 0,72 meter (terlipat)/ 1,22 meter (tidak terlipat)
Ketinggian terbang : 20-30 meter (terbang) / 5-7 meter saat mendekati sasaran
Kecepatan : subsonic/ versi terbaru sudah supersonic
Pemandu : radar aktif
Platform peluncur : kapal permukaan, kapal selam, pesawat tempur dan truck

SA-2 : Rudal Darat Ke Udara Legendaris AURI

SA-2 AURI dalam sebuah gelar operasi

Menyandang predikat sebagai ‘Macan Asia’ dalam sisi militer, Indonesia pada era 60-an menjelma sebagai kekuatan yang menggetarkan negara-negara di kawasan Asia Pasifik. Dari seabreg perlengkapan tempur modern yang diperoleh dari Uni Soviet, unsur pertahanan udara (Hanud) nyatanya juga sangat diprioritaskan oleh Ir. Soekarno, Presiden RI pertama. Sebagai unsur Hanud, mulai dari pesawat tempur, rudal dan radar, apa yang Indonesia punya saat itu adalah produk tercanggih dimasanya.

Nah, bicara rudal pun banyak versi yang dimliki TNI, dua matra yakni AURI (TNI AU) dan ALRI (TNI AL) juga mengusung rudal-rudal dari varian anti kapal, udara ke udara dan udara ke permukaan yang terbilang mampu membuat negara tetangga dan NATO/AS sempat dibuat keder saat era tersebut. Lebih dalam lagi di segmen rudal darat udara atau bisa disebut rudal anti serangan udara, TNI AU punya ‘kenang-kenangan’ yang amat fenomenal, ini tak lain rudal SA-2 “Guideline” (kode NATO), di negara asalnya Uni Soviet rudal ini diberi kode V-75 “Dvina”. Saking populernya, karena banyak merontokkan pesawat tempur AS, rudal yang pertama kali dibuat oleh pabrik Lavochkin OKB pada tahun 1953 juga dikenal dengan sebutan SAM (Surface to Air Missile)-75.

SA-2 dipasang dengan ground mounted

SA-2 terbilang rudal yang punya reputasi tempur tinggi, dengan sosoknya yang terbilang besar, yakni berat 2,3 ton, panjang 10,6 meter serta diameter 0,7 meter menjadikan SA-2 adalah sosok rudal terbesar yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Dengan bobot hingga ukuran ton, sudah pasti daya jelajah rudal ini terbilang fantastis dan memang SA-2 digolongkan segai rudal darat udara jarak jauh. Jangkauan SA-2 efektif bisa mencapai 45 km dengan kecepatan 3,5 Mach, sebuah kecepatan yang fantastis, mengingat sejak SA-2 Indonesia belum pernah memiliki rudal darat udara dengan kecepatan diatas 3 Mach (3 kali kecepatan suara). Walau terbilang rudal kelas berat, proses peluncuran SA-2 bisa dilakukan secara cepat bila telah mengunci sasaran. Saat pertama diaktifkan yang menyala adalah engine booster selama 4 sampai 5 detik dan kemudian engine utama akan aktif selama 22 detik dengan kecepatan 3,5 Mach dengan tingkat akurasi 65 meter.

SA-2 meluncur dari "sarangnya"

Selain unggul dalam daya jelajah dan kecepatan luncur, jangkauan ketinggian SA-2 pun mengagumkan, yakni bisa mencapai 20.000 meter. Daya hantam SA-2 pun cukup menakutkan dengan hulu ledak high explosive fragmentasi seberat 200 kg. Dengan spesifikasi diatas, jelas SA-2 jadi senjata yang mujarab untuk merontokkan pesawat jet pengintai yang kerap terbang tinggi. Ini terbukti pada 1 Mei 1960 rudal ini dapat menembak jatuh pesawat mata-mata Amerika U-2 ‘Dragon Lady” pada ketinggian 15,24 Km dan berhasil menangkap pilotnya Francis “Gary” Powers.

Selain itu ada peristiwa lain yang mencatat keberhasilan rudal ini dari berbagai variannya adalah pada insiden U-2 Taiwan ditembak jatuh oleh tentara RRC di atas Narching. Lalu Pada bulan Oktober 1962, U-2 Amerika hilang ditembak oleh tentara Kuba di atas pangkalan angkatan laut Banes yang kemudian memicu krisis rudal Cuba. Berikutnya adalah di ajang Vietnam dengan korban pesawat tempur F-4C Phantom pada bulan Juli di tahun yang sama. Tak heran memang, SA-2 dihadirkan Uni Soviet sebagai kegeraman atas kehadiran pesawat intai U-2 yang kerap masuk ke wilayah Soviet. Dalam operasionalnya, SA-2 digunakan pada tahun 1957 oleh resimen PVO-Strany dan ditempatkan pada suatu daerah dekat kota Sverdiovsk.

Parade rudal SA-2 dalam sebuah defile tahun 60-an di Istora Senayan
Kondisi truck Zil 131 AURI, pembawa rudal SA-2

Walau tampil menakutkan bagi armada tempur NATO, SA-2 tidak pas untuk menyergap pesawat yang terbang dengan ketinggian rendah yang bermanuver tinggi. SA-2 kodratnya adalah rudal untuk menghantam target pada ketinggian menengah dan tinggi yang bermanuver rendah seperti pesawat pembom dan pesawat mata-mata. Dalam bobot yang besar, SA-2 bukan rudal yang bersifat mobile, platform peluncurannya menggunakan ground mounted. Sedangkan untuk pengiriman rudal menggunakan moda truk.

SA-2 di Indonesia
Kedatangan SA-2 di Bumi Pertiwi tak lepas dari kebutuhan pada saat operasi Trikora. Dalam beberapa literatur diketahui TNI AU mulai mengirimkan teknisi ke Uni Soviet untuk dilatih mengoperasika rudal ini pada tahun 1960. Setiap angkatan siswa yang belajar rudal tersebut dinamakan Naya. Sesuai dengan petunjuk dari Mabes AURI bahwa pembelian itu bersifat dadakan, sehingga tim TNI AU juga tidak berlama-lama di negara tirai besi. Dalam kunjungan sekitar sebulan itu dibicarakan segala sesuatu mulai dari jumlah yang akan dibeli, bagaimana pengirimannya, bagaimana dan dimana pendidikannya hingga garansi lainnya yang mesti tertera di dalam kontrak.

Replika rudal SA-2 dibawa dalam sebuah parade di Malioboro, Yogyakarta

Sementara program pendidikan awak dan teknisi berjalan, di Tanah Air dilakukan persiapan, mulai dari pembangunan hanggar, shelter dan mess. Pada tahun 1962, ada seratus personel yang direkrut dari bintara-bintara yang bertugas di satuan-satuan radar AURI, untuk belajar sistem rudal. Pendidikan radar rudal dilaksanakan di Polandia. Di sana pendidikan khusus bagi calon operator radar di skadron rudal di laksanakan.

Kedatangan SAM-75 mewujudkan sebuah sistem pertahanan udara yang canggih kala itu. Ditambah lagi, puluhan pesawat tempur dan artileri-artileri pertahanan udara telah dimiliki AURI. SAM yang baru diproduksi 1956 dan ditempatkan dalam skala besar di beberapa titik di Uni Soviet pada 1958, tak pelak lagi menjadi pergunjingan sehebat Tu-16 dan MiG-21 yang telah hadir lebih dulu. Bahkan pada tahun-tahun itu, hanya negara Pakta Warsawa yang diijinkan menggelar alutsista tersebut. Maka sangat mencurigakan bila Indonesia yang jauh di seberang lautan, tiba-tiba berhasil mendapatkan persenjataan tersebut.

Rudal SA-2 ditampilkan utuh di Museum Dirgantara, Yogyakarta
Rudal SA-2 dan truck Zil

SA-2 Sang Perisai Ibukota
Bila terjadi insiden pertempuran yang melibatkan operasi udara, sangat wajar bila target utama yang disasar adalah Ibukota RI, Jakarta. Dan SA-2 pun dihadirkan tak lain untuk mengamankan wilayah udara di beberapa instalasi strategis, termasuk Jakarta.

Dengan Skep Men/Pangau Nomor 53 Tahun 1963 tanggal 12 September 1963, dalam rangka mempertahankan wilayah kedaulatan udara nasional, dilakukan pembagian unsur-unsur rudal Hanud dalam pelaksanaan operasi, berada di bawah naungan Wing Pertahanan Udara (WPU) 100, membawahi 3 skadron peluncur dan 1 skadron teknik peluru kendali Yaitu :

1. Skadron 101 Peluncur peluru kendali darat ke udara SA-75 (di Cilodong)
2. Skadron 102 Peluncur peluru kendali darat ke udara SA-75 (di Tangerang)
3. Skadron 103 Peluncur peluru kendali darat ke udara SA-75 (di Cilincing)
4. Skadron Teknik 104 Penyiap Peluru Kendali (di Pondok Gede).

Proses loading SA-2 dari truck pembawa ke ground mounted

Tugas dari pada WPU 100 Peluru Kendali, pertama adalah mengatur, mengkoordinasikan dan memimpin langsung kegiatan-kegiatan dalam rangka pertahanan udara yang meliputi usaha penghancuran dengan peluru kendali terhadap sasaran-sasaran musuh/lawan, baik didalam maupun di luar wilayah Republik Indonesia. Kedua adalah mengatur, mengkoordinasikan dan mengawasi latihan yang membawa semua kesatuan yang dibawahnya dalam keadaan siaga.

WPU 100 Peluru Kendali berpangkalan di Pangkalan Angkatan Udara Halim Perdanakusuma. Rencananya juga akan ditempatkan di Bekasi dan Surabaya, namun perangnya (Trikora) urung. Surabaya pertimbangannya karena di sana pusat Angkatan Laut. Kalau tiga skadron pertama merupakan skadron operasional, maka Skadron 104 merupakan skadron penyiap (Satpen) yang bertanggungjawab menyiapkan rudal-rudal yang akan ditempatkan di ketiga skadron operasional.

Nyaris Terjadi Insiden
Selama kampanye Trikora, SA-2 disiapkan membentengi Jakarta, tak banyak cerita seputar masa genting itu, mengingat pada 1962 Belanda dan Indonesia sepakat menyelesaikan pertikaian di meja runding. Namun satu peristiwa pantas disimak dengan keberadaan SA-2 adalah pada suatu saat radar rudal menangkap adanya target dalam jarak tembaknya. Seperti biasa, anggota Skadron Peluncur 102 bersiaga seperti hari-hari sebelumnya. Namun, tiba-tiba keluar perintah yang menegangkan, bahwa sebuah pesawat intai strategis U-2 Dragon Lady melintas di Teluk Jakarta. Kejadian itu segera dilaporkan ke Panglima Kohanud. Oleh panglima diteruskan kepada Presiden lewat jalur ‘telepon merah’ untuk menunggu perintah selanjutnya. Sementara operator radar sudah mengunci posisi U-2.

SA-2 juga aktif digunakan di wilayah Arab dan Timur Tengah

Bisa dibayangkan bila Bung Karno saat itu ada di tempat ketika telepon berdering dari Panglima Kohanud, tidak seorang pun bisa membayangkan bagaimana perang yang akan terjadi kemudian. Namun saat itu, RI-1 sedang tidak ada di tempat dan target kemudian melarikan diri.

SA-2 dan Truk Zil-131 milik AD Jerman Timur saat era Perang Dingin

Menurut sumber dari Wikipedia, hingga saat ini rudal SA-2 sudah diproduksi sekitar 4600 unit dalam berbagai varian. Sebagian besar penggunanya jelas para negara-negara sahabat Uni Soviet/Rusia. Di lingkungan ASEAN, tercatat hanya Vietnam yang juga pernah mengoperasikan rudal ini. Sebagai rudal yang dikendalikan lewat gelombang radio, SA-2 rawan menghadapi aksi jamming, untuk itu pihak Rusia berhenti menggunakan rudal ini pada tahun 1980, dan kini mengadopsi rudal anti serangan udara yang superior, yakni SA-10/SA-12, atau juga dikenal dengan subutan keluarga rudal S-300. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi SA-2
Pabrik : Lavochkin OKB
Berat : 2.300 kg
Panjang : 10,6 meter
Diameter : 0,7 meter
Penggerak : Solid fuel booster dan liquid fuel upper stage operational
Hulu ledak : 200 kg
Daya jangkau : 45 km
Batas ketinggian: 20.000 meter
Kecepatan : 3,5 Mach
Pengendali : radio

Styx : Rudal Anti Kapal Pertama TNI AL

Rasanya nyaris terlupakan, jauh-jauh hari sebelum TNI AL mengoperasikan rudal anti kapal modern, macam keluarga Exocet, Harpoon, C-802 dan Yakhont, di masa revolusi awal tahun 60-an, TNI AL nyatanya juga sudah memiliki rudal anti kapal. Sesuai iklim politik pada saat itu, pasokan alutsista modern kala itu dipasok oleh Uni Soviet dan negara-negara pakta Warsawa lainnya. Rudal anti kapal pertama yang dioperasikan TNI AL adalah P-15 Termit, atau dalam kode NATO disebut sebagai Styx (SS-N-2).

Sytx didatangkan waktu itu guna keperluan kampanye militer dalam operasi Trikora merebut Irian Jaya. Sebagai rudal anti kapal yang lahir di era perang dingin, Styx dirancang dengan kemampuan dan daya hancur tinggi, tak ayal Styx memang punya daya deteren amat tinggi di era tersebut. Indikatornya bisa dilihat dari berat hulu ledaknya yang mencapai 500 kg high explosive, sementara bobot rudal secara keseleruhan 2,340 kg dengan jangkauan efektif mencapai 40 km, meski dalam teorinya bisa mencapai jarak 80 km.

Styx AL Uni Soviet dalam sebuah defile

Styx diluncurkan dengan beberapa pilihan sistem pemandu, mulai dari auto pilot, acitive radar, hingga pemandu berdasarkan infra merah. Untuk opsi pemandu radar biasanya didukung perangkat Electronic Support Measures (ESM) dan radar Garpun yang akan menuntun rudal antara jarak 5,5 dan 27 km dari batas target. Sensor pembidik pada rudal akan aktif mulai 11 km dari target sasaran, saat itu posisi rudal akan turun 1-2 derajat dari level target. Rudal maut ini umumnya meluncur sekitar 120 hingga 300 meter dari permukaan laut dengan kecepatan sub sonic 0,9 mach.

Kapal Cepat Komar saat melepaskan Styx

Walau saat didengungkannya operasi Trikora TNI AL juga mengoperasikan kapal penjelajah berat, KRI Irian, tapi Styx justru hadir dalam platform kapal cepat berpeluru kendali (fast attack craft missile) kelas Komar. Kapal cepat kelas Komar didatangkan TNI AL dari Uni Soviet pada periode 1961 – 1965. Jumlah yang dimiliki TNI AL pun cukup siginifikan, yakni mencapai 12 kapal yang masuk dalam jajaran armada KCR (Kapal Cepar Roket/Rudal) sebutan populer pada saat itu.

Kapal Cepat Komar tampak dari depan dengan dua tabung peluncur Sytx

Masing-masing kapal dapat membawa 2 unit rudal, nama-nama kapal kelas Komar TNI AL diambil dari nama senjata dari cerita pewayangan, yakni KRI Kelaplintah (601), KRI Kalmisani (602), KRI Sarpawasesa (603), KRI Sarpamina (604), KRI Pulanggeni (605), KRI Kalanada (606), KRI Hardadedali (607), KRI Sarotama (608), KRI Ratjabala (609), KRI Tristusta (610), KRI Nagapasa (611) dan KRI Gwawidjaja (612). Sebagai kapal cepat berudal, kelas Komar diawaki secara terbatas oleh 10 – 11 personel.

Dengan 4 mesin sub diesel, kelas Komar dapat ngebut hingga kecepatan 30 knot. Tidak ada informasi berapa unit Styx yang dimiliki TNI AL. Tapi dalam hitung-hitungan standar, idealnya dengan 12 kapal setidaknya TNI AL memilliki minimal 24 unit rudal Styx. ”Sayang” hingga akhir masa baktinya Styx di Indonesia belum pernah membuktikan kesaktiannya secara langsung, walau bila dicermati alutisista ini juga berperan dalam kampanye militer “perang urat saraf” yang membuat nyali Belanda ciut.

Dari beberapa informasi, kapal cepat kelas Komar ternyata masih dioperasikan TNI AL hingga tahun 1978. Sebuah usia yang lumayan panjang untuk kelas kapal dari Uni Soviet, mengingat beberapa alutsista sejawat asal Uni Soviet sudah keburu di grounded akibat embargo suku cadang. Bahkan informasi dari Janes’s Fighting Ship (1983 – 1984) menyebutkan Komar baru dipensiunkan TNI AL pada tahun 1985. Meski Komar bisa digunakan terus sampai 1985, kemungkinan lewat kanibalisasi suku cadang, rasanya masih harus dipertanyakan tentang fungsi dan operasional rudal Styx, mengingat rudal meski hanya dalam kondisi standby tetap memerlukan pemeliharan dan update suku cadang.

Besar kemungkinan Komar hingga akhir hayatnya tetap digunakan sebagai kapal patroli, pasalnya Komar masih sedikit bergigi dengan kanon kembar anti pesawat kaliber 25mm di dek depan. Sebagai kenang-kenangan kejayaan masa lalu, salah satu Styx kini bisa dijumpai sebagai monumen yang menghiasi halaman depan Markas Komando RI Kawasan Barat di Jakarta.

Born to Fight
Styx bisa dibilang jenis rudal yang legendaris dan meraih predikat rudal buatan Uni Soviet yang battle proven. Styx masuk dalam sejarah sebagai senjata yang mengubah pola peperangan di laut. Sejak mulai dioperasikan Uni Soviet pada tahun 1959, Styx telah dipasang pada 100 kapal serang cepat kelas Komar, dimana 70 diantaranya dikirimkan ke berbagai sekutu Soviet, termasuk 12 unit yang dijual ke Indonesia.

Pamor Styx mencuat saat digunakan dalam konflik antara Mesir dan Isreal. Saat itu, 21 Oktober 1967, dua kapal Komar milik Angkatan Laut Mesir meluncurkan Styx terhadap kapal berbendera Angkatan Laut Isreal, yakni perusak Eilat. Kedua kapal Mesir itu menembakkan rudalnya dari pangkalan di pelabuhan Alexanderia, dan berhasil mengkaramkan kapal perusak tersebut. Alhasil dunia pun gempar, sebab ini pertama kali sebuah kapal perang dapat ditenggelamkan dengan rudal.

Styx juga dapat dilepaskan dari platform kendaraan tempur di darat

Kapal serang komar dan Styx kemudian beraksi kembali dalam perang Vietnam. Di bulan April 1972, Komar milik Vietnam Utara berhasil menyerang kapal penjelajah USS Sterett yang sedang membombardir sasaran di pantai Vietnam. Tapi kali ini Styx tak berhasil mengkandaskan kapal sasaran, Styx yang diluncurkan dari kapal Vietnam Utara berhasil disergap oleh rudal darat ke udara RIM-2 Terrier yang dilepeaskan dari USS Sterett. Kejadian ini pun tercatat dalam sejarah sebagai pertama kalinya rudal dapat dihancurkan oleh rudal dalam perang.

RIM-2, rudal darat ke udara penangkis serangan Styx

Styx dan Osa Class
Selain duet antara Styx dan kapal serang tipe Komar, Styx juga menjalin duet dengan kapal serang kelas Osa yang dioperasikan Uni Soviet oleh keempat armadanya di Laut Utara, Laut Baltik, Laut hitam dan Pasifik. Rudal Styx pada Osa juga sudah mengalami peningkatan dari Styx versi pertama. Prestasi Styx dan Osa sudah tercatat dalam perang India vs Pakistan di tahun 1971. Dalam perang ini, kapal cepat Osa milik AL India dengan Styx-nya berhasil mengkandaskan kapal perusak Khaibar.

Kapal Serang Rudal kelas Osa, membawa 4 tabung peluncur Styx

Masih ada beragam kisah ‘penugasan’ Styx diberbagai belahan dunia, seperti pada kampanye militer pada krisis rudal Kuba pada tahun 1962. Bahkan varian Styx buatan Cina, yang disebut “Silkworm” juga dilibatkan dalam perang Iran – Irak di tahun 1980 – 1988. Kiprah tempur terakhir keluarga Styx dibuktikan dalam perang Teluk di tahun 1991, saat itu dua rudal Silkworm ditembakkan ke arah kapal penjelajah USS Mussouri, salah satu diantaranya berhasil ditembak jatuh oleh rudal Sea Dart yang diluncurkan dari kapal perusak Inggris, HMS Gloucester.

Sea Dart, sukses membungkam Styx

Pihak lawan Uni Soviet, alias dari AS dan NATO rupanya telah berhasil mengacaukan kendali Styx lewat teknologi electronic countermeasures (jamming). Ini dibuktikan saat Styx digunakan oleh Suriah dan AL Mesir dikala melawan Isreal dalam perang Arab – Isreal.
Hingga kini ribuan Styx dan kloningannya Silkworm dipercaya telah diproduksi ribuan unit. AL Jerman Timur setelah reunifikasi memberikan hampir 200 Styx ke AL Amerika di tahun 1991, terutama dari versi P-15M/P-22. AL Amerika menggunakan Styx untuk tes pertahanan rudal. Untuk Indonesia, Styx memang sudah tinggal kenangan, tapi setidaknya kita boleh berbesar hati sedikit, di Asia Tenggara hanya Indonesia dan Vietnam yang pernah menggunakan rudal sangar ini. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi Styx/P-15 Termit
Asal : Uni Soviet
Produsen : MKB Raduga
Berat : 2,340 kg
Panjang : 5,8 meter
Diameter : 0,76 meter
Hulu ledak : 500 kg
Penggerak : roket berbahan bakar cair/booster dengan roket berbahan bakar padat
Lebar sayap : 2,4 meter
Jangakaun : 80 km, efektif 40 Km
Kecepatan : 0,9 Mach
Ketinggian Terbang : 100 -300 meter di atas permukaan laut
Pemandu : sistem auto pilot, radar aktif, dan infra merah
Platform peluncuran : kapal perang dan ground launch.

Giraffe : Radar Intai Mobile Arhanud TNI AD

Radar Giraffe Arhanud TNI AD

Dalam menangkal upaya penyusupan serta serangan dari pesawat tempur lawan, kesatuan artileri pertahanan udara (Arhanud) mutlak membutuhkan dukungan radar untuk pengintaian dan pengendali pertempuran. Begitu juga halnya dengan sista (sistem senjata) rudal yang dioperasikan oleh TNI AD. Dari beragam rudal anti serangan udara yang dimiliki TNI AD, kesemuanya jelas memerlukan kehadiran radar, termasuk rudal manpad (rudal panggul) sekalipun idealnya memerlukan informasi taktis berupa panduan dari tim radar.

Nah, dari beragam jenis radar militer yang dimiliki TNI, terdapat radar pengintaian dan pengendali operasi rudal. Salah satunya adalah Giraffe buatan Saab (d/h Ericsson Microwave Systems AB), Swedia. Radar miliki satuan arhanud TNI AD ini sudah memperkuat pertahanan nasional sejak lama, meski tidak diketahui informasi kedatangannya, penulis sudah melihat sosok Giraffe pada tahun 1995, saat itu radar Giraffe ditampilkan dalam defile HUT 50 Tahun ABRI di Lanud Halim Perdanakusumah. Jelas dari segi umur, radar ini terbilang sudah cukup lama dioperasikan TNI.

Radar Giraffe TNI AD dalam gelar latgab, saat operasi tempur Giraffe dilapisi kamuflase

Giraffe terbilang radar yang khas, terutama dari desainnya. Sesuai dengan namanya, Giraffe yang artinya jerapah. Antena radar ini saat diaktifkan bisa menjulang setinggi 13 meter. Sesuai tugasnya, Giraffe adalah radar mobile, artinya platformnya dapat dipindah-pindahkan dengan mudah, pasalnya radar andalan TNI AD ini ditempatkan dalam kontainer di truk jenis Volvo N10 Turbo 16 ton, walau suatu saat penulis juga pernah melihat Giraffe ditopang oleh truk jenis Mercedes Benz.

Radar Giraffe sendiri dibuat dalam beberapa tipe dan platform, selain di setting untuk pertahanan udara di darat, tipe lain Giraffe juga ada yang disiapkan untuk pengoperasian di atas kapal perang (Sea Giraffe). Giraffe pertama kali diproduksi pada tahun 1977, dan hingga tahun 2007, ada 450 Giraffe yang telah terjual di seluruh dunia. Varian pertamanya adalah Giraffe 40, kemudian Giraffe 50AT, Giraffe 75, ARTE 740, Giraffe S, dan Giraffe AMB. Walau belum ada konfirmasi resmi, TNI AD sendiri disebut-sebut menggunakan Giraffe 40.

Truk Volvo Pembawa Radar Giraffe TNI AD
Bentang ketinggian antena Giraffe mencapai 13 meter

Lalu apa kehandalan Giraffe 40 yang dimiliki Indonesia? Giraffe 40 menggabungkan antara kemampuan command dan control dalam sebuah platform. Dengan antena setinggi 13 meter, Giraffe 40 dapat menyapu area sejauh 40 Km. Kemampuan dari radar ini dapat diintegrasikan dengan instrumen IFF (Identification Friend or Foe) subsistem MK XII dan dapat mendeteksi target yang bergerak di ketinggian rendah hingga target di ketinggian 10 Km. Radar ini dapat mengunci 9 sasaran sekaligus.

Di negeri asalnya, Swedia, radar ini diintegrasikan dengan sistem PS-70 dan PS-701 untuk mendukung penyediaan data bagi sistem rudal jarak dekat RBS-70 dan kanon anti serangan udara Bofors 40mm. Dengan jangkauan yang terbatas, Giraffe diklasifikasikan sebagai radar dekat dan menengah. Dengan beroperasi di frekuensi G/H (d/h C-band), kemampuan radar ini cukup optimal untuk menghadapi tindakan jamming dari lawan. Dengan kodratnya sebagai radar berkemampuan jarak pendek, maka Giraffe pun hanya dialokasikan untuk mendukung gelar rudal untuk jarak medium dan SHORAD (Short Range Air Defense).

Giraffe dalam upacara militer, tampak Giraffe dibawa dalam platform truk Mercedes Benz

Hadirnya Giraffe dipandang ideal bagi arsenal Arhanud TNI AD yang masih mangacu pada penggunaan rudal anti serangan udara jarak dekat. Untuk itu Giraffe pun menjadi ‘kawan’ yang setia bagi rudal Rapier dan RBS-70. Tak diketahui persis berapa unit Giraffe yang dimiliki Indonesia, mungkin bisa jadi dirahasiakan mengingat keberadaan radar merupakan elemen yang sensitf dari pertahanan udara nasional.

Tapi bila di setiap Detasemen Arhanud dilengkapi satu unit radar Giraffe, maka minimal Indonesia memiliki 4 unit radar Giraffe, mengingat TNI AD memiliki 4 Denarhanud yang mengoperasikan Rapier. Satu detasemen mengoperasikan satu jenis rudal, setelah era Rapier lalu digantikan rudal Poprad/Grom. Nah, untuk RBS-70 sendiri dioperasikan oleh Batalyon Artileri Pertahanan Udara Sedang (Arhanudse), salah satu yang menggunakan RBS-70 adalah Yon Arhanudse 15 Kodam IV/Diponegoro yang berkedudukan di Semarang, Jawa Tangah. Bisa jadi ada lebih dari 4 unit Giraffe yang beroperasi di Tanah Air.

Rudal RBS-70 dalam gelar operasi Latgab

Selain memandu target pada unit penembakan rudal, operator radar Giraffe juga dapat mendistribusikan informasi ke unit pertahanan udara non rudal, seperti pada elemen meriam Bofors L/70 40mm, Meriam S-60 57mm, Rheinmetal 20mm, dan kanon Giant Bow 23mm. Giraffe hingga saat ini kerap ditampilkan dalam event latihan gabungan (Latgab) TNI dan parade-parade militer. Gelar radar ini pun hanya dilakukan secara taktis, alias bilamana dibutuhkan saat adanya potensi ancaman.

Giraffe miliki AD Swedia

Di lingkungan ASEAN, Singapuran dan Malaysia diketahui juga mengoperasikan radar Giraffe. Malaysua diketahui menggunakan Sea Giraffe, sedangkan Angkatan Darat Singapura hebatnya sudah menggunakan Giraffe AMB (Agile Multiple Beam). Giraffe AMB adalah versi paling mutakhir dari keluarga radar ini, jangakauan radar bisa mencapai 60 Km dan dapat menampilkan target data dalam format 2 dan 3 dimensi. Selain jauh lebih akurat dari Giraffe 40, gelar operasi Giraffe AMB hanya memakan waktu 10 menit dan bisa dioperasikan cukup dengan 2 awak. (Haryo Adjie Nogo Seno)