Korea Selatan Guyur US$480 Juta untuk Pengembangan Rudal Udara ke Udara Jarak Pendek KF-21 Boramae

Meski menanti kelanjutan sisa angsuran biaya pengembangan dari Indonesia, namun Korea Selatan tak kendor dalam roadmap produksi jet tempur KF-21 Boramae. Menjelang fase produksi massal pada tahun ini, Korea Selatan lewat Defense Acquisition Program Administration (DAPA) terus mempersiapkan arsenal persenjataan untuk KF-21. Dengan fokus pada usaha kemandirian alutsista, DAPA telah mengumumkan investasi senilai US$480 juta untuk pengembangan rudal udara ke udara jarak pendek yang akan diproduksi secara lokal.
Baca juga: Prototipe Kedua KF-21 Boramae Luncurkan Rudal Udara ke Udara IRIS-T
Dilansir Defencesecurityasia.com, disebut dana pengembangan rudal udara ke udara jarak pendek bersumber dari anggaran pertahanan nasional dan dalam prosesnya akan melibatkan beberapa manufaktur pertahanan dalam negeri. Program pengembangan rudal udara-ke-udara jarak pendek bertujuan untuk memproduksi rudal-rudal ini pada tahun 2035.
Inisiatif ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan industri pertahanan lokal melalui penciptaan sistem pertahanan canggih dan lebih lanjut meningkatkan ekspor rudal dalam negeri yang terkait dengan jet tempur KF-21.

Sebelumnya dalam serangkaian uji coba, prototipe jet tempur KF-21 Boramae telah melakukan uji coba meluncurkan rudal udara ke udara jarak jauh dan meluncurkan rudal udara ke udara jarak pendek/menengah IRIS-T.
IRIS-T (Infra Red Imaging system Tail/Thrust Vector Controlled), adalah rudal udara ke udara dengan jarak jangkau 25 km. Diproduksi oleh Diehl BGT Defence, Jerman, rudal ini memiliki pemandu infrared denga daya lacak tinggi, serta dapat menyajikan output gambar dengan resolusi tinggi. IRIS-T dapat melakukan manuver 360 derajat, dan dapat dikendalikan lewat radar maupun lewat bidikan dari helm sang pilot.
Kecepatan maksimum IRIS-T adalah Mach 3 atau sekitar 3.704 km per jam. Kecepatan ini memungkinkan rudal untuk mencapai target dengan cepat dan efektif, sehingga memberikan waktu yang sangat sedikit bagi target untuk merespons atau menghindar dari serangan rudal.
Sesuai rencana yang telah ditetapkan, pada tahun 2026 Angkatan Udara Korea Selatan sudah harus menerima unit perdana jet tempur KF-21 Boramae. Di mana secara keseluruhan, Korea Aerospasce Indudstris (KAI) selaku manufaktur akan memproduksi 120 unit KF-21 Boramae untuk AU Korea Selatan. Jelas bukan perkara mudah, mengingat untuk memproduksi jet tempur gress (baru) membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
https://www.indomiliter.com/dibawa-dalam-uji-terbang-perdana-kf-21-boramae-inilah-kecanggihan-rudal-udara-ke-udara-meteor/
Berangkat dari pencapaian dalam program pengembangan prototipe KF-21 yang progresif dan sesuai dari jadwal yang ditetapkan, maka DAPA mempercepat rencana produksi massal KF-21 Boramae untuk kebutuhan AU Korea Selatan, yang mana KF-21 digadang sebagai pengganti jet tempur lawas F-5 Tiger dan F-4 Phantom.
Setelah mencapai kesesuaian tempur pada Mei 2023, yang artinya enam bulan lebih awal dari yang jadwal direncanakan, maka KF-21 Boramae akan memulai produksi massal KF-21 pada tahun 2024. (Gilang Perdana)



tunggu sajalah pembayaran dari Indonesia, sementara itu silahkan Kroya lanjutken sampe selesai KF Boramae nya, pokoknya tunggu sajalah…
@jin
Bener juga ya buat apa kerjasama dg Korea yg hanya buat sayap dan sirip…..mending kerjasama dg Turki yg bisa bikin “bualan”
#coba kesinikan link MOU dg Turki nya
Prabowo waktu berkunjung ke PT. DI bilang para ilmuan sdg belajar ke Turkiye dan Indonesia lagi ikut pengembangan pesawat gen 5 KAAN, jd sepertinya KF21 akan di lepas krn ToT hanya buat sayap dan sirip
Buat apa lanjutkan. Baiknya mengarah ke generasi lebih lanjut. Klo teknologi ga dikasih sama korsel dan indo cuma jadi sales promosi alat2 baru korsel aja.
Asumsi saya sih pemerintah dlm kondisi maju males, mundur udah kadung bayar ditambah hubungan diplomatik bisa merenggang…berlakunya kontrak pembelian 42 pespur Rafale ngasih kode keras ke pihak Korea kalau Indo ga miskin2 amat tp masalah TOT yg ga jelas dan jalur produksi yg kemungkinan sangat lama sampai di Indonesia harus bisa dijawab pihak Korea ga cuma nagih2 doang
๐๐ ๐๐ฉ๐๐ข๐ง ๐ง๐๐ซ๐ฎ๐ฌ๐ข๐ง ๐ฉ๐ซ๐จ๐ฒ๐๐ค ๐ฒ๐ ๐๐ฎ๐ฆ๐ ๐๐ข๐ค๐ข๐ง ๐๐๐๐ ๐๐ฅ๐ข๐๐ฌ ๐๐๐ซ๐จ๐ฌ๐๐ซ๐ข ๐๐จ๐๐ง๐ ? ๐๐๐ค๐ก๐ง๐จ๐ฅ๐จ๐ ๐ข ๐๐๐ง๐ ๐ ๐ข๐ก๐ง๐ฒ๐ ๐ฉ๐ฎ๐ง๐ฒ๐ ๐จ๐ซ๐๐ง๐ ๐ฅ๐๐ข๐ง, ๐๐ข๐ฅ๐ข๐ซ๐๐ง ๐๐ข ๐๐ฆ๐๐๐ซ๐ ๐จ ๐ฌ๐ฉ๐ญ ๐๐ฎ๐ฌ๐ข๐ ๐ฆ๐ข๐ฌ๐๐ฅ๐ง๐ฒ๐ ๐ฒ๐ ๐๐๐ฅ๐๐ฌ๐๐ข ๐ฅ๐ก๐ ๐ฐ๐จ๐ง๐ ๐ฌ๐๐ฆ๐ฎ๐ ๐ข๐ฆ๐ฉ๐จ๐ซ๐ญ.. ๐๐๐ฒ๐๐ง๐ ๐ฌ๐๐ฒ๐๐ง๐ ๐๐ฎ๐ข๐ญ ๐ ๐๐๐ ๐๐ฎ๐ฆ๐ ๐๐๐ฅ๐ข ๐๐จ๐๐ฒ ๐ค๐๐ซ๐จ๐ฌ๐๐ซ๐ข
Sepertinya Indo tidak berminat serius untuk melanjutkan proyek KFX/IFX ini..disaat proses pembayaran pembelian 42 PesPur Rafale lancar jaya padahal berbiaya tinggi…sementara proyek KFX/IFX masih tersendat pembayaran cicilannya…
Teknologi dari negara sahabat sudah berhasil diserap oleh peneliti indonesia terkait pengembangan radar dan rudal, sejauh mana keseriusan pemerintah dalam mewujudkan industri dan rudal, hanya waktu yg akan menjawab, apakah visi Indonesia emas 2045 bisa terwujud?
Ingat kasus pencurian laptop dan koper tim negosiasi saat dikorea?? Apakah ada permintaan maaf dari Korea saat itu? Dari 8 klausul transfer of technology terkait teknologi kritis dan sensitif apakah sudah dilakukan oleh Korea?
entah kenapa kok proyek kf 21 tni kerasa semakin menuju batal bukan diseriusin, sejauh ini cuma penggelontoran dana korsel yang sering keluar beritanya, sedangkan yang dari ri baru sedikit
Kita masih punya tunggakan berapa sih di proyek ini ๐ค
Dengan semua polemik ttg pengadaan mirage-2000, apa masih kekeuh tetap mau dibeli dan berpaling dari proyek boramae shg menggenapi proyek mangkrak selain improved CBG