Kawal Ketat Presiden Prabowo ke Cebu, KRI Prabu Siliwangi ‘Gendong’ MLRS RM70 Grad Marinir ke Filipina

(capture video x)

Kehadiran fregat terbaru TNI AL, KRI Prabu Siliwangi 321, di perairan Cebu, Filipina, dalam rangka pengamanan KTT ASEAN 2026 menarik perhatian publik. Sebuah video amatir yang viral memperlihatkan pemandangan tidak biasa di atas dek helikopter fregat canggih tersebut.

Baca juga: R-Han 122mm: Solusi Kemandirian Roket Balistik Artileri Medan

Yang dimaksud adalah satu unit sistem peluncur roket multi-laras (MLRS) self propelled RM70 Grad milik Korps Marinir nampak bersiaga. Penempatan alutsista artileri medan darat di atas dek kapal perang ini menegaskan fleksibilitas taktis TNI dalam mengintegrasikan kekuatan antar-matra.

Bagi TNI AL, konsep penggelaran roket di atas dek kapal bukanlah hal baru, namun kehadirannya pada misi pengamanan Presiden RI di luar negeri memberikan pesan deteren yang kuat sekaligus menunjukkan kemampuan transformasi sistem senjata darat menjadi kekuatan bantuan tembakan kapal yang mematikan.

RM70 Grad merupakan sistem peluncur roket kaliber 122mm buatan Cekoslowakia (kini Ceko) yang telah menjadi tulang punggung kekuatan artileri Korps Marinir TNI AL. Berbasis truk Tatra 813 atau 815 dengan penggerak 8×8, sistem ini memiliki mobilitas tinggi dan mampu memuntahkan 40 roket hanya dalam waktu kurang dari 30 detik.

Secara teknis, roket yang diluncurkan memiliki jangkauan standar sekitar 20 kilometer, namun dengan penggunaan munisi terbaru, jangkauannya dapat ditingkatkan hingga lebih dari 30 kilometer. Keunggulan utama RM70 Grad dibandingkan sistem Grad konvensional adalah adanya rak amunisi cadangan di belakang kabin yang memungkinkan proses pengisian ulang (reloading) dilakukan secara otomatis dalam waktu singkat, sehingga intensitas tembakan (rate of fire) tetap terjaga di medan tempur.

Penempatan RM70 Grad di atas dek KRI Prabu Siliwangi mengingatkan pada uji coba serupa yang pernah dilakukan TNI AL menggunakan kapal jenis Landing Ship Tank (LST). Dalam skenario bantuan tembakan kapal (Naval Gunfire Support), MLRS berfungsi sebagai senjata pemukul untuk menghujani area pesisir dengan daya hancur masif sebelum pasukan pendarat tiba.

Transformasi ini mengubah peran sistem darat menjadi aset “artileri laut” sementara yang sangat efektif. Dengan daya gempur area yang luas, RM70 Grad mampu menghancurkan konsentrasi pasukan lawan, instalasi pantai, maupun baterai pertahanan udara musuh di pesisir yang tidak bisa dijangkau dengan presisi oleh meriam utama kapal yang memiliki keterbatasan volume tembakan sekali jalan.

Secara taktis, keberadaan RM70 Grad di dek fregat saat misi pengamanan KTT ASEAN di Filipina memberikan perlindungan tambahan terhadap ancaman dari daratan maupun serangan asimetris dari perairan dangkal. Meskipun KRI Prabu Siliwangi 321 sendiri sudah dilengkapi dengan sistem persenjataan meriam canggih, hadirnya MLRS Marinir memberikan opsi serangan area yang cepat dan masif jika diperlukan.

Inovasi “sea-basing” ini membuktikan bahwa integrasi alutsista antar-matra TNI kini semakin matang, di mana keterbatasan platform laut dapat ditutupi dengan fleksibilitas alutsista darat untuk menciptakan payung perlindungan yang berlapis bagi kepala negara dalam kunjungan diplomatik penting di kawasan. (Gilang Perdana)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *