Buka Peluang Ekspor ‘Used Warship’, Jepang Jajaki Transfer Destroyer Asagiri Class ke TNI AL

Kabar mengejutkan datang dari panggung diplomasi pertahanan regional, di mana Jepang dan Indonesia secara resmi sepakat untuk memulai pembicaraan tingkat kerja terkait potensi transfer kapal perang perusak (destroyer) Asagiri class ke Jakarta. Kesepakatan strategis ini dicapai dalam pertemuan bilateral di Tokyo antara Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi dan Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin.

Baca juga: Antisipasi Ancaman Rudal Hipersonik, Jepang Gelar Ekspansi Militer Antariksa Besar-Besaran

Bagi Indonesia, rencana ini menjadi angin segar di tengah kebutuhan mendesak untuk memperkuat patroli armada laut di wilayah kepulauan yang sangat luas. Sementara bagi Tokyo, langkah ini merupakan bagian dari akselerasi kebijakan ekspor alutsista yang kian longgar pasca-revisi aturan transfer teknologi pertahanan mereka.

Melihat profilnya, Asagiri class merupakan kelompok kapal perusak kawal umum (general-purpose destroyer) yang dibangun untuk Pasukan Bela Diri Maritim Jepang (JMSDF) dan mulai beroperasi secara bertahap sejak tahun 1988. Total ada delapan unit kapal dalam kelas ini yang dibangun oleh berbagai galangan kapal papan atas Jepang seperti IHI Corporation dan Mitsubishi Heavy Industries.

Meskipun beberapa unit di antaranya kini telah dialihfungsikan menjadi kapal latih (training ship) dan kapal pertamanya baru saja dipensiunkan pada Maret lalu, platform ini dikenal memiliki rekam jejak operasi yang sangat tangguh, termasuk pernah dideploy dalam misi internasional pemberantasan bajak laut di lepas pantai Somalia. Proyek potensial ke Indonesia ini nantinya akan berstatus transfer kapal perang bekas (used warship) yang akan diaktifkan dan dimodernisasi kembali sesuai kebutuhan operasional TNI AL.

Secara spesifikasi teknis, Asagiri class memiliki dimensi yang cukup masif dengan panjang mencapai 137 meter, lebar 14,6 meter, dan bobot mati standar berkisar di angka 3.500 ton. Kapal perusak ini mengandalkan sistem navigasi dan pendorong COGAG (Combined Gas Turbine and Gas Turbine) yang disokong oleh empat turbin gas Kawasaki-Rolls-Royce Spey, memungkinkannya melesat hingga kecepatan maksimal 30 knot.

Dirancang sebagai kapal tempur multi-peran, Asagiri dilengkapi dengan dek penerbangan dan hanggar di bagian buritan yang mampu membawa satu unit helikopter patroli anti-kapal selam sekelas SH-60 J/K Sea Hawk. Kehadiran fasilitas helikopter ini memperluas radius deteksi dan penindakan armada di tengah lautan lepas.

Keunggulan utama dari destroyer Asagiri class terletak pada konfigurasi persenjataannya yang sangat seimbang dan mematikan untuk misi asimetris maupun konvensional. Untuk pertempuran bawah air, kapal ini dipersenjatai dengan sistem rudal anti-kapal selam ASROC (Anti-Submarine Rocket) serta tabung peluncur torpedo tiga tabung tipe 68.

Pada lini pertahanan udara dan permukaan, Asagiri mengandalkan satu meriam utama OTO Melara kaliber 76 mm di haluan, sistem rudal permukaan-ke-udara Sea Sparrow, serta rudal anti-kapal legendaris Harpoon. Sistem elektroniknya juga terbilang mapan dengan integrasi radar pencarian udara, radar pencarian permukaan, sistem sonar canggih, serta perangkat perang elektronik (Electronic Warfare) yang sangat relevan untuk menghadapi ancaman modern di kawasan perairan kritis seperti Laut Natuna Utara.

Jepang Dekati RI, Pesawat Amfibi US-2 Pun Ditawarkan

Terkait skema pengadaan, pembicaraan antara Jakarta dan Tokyo saat ini masih berada dalam tahap awal sehingga belum ada keputusan final mengenai harga, jumlah kapal, maupun jadwal pengalihan. Namun, berdasarkan pola kerja sama pertahanan Jepang yang sedang berjalan dengan negara mitra seperti Filipina, Tokyo tidak hanya mengandalkan skema komersial murni atau kredit ekspor konvensional, melainkan juga memanfaatkan program hibah serta bantuan keamanan resmi atau Official Security Assistance (OSA).

Skema OSA ini dirancang khusus oleh Tokyo untuk menyediakan peralatan pertahanan dan pembiayaan bagi negara-negara yang dinilai memiliki kesamaan pandangan dalam menjaga stabilitas keamanan di kawasan Indo-Pasifik. Pola kombinasi antara OSA, kredit ekspor, serta paket pelatihan dan perawatan komprehensif inilah yang diproyeksikan akan menjadi menu utama dalam meja perundingan dengan Indonesia. (Bayu Pamungkas)

Ketar-ketir dengan Klaim Beijing, Jepang Bangun Pangkalan Udara untuk Jet Tempur AS di Pulau Tak Berpenghuni

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *