Diboikot Eropa, Ekspor Senjata Israel Malah Tembus Rekor US$19,2 Miliar di 2025

Di tengah kecaman internasional dan hantaman sanksi ekonomi akibat eskalasi konflik di Jalur Gaza, industri pertahanan Israel justru mencetak rekor finansial yang mencengangkan. Kementerian Pertahanan Israel resmi mengumumkan bahwa nilai penjualan senjata luar negeri mereka sepanjang tahun 2025 berhasil menembus angka US$19,2 miliar.

Baca juga: Rusia Tampilkan Varian Terbaru MBT-90MS Untuk Pasar Ekspor, Daya Gempur dan Proteksi Ditingkatkan

Capaian ini menandai lonjakan masif hampir 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka US$14,8 miliar, sekaligus menobatkan tahun 2025 sebagai tahun kelima berturut-turut bagi Israel dalam memecahkan rekor ekspor pertahanan tertinggi sepanjang sejarah mereka.

Berdasarkan data yang dirilis oleh SIBAT (Direktorat Kerja Sama Pertahanan Internasional Kementerian Pertahanan Israel), skema penjualan antar-pemerintah (Government-to-Government atau G2G) mendominasi lebih dari separuh total ekspor dengan nilai mencapai US$10 miliar. Tidak main-main, sekitar 53 persen dari keseluruhan kontrak yang ditandatangani merupakan kesepakatan bernilai jumbo di atas US$100 juta per transaksi.

Meroketnya nilai penjualan ini tidak lepas dari kebijakan Direktur Jenderal Kementerian Pertahanan Israel, Amir Baram, yang tahun lalu meluncurkan reformasi radikal berupa pelonggaran signifikan pada proses perizinan ekspor serta perluasan daftar negara yang diizinkan untuk membeli teknologi militer Israel.

Buntut Penyusupan Drone Intai Korea Utara, Seoul Incar “Sky Spotter” dari Israel

Secara geografis, Eropa masih menjadi kiblat konsumen terbesar dengan menyerap 36 persen dari total ekspor (senilai US$6,9 miliar). Meskipun angka ini menurun dibandingkan tahun 2024 yang sempat menyentuh 54 persen—efek dari pembelian sistem pertahanan udara jarak jauh Arrow 3 oleh Jerman senilai US$4,6 miliar—permintaan dari benua biru tetap berada di level tertinggi. Hal ini terbilang ironis mengingat beberapa pemerintahan di Eropa Barat gencar memboikot perusahaan pertahanan Israel, termasuk keputusan Perancis yang melarang kehadiran paviliun nasional Israel di ajang pameran alutsista bergengsi Eurosatory di Paris.

Kementerian Pertahanan Israel mengklaim bahwa performa operasional alutsista mereka yang “teruji tempur” (combat-proven) dalam menghadapi konflik multifron, termasuk dua gelombang serangan langsung dari Iran, menjadi daya tarik utama yang memicu tingginya permintaan global. Nilai jual dari status combat-proven inilah yang membuat teknologi pertahanan Israel selalu diburu oleh negara-negara yang tengah menghadapi kecemasan geopolitik.

Misterius, Suatu Negara di Asia Lakukan Upgrade F-5 Tiger dari Perusahaan Israel

Seperti dikutip The Times of Israel, selain Eropa, lompatan pasar yang paling dramatis terjadi di kawasan Asia-Pasifik. Penjualan ke wilayah ini hampir naik dua kali lipat, meroket dari US$3,4 miliar pada tahun 2024 menjadi US$6,1 miliar di tahun 2025, atau mencakup 32 persen dari total kue ekspor Israel.

Sementara itu, pasar Timur Tengah dan Afrika Utara, khususnya negara-negara penandatangan Abraham Accords seperti Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Maroko—juga mengalami kenaikan ke angka 15 persen dari total penjualan. Pejabat militer Israel bahkan memproyeksikan pasar Teluk akan semakin terbuka lebar setelah ketegangan dengan Iran mereda. Terlebih, selama konflik teranyar, Israel sempat mengerahkan sistem pertahanan udara Iron Dome beserta personelnya ke UEA untuk mencegat rudal-rudal Iran yang menyasar negara tersebut.

Inovasi teknologi tingkat tinggi yang dikombinasikan dengan intensitas konflik yang dialami Israel memang menempatkannya di posisi yang unik dalam arsitektur pertahanan global. Jika merujuk pada data tren ekspor senjata global jangka panjang yang dirilis oleh lembaga riset perdamaian dunia, SIPRI (Stockholm International Peace Research Institute), Israel secara konsisten mengamankan posisinya di dalam daftar 10 besar negara eksportir senjata utama di dunia.

Israel biasanya bersaing ketat dengan negara-negara Eropa seperti Italia, Inggris, dan Spanyol di peringkat 9 atau 10, dengan pangsa pasar global berkisar antara 2 hingga 2,4 persen dari total ekspor senjata dunia. (Bayu Pamungkas)

Jadi Eksportir Drone Tempur Terbesar di Dunia, Inilah Strategi Cina Taklukan Pasar Global

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *