Gandeng Microsoft dan Google, Hanwha Ocean Akselerasi Pengembangan Kapal Perang Berbasis Kecerdasan Buatan (AI)

Paradigma industri galangan kapal militer global kini tengah mengalami pergeseran radikal yang sangat signifikan. Menghadapi tantangan peperangan maritim masa depan, raksasa pertahanan asal Korea Selatan, Hanwha Ocean, secara agresif mulai melangkah jauh melampaui teknik konstruksi kapal perang konvensional berbasis baja.
Melalui langkah digitalisasi yang masif, Hanwha Ocean bertransformasi menjadi penyedia platform pertahanan maritim cerdas terintegrasi dengan mempercepat pengembangan teknologi angkatan laut berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence). Komitmen besar ini ditegaskan kembali dalam ajang Next-Generation Smart Naval Vessel Technology Forum Keempat yang digelar di Seoul, dengan melibatkan para pemangku kepentingan strategis mulai dari pejabat militer, akademisi, hingga pakar industri pertahanan papan atas dunia.
Forum strategis ini menjadi sangat menarik karena tidak lagi sekadar mendiskusikan kemajuan teknik pengelasan atau rancang bangun lambung kapal, melainkan berfokus penuh pada bagaimana membangun sistem angkatan laut masa depan yang berpusat pada teknologi AI.
Kehadiran para petinggi dan pakar teknologi dari raksasa global seperti Microsoft dan Google Cloud, bersama dengan akademisi dari Seoul National University serta Hanwha Systems, mencerminkan dorongan kuat Hanwha Ocean menuju transformasi digital pertahanan maritim. Para analis pertahanan menilai bahwa sistem tempur berbasis AI, operasi otonom, serta kemampuan integrasi data akan menjadi keunggulan kompetitif utama berikutnya di pasar pertahanan global.
Tren itu kian terakselerasi setelah berkaca dari konflik di Ukraina yang menyoroti betapa krusialnya peran sistem nirawak dan operasi medan perang yang didukung oleh algoritma cerdas, di mana kapal perang kini berevolusi menjadi sebuah platform data yang bergerak di atas air.

Dalam sesi diskusi teknis, kolaborasi dengan raksasa teknologi Silicon Valley mengupas tuntas implementasi AI pada seluruh siklus hidup kapal, mulai dari desain, operasional, hingga pemeliharaan. Eksekutif Microsoft, Kim Han-gyeol, memperkenalkan strategi pemeliharaan, perbaikan, dan pemeriksaan (Maintenance, Repair, and ORO/MRO) berbasis AI untuk kapal angkatan laut cerdas, seraya menekankan bahwa sistem berbasis agen AI (AI agent-based) akan segera menjadi standar baru di seluruh infrastruktur pertahanan dan manufaktur global.
Di sisi lain, Park Nam-ok selaku Kepala Google Cloud Korea, melontarkan konsep ‘Physical AI’ di mana sistem kecerdasan buatan berinteraksi dan mengontrol langsung operasi fisik kapal, serta pentingnya konsep ‘Sovereign AI’ yang menjamin kedaulatan penuh suatu negara atas infrastruktur data kritis dan sistem keamanan nasional mereka agar tidak terjadi kebocoran informasi strategis.
Airbus Uji Teknologi HTeaming, Helikopter H135 Sukses Kendalikan Dua Drone dari Kapal Perang
Selain aspek operasional, implementasi AI ini juga dirancang untuk mengatasi krisis internal yang tengah dihadapi oleh militer Korea Selatan. Hanwha Systems memaparkan konsep kapal tempur cerdas berbasis AI yang mengadopsi teknologi otomatisasi nirawak secara masif. Langkah ini diambil sebagai solusi konkret untuk memangkas kebutuhan personel atau awak kapal, guna merespons kelangkaan sumber daya manusia militer akibat penurunan tingkat kelahiran yang drastis di negeri ginseng tersebut.
Gebrakan teknologi ini berjalan selaras dengan manuver ekspansi global yang tengah dilancarkan oleh Hanwha Ocean di pasar internasional. Saat ini, perusahaan tersebut sedang bergerak agresif untuk mengamankan kemampuan teknologi angkatan laut masa depan demi memuluskan rencana akuisisi galangan kapal di Philadelphia, sekaligus memperluas cengkeraman mereka ke dalam pasar MRO Angkatan Laut AS. (Bayu Pamungkas)
Antisipasi Ancaman Rudal Hipersonik, Jepang Gelar Ekspansi Militer Antariksa Besar-Besaran


