Setelah Chengdu J-20S, Sukhoi Su-57D Jadi Jet Tempur Stealth Kedua yang Dirancang dengan Tandem Seat

Kehadiran varian kursi ganda (tandem seat) pada jet tempur generasi kelima menandai babak baru dalam evolusi doktrin pertempuran udara modern yang kian kompleks. Selama bertahun-tahun, platform stealth utama dunia seperti F-22 Raptor dan F-35 Lightning II milik Amerika Serikat kokoh mempertahankan desain kursi tunggal (single-seat), dengan asumsi bahwa otomatisasi komputer dan kecerdasan buatan (AI) sudah cukup menopang beban kerja pilot.
Baca juga: Bocor di Medsos! Varian Dua Kursi Sukhoi Su-57 Felon Rusia Mulai Uji Darat (Ground Test)
Namun, paradigma ini mulai dipatahkan secara radikal ketika raksasa dirgantara China, Aviation Industry Corporation of China (AVIC), resmi memperkenalkan varian Chengdu J-20S kepada publik dunia untuk pertama kalinya pada ajang Airshow China di Zhuhai pada November 2024 melalui model skala penuh statis, disusul debut operasional resminya pada parade militer September 2025.
Langkah pionir Beijing itu kemudian memicu dinamika baru di kubu Rusia yang belakangan gencar mengembangkan varian Sukhoi Su-57 kursi ganda, yang santer diduga mengusung kode Su-57D. Munculnya varian tandem pada jet siluman ini bukan sekadar modifikasi kosmetik untuk keperluan latih (conversion trainer) konvensional, melainkan sebuah lompatan taktis terencana untuk mengintegrasikan peran awak kedua sebagai elemen pengganda kekuatan (force multiplier) yang sangat mematikan di teater operasi udara masa depan.
Secara teknis pertahanan, penambahan satu kompartemen kokpit ekstra di bagian belakang untuk awak kedua memberikan imbas dan konsekuensi arsitektural yang tidak sedikit pada ruang internal pesawat (internal volume). Pada jet tempur generasi keempat, penambahan kursi kedua umumnya mengorbankan kapasitas tangki bahan bakar internal (internal fuel capacity).

Namun, pada jet siluman generasi kelima seperti J-20S dan rancangan Su-57D, pengurangan bahan bakar internal ini diantisipasi secara ketat agar tidak memangkas jarak jelajah (operational range) secara drastis. Konfigurasinya disiasati melalui rancangan ulang penampang atas bodi pesawat (fuselage spine) yang dibuat sedikit lebih cembung atau ditinggikan tepat di belakang kanopi utama.
Ruang tambahan di punggung pesawat dimanfaatkan untuk mengompensasi volume bahan bakar yang hilang di area kokpit, sehingga jarak jelajah taktis pesawat dalam mode stealth tetap dapat dipertahankan pada level optimal untuk kebutuhan misi interdiksi jarak jauh di kawasan Indo Pasifik tanpa perlu terlalu sering bergantung pada pesawat tanker.
J-20S, J-20A and J-20 side by side.
♦️Top: two-seat J-20S
♦️Left: J-20A (with WS-10C2 engine)
♦️Right: J-20 (with WS-10C engine) pic.twitter.com/nuS2uUIIBR
— 𝔗𝔥𝔢 𝕯𝔢𝔞𝔡 𝕯𝔦𝔰𝔱𝔯𝔦𝔠𝔱△ 🇬🇪🇺🇦🇺🇲🇬🇷 (@TheDeadDistrict) January 6, 2026
Tantangan berikutnya bergeser pada kapasitas beban senjata (payload) dan karakteristik penampang radar (Radar Cross Section – RCS). Karena prinsip utama jet tempur generasi kelima wajib menyembunyikan seluruh persenjataannya di dalam perut pesawat demi mempertahankan kemampuan siluman, arsitektur ruang bom internal (internal weapons bay) pada J-20S dan Su-57D dipastikan tidak mengalami perubahan atau pengurangan ukuran sama sekali.
Senjata utama seperti rudal udara ke udara jarak jauh berpemandu radar aktif sekelas PL-15 pada J-20S tetap dapat diusung penuh di dalam main bay. Dampak nyata dari penambahan kursi dan sistem avionik ekstra ini justru berwujud pada peningkatan bobot kosong pesawat (empty weight) serta sedikit pergeseran titik berat (center of gravity). Guna mencegah penurunan performa manuver akibat penambahan bobot ini, integrasi mesin baru berspesifikasi pembakaran lanjut (afterburner) yang lebih bertenaga—seperti mesin WS-15 pada J-20S—menjadi kunci krusial agar rasio dorong-ke-berat (thrust-to-weight ratio) pesawat tidak kedodoran saat mengudara dengan beban penuh.
🔴 JUST IN
The era of American air dominance is over.
The Chinese Air Force is on the rise with the entry into service of over 300 fifth-generation heavy stealth fighters (excluding the J-20A/J-20S)!
The American F-22: Stagnating at only 185 heavy stealth fighters, with a very… pic.twitter.com/6SOwcBdzzG
— China pulse 🇨🇳 (@Eng_china5) February 14, 2026
Beban kerja yang tinggi di era peperangan modern berbasis data inilah yang pada akhirnya menjustifikasi seluruh kompensasi teknis tersebut. Dalam skenario pertempuran intensitas tinggi, seorang pilot tunggal rawan mengalami batas kapasitas kognitif (cognitive overload) jika harus menerbangkan pesawat sekaligus mengelola fusi sensor taktis yang rumit.
Di sinilah awak kedua yang duduk di kursi belakang memainkan peran revolusioner sebagai Weapon Systems Officer (WSO) atau operator komando udara terdistribusi. Fokus utama dari keberadaan awak kedua ini dioptimalkan untuk mengeksekusi misi peperangan elektronik tingkat lanjut, mengoordinasikan serangan presisi jarak jauh ke darat dan laut, serta mengelola komando kendali medan tempur (command and control center) bergerak yang terintegrasi secara real-time dengan aset-aset tempur kawan.

Ahora Rusia vuelve a ofrecer a su antiguo socio en el FGFA una version biplaza del Su-57 (la imagen mostrada no asegura que no sea IA) denominado Su-57M o Su-57E, renombrándolo como un caza de mando diseñado específicamente para el control de enjambres de drones militares pic.twitter.com/kbIeIQRRSg
— Roberto Escamez (@robeslo) May 17, 2026
Peran yang paling krusial dan menjadi alasan utama lahirnya konfigurasi tandem pada jet siluman adalah bertindak sebagai pengendali utama dari kawanan drone tempur otonom, atau yang dikenal dengan doktrin Loyal Wingman. Melalui integrasi konsep Manned-Unmanned Teaming (MUM-T), penerbang di kursi belakang bertanggung jawab penuh menggunakan komputer berbasis kecerdasan buatan (AI) taktis untuk mengarahkan unit-unit drone siluman pendamping guna melakukan pengintaian di area berbahaya, memancing radar pertahanan udara musuh, hingga mengeksekusi serangan presisi.
Dengan menyerahkan kendali taktis drone kepada awak kedua, pilot di kursi depan dapat berkonsentrasi penuh pada manuver penerbangan dan pertahanan diri pesawat utama. Pola pembagian kerja ganda ini memastikan bahwa efektivitas tempur dari seluruh konstelasi udara dapat dieksploitasi secara maksimal, memosisikan J-20S maupun masa depan Su-57D bukan lagi sekadar sebagai jet penempur superioritas udara murni, melainkan sebagai pos komando siluman garis depan yang memegang kendali penuh atas jalurnya pertempuran asimetris global. (Haryo Adjie)
Game Changer: Cina Kembangkan Rudal Jelajah Stealth Kompak, ‘Pas’ di Dalam Perut J-20 dan J-35


