Ambisi Kemandirian KF-21: Hanwha Aerospace Kembangkan Rudal Udara ke Udara Jarak Jauh (LRAAM) Pengganti Meteor

Korea Selatan terus memacu akselerasi kemandirian alutsista untuk jet tempur KF-21 Boramae. Kabar terbaru menyebutkan bahwa Hanwha Aerospace secara resmi telah mengonfirmasi partisipasinya dalam program pengembangan rudal udara-ke-udara jarak jauh (Long-Range Air-to-Air Missile/LRAAM) asli Korea.

Baca juga: Sah! KF-21 Boramae Kantongi Sertifikat Kelayakan Tempur Final Setelah 1.600 Kali Uji Terbang

Langkah strategis ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan Seoul pada pasokan luar negeri, khususnya rudal Meteor BVRAAM besutan MBDA Eropa yang saat ini menjadi senjata utama bagi armada jet tempur generasi 4.5 tersebut. Program yang dipimpin oleh Agency for Defense Development (ADD) ini direncanakan berjalan mulai tahun 2026 hingga 2033, menandai babak baru bagi industri pertahanan Korea Selatan dalam menguasai teknologi rudal udara tercanggih di dunia.

Keseriusan Hanwha dalam proyek ini didorong oleh pengalaman riset teknologi ramjet selama hampir dua dekade. Rudal LRAAM rancangan Hanwha ini diproyeksikan menggunakan sistem propulsi solid-fuel ducted ramjet, sebuah arsitektur yang memungkinkan rudal mempertahankan energi tinggi pada jarak yang sangat jauh.

Berbeda dengan rudal bertenaga roket konvensional, teknologi ramjet memberikan keunggulan dalam hal kecepatan dan kemampuan manuver di fase akhir penyerangan (no-escape zone). Model konsep yang sempat dipamerkan menunjukkan desain yang sekilas mirip dengan Meteor, namun dengan modifikasi aerodinamis pada bagian sirip penstabil di area asupan udara guna menyesuaikan dengan kebutuhan spesifik operasional Angkatan Udara Korea Selatan (ROKAF).

Biaya Produksi Membengkak, Jadwal Operasional KF-21 Boramae Terancam Mundur

Dalam hal performa, rudal ramjet Hanwha ini ditargetkan untuk menandingi atau bahkan melampaui kemampuan Meteor yang saat ini memegang takhta sebagai rudal udara-ke-udara terjauh di dunia. Sebagai perbandingan, Meteor memiliki kecepatan puncak yang melebihi Mach 4 dan dikenal karena no-escape zone yang tiga kali lebih besar daripada rudal konvensional.

Hanwha berupaya mengejar spesifikasi serupa dengan target kecepatan di atas Mach 4, namun dengan fokus pada optimalisasi algoritma kendali dan sensor pencari (seeker) mandiri yang lebih modern. Jika Meteor mengandalkan teknologi ramjet buatan Bayern-Chemie, Hanwha akan menggunakan teknologi propulsi domestik yang diklaim akan memberikan profil akselerasi yang lebih stabil untuk menjangkau sasaran di luar jarak 100 kilometer, sekaligus mempertahankan energi kinetik yang cukup untuk melakukan manuver ekstrem saat mendekati target.

Langkah pengembangan rudal mandiri ini tidak terlepas dari roadmap kerja sama antara Hanwha Aerospace dan MBDA yang telah terjalin melalui berbagai Nota Kesepahaman (MoU). Meskipun Korea Selatan kini berupaya membangun rudal pengganti Meteor, hubungan dengan MBDA tetap berjalan strategis karena integrasi Meteor pada KF-21 memberikan pelajaran berharga mengenai standar integrasi senjata jarak jauh kelas dunia.

Bagi Indonesia sebagai mitra program KF-21, perkembangan ini memberikan sinyal penting mengenai masa depan ekosistem persenjataan yang lebih terbuka. Dengan opsi rudal domestik seperti LRAAM dari Hanwha, daya tawar KF-21 di pasar ekspor akan semakin kuat karena calon pembeli tidak lagi sepenuhnya bergantung pada persetujuan integrasi dari pihak ketiga, sekaligus menjamin kedaulatan penggunaan senjata di masa depan. (Gilang Perdana)

Cina Uji Coba Rudal Udara ke Udara Hipersonik dalam “Terowongan Misi Mars”

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *