Kembaran ‘Identik’ F-5E/F Tiger II TNI AU Segera Pensiun, Meksiko Mulai Cari Pengganti Sang Macan Legendaris

Setelah mengabdi selama lebih dari empat dekade, Angkatan Udara Meksiko (Fuerza Aérea Mexicana – FAM) akhirnya memutuskan untuk mulai mencari pengganti armada jet tempur legendaris F-5E/F Tiger II mereka. Keputusan ini menandai akhir dari era jet tempur supersonik satu-satunya yang dioperasikan oleh Meksiko untuk misi patroli ruang angkasa.
Baca juga: F-5E Tiger II : Macan Angkasa Andalan Skadron 14
Kabar yang dilansir dari Zone Militaire menyebutkan bahwa dari total 12 unit yang dibeli (10 unit F-5E dan 2 unit F-5F), kini hanya tersisa sekitar lima hingga enam unit saja yang masih dinyatakan laik terbang (airworthy) untuk menjalankan misi patroli ruang angkasa.
Menariknya, bagi publik di Indonesia, armada F-5 Meksiko bukan sekadar jet tempur asing; mereka adalah “saudara kembar” dari armada F-5E/F Tiger II yang dulu pernah menjadi tulang punggung Skadron Udara 14 TNI AU.
Keunikan utama yang membuat F-5E/F Meksiko sangat identik dengan varian milik TNI AU adalah pada desain vertical stabilizer atau sirip tegak di bagian ekor. Berbeda dengan varian Tiger II standar pada umumnya, varian milik Meksiko dan Indonesia memiliki pangkal sirip tegak yang lebih lebar dan memanjang ke depan (disebut dengan profil large dorsal fin).

Desain ini awalnya dikembangkan untuk mengakomodasi perangkat radio UHF/VHF yang lebih canggih pada masanya. Secara visual, fitur ini memberikan kesan siluet yang lebih gagah dan “berisi” dibandingkan varian F-5 yang dioperasikan oleh banyak negara lain, menjadikannya ciri khas yang sulit dipisahkan dari sejarah jet tempur ringan di kedua negara.
Kemiripan antara F-5E/F Tiger Indonesia dan Meksiko bukan tanpa alasan, karena keduanya merupakan varian produksi yang lebih modern dengan mesin lebih bertenaga, peningkatan kapasitas bahan bakar, serta radar Emerson AN/APQ-159 yang menjadi standar jet tempur ringan mumpuni pada masanya.

Meski masih mampu terbang, Meksiko menghadapi tantangan besar dalam hal suku cadang dan modernisasi avionik. Selama beberapa dekade, armada ini menjadi andalan utama dalam mencegat pesawat ilegal yang masuk ke wilayah udara mereka.
Dengan status operasional yang semakin menurun, pemerintah Meksiko kini tengah menimbang beberapa opsi jet tempur baru untuk menjaga kedaulatan udara mereka. Nama-nama seperti Lockheed Martin F-16 atau jet tempur ringan generasi terbaru lainnya mulai mencuat sebagai kandidat kuat, meskipun anggaran pertahanan tetap menjadi faktor penentu utama dalam transisi ini.
Misterius, Suatu Negara di Asia Lakukan Upgrade F-5 Tiger dari Perusahaan Israel
Bagi Indonesia, kabar pensiunnya F-5 Meksiko seolah membawa kembali memori saat TNI AU mempensiunkan armada “Si Macan” pada tahun 2016.
Jika Meksiko benar-benar mengakhiri operasional F-5 mereka, maka satu lagi operator varian unik large dorsal fin akan hilang dari peta kekuatan udara global. Ini menjadi momentum penting untuk melihat kembali bagaimana jet tempur ringan namun lincah ini telah membentuk standar pertahanan udara di banyak negara berkembang, termasuk kemiripan sejarah teknis yang unik antara Jakarta dan Mexico City di domain dirgantara.
Sepanjang pengabdiannya, Meksiko berupaya keras mempertahankan sang “Macan” agar tetap taringnya tetap tajam. Meksiko tercatat pernah menggandeng perusahaan pertahanan asal Swiss, Ruag, untuk melakukan program perawatan dan pemeliharaan struktur guna memperpanjang usia pakai armada yang tersisa. Namun, upaya upgrade besar-besaran pada sisi avionik seringkali terbentur masalah anggaran.
Pada tahun 2007, rencana untuk meminang 12 unit F-16 sempat dijajaki, namun kesulitan ekonomi memaksa kesepakatan tersebut batal dan membuat F-5 harus terus memikul beban pertahanan udara Meksiko sendirian selama dua dekade berikutnya.
Kini, urgensi modernisasi tak lagi bisa ditunda. Kepala Staf AU Meksiko, Jenderal Roman Carmona Landa, mengumumkan rencana pengadaan setidaknya 12 jet tempur baru yang ditargetkan mulai bertugas pada 2028. Nama-nama besar masuk dalam radar pertimbangan, mulai dari F-16 Block 70/72 Viper dari Lockheed Martin, JAS-39 Gripen E/F dari Saab, hingga jet tempur ringan FA-50 Fighting Eagle dari Korea Selatan dan M-346FA dari Leonardo.
Meskipun hubungan diplomatik antara Mexico City dan Washington sempat menegang di era masa jabatan kedua Donald Trump, ketergantungan militer Meksiko pada teknologi AS tetap kuat, yang dibuktikan dengan pembelian C-130J Hercules baru-baru ini. F-16 Viper pun muncul sebagai kandidat terkuat untuk menggantikan peran Tiger II. (Gilang Perdana)


