Kisah Noshir Gowadia: Insinyur “Blueberry Milkshake” yang Jual Rahasia Siluman Pembom B-2 Spirit ke Cina

Pada pergantian milenium sekitar tahun 2000-an, Angkatan Udara Cina (PLAAF) menghadapi kebuntuan teknologi yang sangat serius. Ketika Amerika Serikat sudah menerbangkan pembom siluman (stealth) revolusioner Northrop B-2 Spirit yang mampu menyusup ke wilayah musuh tanpa terdeteksi radar, armada udara Beijing masih terjebak pada cetak biru pesawat era 1950-an dan 1960-an warisan Uni Soviet (Xian H-6 series).

Baca juga: Setelah Terbang Perdana, Inilah Analisa Desain dan Fitur pada Pembom Stealth B-21 Raider

Namun, situasi tersebut berubah drastis berkat keterlibatan seorang pembelot industri pertahanan AS bernama Noshir S. Gowadia, seorang insinyur veteran yang nekat menjual rahasia paling sakral Pentagon demi uang.

Noshir Gowadia bukanlah orang sembarangan. Ia adalah salah satu otak utama di balik sistem propulsi siluman pembom B-2 Spirit saat bekerja di Northrop pada era 1970-an hingga 1980-an. Selama tujuh tahun, Gowadia fokus merancang bagian tailpipe (pipa pembuangan mesin) B-2 agar memiliki jejak panas (infrared signature) serendah mungkin, sebuah teknologi kunci yang membuat pesawat berbentuk bumerang tersebut mustahil dilacak oleh radar konvensional maupun rudal pencari panas. Karena perannya yang sangat vital dalam proyek yang kala itu berstatus super rahasia, Gowadia bahkan diberikan kode nama internal yang unik: “Blueberry Milkshake.”

Memasuki dekade 1990-an, karier cemerlang Gowadia di industri pertahanan AS mulai hancur akibat perselisihan proyek yang sengit dengan DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency). Puncaknya pada tahun 1997, izin keamanan (security clearance) miliknya dicabut secara permanen. Kecewa dan merasa didepak oleh negaranya, Gowadia mendirikan perusahaan konsultan kedirgantaraan mandiri. Di sinilah dinas intelijen Cina melihat celah besar dan mulai mendekati sang insinyur yang tengah membutuhkan dana segar tersebut.

Berdasarkan dokumen persidangan, sepanjang tahun 2003 hingga 2004, Gowadia berulang kali melakukan pertemuan rahasia dengan pejabat militer dan insinyur Cina di Hong Kong. Ia dibayar mahal untuk membagikan keahliannya, secara spesifik membantu Cina merancang low-observable exhaust nozzle (nosel pembuangan rendah deteksi) untuk proyek rudal jelajah siluman baru milik Beijing.

Investigasi FBI mengungkapkan bahwa Gowadia bahkan membuat presentasi PowerPoint terperinci yang menganalisis jarak penguncian (lock-on range) rudal jelajah Cina terhadap rudal udara-ke-udara milik AS, serta nekat terbang langsung ke Beijing pada 2004 untuk menyaksikan uji coba nosel pembuangan tersebut.

Petualangan spionase “Blueberry Milkshake” akhirnya terendus oleh kontra-intelijen Amerika Serikat. Setelah pengintaian yang intensif selama bertahun-tahun, FBI menggerebek rumah mewah Gowadia di Hawaii dan menangkapnya pada Oktober 2005. Dalam surat pernyataan tertulis yang ditandatanganinya saat ditangkap, Gowadia mengakui kesalahannya:

“Setelah merenungkannya, apa yang saya lakukan adalah kesalahan besar karena telah membantu PRC (People’s Republic of China) membuat rudal jelajah. Apa yang saya lakukan adalah spionase dan pengkhianatan karena saya telah membagikan rahasia militer kepada PRC.”

Pada tahun 2010, pengadilan AS menyatakan Gowadia bersalah atas pelanggaran Undang-Undang Spionase dan Undang-Undang Kontrol Ekspor Senjata. Ia dijatuhi hukuman 32 tahun penjara tanpa remisi dan kini mendekam di USP Florence ADMAX, penjara dengan tingkat keamanan paling ekstrem (Supermax) di Colorado, tempat yang sama yang menampung para teroris kelas kakap.

Dampak dari pengkhianatan Gowadia masih terasa sangat nyata hingga hari ini. Pada tahun 2016, Cina secara resmi mengumumkan pengembangan pembom siluman strategis masa depan mereka, Xian H-20. Meskipun detail teknisnya sangat dirahasiakan, para analis pertahanan internasional mencatat bahwa desain aerodinamika H-20 yang mengadopsi konsep flying-wing terlihat sangat identik dengan B-2 Spirit Amerika Serikat maupun suksesornya, B-21 Raider.

[Video] Pembom Stealth B-21 Raider ‘Diam-diam’ Sukses Terbang Perdana

Banyak pihak meyakini bahwa lompatan teknologi siluman Cina yang begitu cepat, termasuk kemampuan Xian H-20 yang diproyeksikan mampu menggotong 10 ton bom sejauh 4.970 mil hingga mengancam pangkalan strategis AS di Guam, berhasil terwujud berkat pondasi cetak biru yang dibocorkan oleh Noshir Gowadia dua dekade lalu.

Noshir Gowadia
Ia lahir di Mumbai (dulu masih bernama Bombay), India, pada tahun 1944 dari sebuah keluarga etnis Parsi—sebuah komunitas minoritas di India keturunan Persia kuno yang mayoritas memeluk agama Zoroaster. Nama depan “Noshir” sendiri merupakan nama khas yang sangat umum di kalangan komunitas Parsi India.

Gowadia kemudian berimigrasi dari India ke Amerika Serikat pada tahun 1960-an untuk melanjutkan studi kedirgantaraan tingkat tinggi. Setelah lulus dan meraih gelar insinyur, ia berhasil mendapatkan kewarganegaraan AS dan menembus ketatnya industri pertahanan elite Pentagon hingga akhirnya bekerja di Northrop Corporation sebagai salah satu arsitek utama sistem siluman pembom B-2 Spirit. (Bayu Pamungkas)

Rahasia Perawatan Jet Siluman: Mengapa Pesawat Pengebom Stealth Harus ‘Manja’ di Dalam Hanggar Ber-AC?

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *