Imbangi MBT Terbaru Cina, Taiwan Luncurkan Kestrel II: Roket Anti Tank Domestik dengan Kaliber Lebih Jumbo

Lembaga riset pertahanan nasional Taiwan, National Chung-Shan Institute of Science and Technology (NCSIST), secara resmi mengungkap generasi terbaru dari sistem senjata anti tank genggam yang diberi nama Kestrel II. Peluncuran sistem senjata mutakhir ini dirancang sebagai lompatan besar untuk mendongkrak kemampuan pasukan infanteri darat dalam menghadapi armada lapis baja modern.
Baca juga: Swedia Dobrak Tradisi Netral, Kirim 5.000 Roket Anti Tank AT-4 Ke Ukraina
Langkah pengadaan dan pengembangan internal yang masif ini diambil oleh Angkatan Darat Taiwan akibat semakin usangnya armada alutsista konvensional mereka, terutama pada lini tank tempur utama (Main Battle Tank/MBT). Saat ini, tulang punggung kavaleri Taiwan masih sangat bergantung pada 480 unit MBT tua M60A3 surplus militer Amerika Serikat yang dibeli pada era 1990-an, tank lokal CM-11 Brave Tiger yang juga sudah ketinggalan zaman, serta sisa armada veteran era Perang Korea seperti M41 dan M48.
Mengingat kualitas MBT mereka dinilai sebagai salah satu yang paling tidak mumpuni di dunia, militer Taiwan terpaksa bertumpu sangat kuat pada sistem rudal dan roket anti-tank portabel (man-portable) sebagai sarana asimetris utama untuk meredam superioritas lapis baja lawan.
Dalam hal spesifikasi teknis dan keunggulan lainnya, Kestrel II menawarkan peningkatan kemampuan yang luar biasa signifikan jika diukur berdasarkan jarak jangkau dan daya tembus lapisan baja dibanding pendahulunya. Senjata generasi baru hasil produksi NCSIST ini mengalami pembesaran kaliber yang sangat drastis, yakni melonjak dari 66 mm pada varian Kestrel orisinal menjadi 96 mm pada Kestrel II.

Konsekuensi dari pembesaran kaliber hulu ledak ini menuntut penggunaan tabung peluncur yang lebih besar, yang sekaligus mengindikasikan bahwa bobot Kestrel II secara keseluruhan akan jauh lebih berat daripada versi pertamanya yang mulai dikembangkan tahun 2008 dan resmi dinas pada 2015 silam. Namun, penambahan bobot tersebut dibayar tuntas oleh performa daya hancurnya; dalam serangkaian uji coba resmi, Kestrel II terbukti mampu menembus lapisan baja homogen hingga ketebalan 67 sentimeter (670 mm) serta memiliki jarak tembak efektif yang meningkat hingga sejauh 500 meter.
Pengembangan internal Kestrel II ini berjalan paralel dengan langkah Taiwan yang terus memperbanyak stok rudal anti tank portabel impor dari Amerika Serikat, yang baru saja mendapatkan persetujuan pembelian tambahan dari Washington pada Februari lalu. Di lini impor, infanteri Taiwan mengombinasikan rudal BGM-71 TOW yang telah mereka operasikan sejak pertengahan 1970-an menggunakan sistem pemandu kabel garis pandang langsung, dengan rudal FGM-148 Javelin yang jauh lebih mahal dan kompleks.
🇹🇼 #Taiwan poursuit le développement d’armes antichars de fabrication nationale et dévoile un système de lance-roquettes Kestrel de deuxième génération.
📸CNA pic.twitter.com/kFHBHWXrUW
— Taiwan Info (@SiteTaiwanInfo) May 21, 2026
Berbeda dengan TOW, rudal Javelin yang pertama kali dipesan Taiwan pada tahun 2002 ini mengusung sensor elektro-optik inframerah dengan kemampuan ‘fire and forget’ (tembak dan lupakan), serta didesain khusus untuk menyerang bagian atas kubah tank (top attack) yang biasanya memiliki lapisan pelindung paling tipis dari jarak luar pandang. Kombinasi berlapis antara senjata impor kelas berat dan roket domestik sekali pakai seperti Kestrel II menjadi pilar pertahanan darat yang sangat diandalkan oleh Taipei.
Urgensi penguatan daya gempur infanteri ini kian memuncak seiring melebarnya jurang kekuatan tempur darat antara Taipei dan Beijing yang masih berada dalam status perang sipil yang belum usai. Dominasi lapis baja milik Tentara Pembebasan Rakyat Cina (PLA) kini sudah semakin tidak tertandingi.
Pada September 2025 lalu, Beijing mengejutkan dunia dengan memperkenalkan MBT generasi terbaru mereka yang diberi nama Type 100. Tank misterius ini dinilai sebagai MBT pertama dari generasi yang benar-benar baru di dunia dan hingga kini belum memiliki tandingan atau analog yang setara di negara Barat maupun sekutunya.
Bahkan sebelum kehadiran Type 100, teknologi tank daratan China sudah berada lebih dari satu generasi di depan armada tua Taiwan. Oleh karena itu, kehadiran Kestrel II produksi NCSIST dengan daya tembus 67 cm diharapkan dapat menjadi senjata andalan yang murah, efektif, dan dapat diproduksi secara mandiri dalam jumlah masif oleh Taiwan untuk mereduksi keunggulan mutlak armada lapis baja Beijing dalam skenario pertempuran jarak dekat. (Bayu Pamungkas)
Bisa Tembus Baja 700mm, Saab Resmi Luncurkan Amunisi HEAT 758 untuk Senjata Anti Tank Carl Gustaf


