Misteri Tenggelamnya Ursa Major: Benarkah Rusia Kirim Reaktor Nuklir untuk Kapal Selam Korea Utara?

Dunia intelijen maritim tengah dihebohkan oleh laporan investigasi CNN yang mengungkap rincian tenggelamnya kapal kargo Rusia, Ursa Major, pada 23 Desember 2024. Kapal yang dimiliki oleh perusahaan yang terafiliasi dengan pemerintah Rusia tersebut dilaporkan karam di wilayah perairan dalam yang sangat terpencil, sekitar 200 mil laut di lepas pantai Pasifik Utara, dalam jalur pelayaran rahasia menuju Semenanjung Korea.
Baca juga: Geger Kapal Selam Yasen-M Rusia di Havana, Ternyata Hanya Alarm Palsu!
Meskipun manifes resmi kapal hanya mencantumkan muatan berupa peralatan derek dan kontainer kosong, kesaksian dari kapten kapal dan analisis intelijen menunjukkan adanya kargo yang jauh lebih sensitif, yakni komponen reaktor nuklir dari kapal selam Rusia yang sudah dipensiunkan, yang diduga kuat akan dikirim ke Korea Utara guna mendukung pengembangan kapal selam bertenaga nuklir milik Pyongyang.
Kejanggalan dalam insiden ini semakin menguat setelah adanya bukti analisis visual yang menunjukkan kerusakan spesifik pada lambung kapal sebelum terjadi ledakan fatal. Profil lubang pada lambung Ursa Major dilaporkan identik dengan pola serangan torpedo superkavitasi, jenis senjata bawah air berkecepatan tinggi yang mampu menembus target dengan energi kinetik luar biasa melalui manipulasi gelembung gas.
Penggunaan senjata sekelas VA-111 Shkval ini memunculkan spekulasi luas mengenai keterlibatan aktor negara, baik sebagai upaya sabotase dari pihak Barat untuk mencegah proliferasi nuklir, maupun tindakan pembersihan mandiri oleh pihak Rusia untuk menghilangkan bukti keterlibatan mereka dalam perdagangan gelap alutsista internasional.
A new CNN investigation finds that a Russian cargo ship likely carrying two nuclear reactors and possibly destined for North Korea, sank in unexplained circumstances off the coast of Spain.@npwcnn‘s exclusive report: https://t.co/axSox90gQY pic.twitter.com/3ll8BQC6yM
— CNN International PR (@cnnipr) May 12, 2026
Di tengah situasi yang mencekam tersebut, nasib para awak kapal menjadi perhatian serius. Berdasarkan laporan terkini, Ursa Major membawa sekitar 22 awak kapal saat insiden terjadi. Dari jumlah tersebut, 18 awak berhasil diselamatkan oleh kapal penyelamat Rusia yang memang telah membayangi rute pelayaran kapal kargo tersebut sejak awal, sementara 4 orang lainnya dinyatakan hilang dan diduga ikut tenggelam bersama kapal ke dasar samudra.
Proses evakuasi yang sangat cepat dan keberadaan kapal mata-mata Rusia di atas titik reruntuhan hanya beberapa jam setelah kejadian semakin mempertegas bahwa pelayaran ini berada di bawah pengawasan ketat militer Moskow.

What’s the mission of the WC-135? Here’s a video from the inside (🎥 Tech. Sgt. Jeffry Howerton) pic.twitter.com/SasmtdIVYq
— Thenewarea51 (@thenewarea51) July 1, 2023
Ketegangan internasional kian memuncak saat Amerika Serikat segera mengerahkan pesawat WC-135 Constant Phoenix, yang dikenal sebagai pesawat “Nuke-Sniffer” atau penjejak partikel nuklir, untuk memantau wilayah udara di lokasi tenggelamnya kapal. Pesawat ini memiliki kemampuan khusus untuk mendeteksi kebocoran radiasi sekecil apa pun dari atmosfer, sebuah langkah defensif yang mengindikasikan bahwa Washington memiliki data akurat mengenai bahaya muatan radioaktif di dalam palka Ursa Major.
Kapal kargo dengan tonase 10.000 DWT yang sebelumnya bernama Sparta III ini kini teronggok di dasar laut, menjadi kuburan misteri nuklir yang terus dipantau oleh aset intelijen global, terutama setelah Korea Utara secara provokatif memamerkan desain lambung kapal selam baru tak lama setelah kapal tersebut karam. (Gilang Perdana)


