Tren “Cope Cage” Merambah ke Laut: Kapal Patroli Grachonok Class Rusia Kini Dipasangi Jaring Anti Drone

Fenomena penggunaan perlindungan tambahan berupa struktur kandang atau jaring besi, yang populer disebut sebagai “cope cage,” kini resmi berpindah medium dari domain darat ke laut. Jika sebelumnya proteksi improvisasi ini hanya lazim terlihat pada atap tank atau kendaraan tempur di darat, laporan terbaru menunjukkan bahwa militer Rusia mulai menerapkan metode serupa pada armada kapal perang mereka. Langkah ini diambil sebagai respons pragmatis atas ancaman drone Ukraina di wilayah Laut Hitam.

Baca juga: IMSS, Radar Pengawas Garis Pantai Selat Malaka

Kabar mengenai adopsi jaring anti drone pada kapal perang ini pertama kali mencuat setelah Serhii Sternenko, seorang penasihat Menteri Pertahanan Ukraina, memublikasikan sejumlah foto di media sosial yang menunjukkan penampakan terbaru kapal patroli anti sabotase dari Grachonok Class (Project 21980).

Dalam foto tersebut, terlihat jelas struktur jaring besi yang dirancang untuk menutupi bagian struktur atas (superstructure) kapal. Pemasangan jaring ini bertujuan sebagai perisai fisik untuk memicu ledakan dini hulu ledak shaped charge dari drone FPV (First Person View) sebelum sempat menyentuh lambung atau sistem navigasi vital kapal.

Urgensi pemasangan proteksi fisik ini dipicu oleh insiden tragis yang terjadi pada malam 30 April lalu. Sebuah serangan drone laut Ukraina dilaporkan berhasil menghantam kapal Grachonok Class yang sedang bertugas, mengakibatkan kehancuran fatal yang menewaskan sembilan awak kapal dan melukai dua lainnya.

Kapal-kapal dalam kelas ini memegang peran vital dalam mengamankan perairan di sekitar Jembatan Kerch, sebuah infrastruktur strategis yang menghubungkan wilayah Rusia dengan semenanjung Krimea. Tanpa perlindungan tambahan, kapal patroli ringan ini terbukti sangat rentan terhadap serangan drone bunuh diri yang lincah.

Secara teknis, Grachonok Class sebenarnya merupakan kapal yang canggih untuk misi spesifiknya. Kapal ini dilengkapi dengan sistem hidroakustik Kalmar dan stasiun Anapa yang berfungsi untuk memantau aktivitas bawah laut serta mendeteksi keberadaan penyelam tempur maupun penyabotase. Untuk urusan persenjataan, kapal ini mengandalkan satu unit senapan mesin berat MTPU 14,5 mm, pelontar granat anti sabotase tipe DP-65A dan DP-64, serta rudal pertahanan udara portabel (MANPADS) tipe Igla dan Verba. Namun, deretan senjata tersebut dirancang untuk menghadapi ancaman konvensional, sehingga kehadiran jaring “cope cage” menjadi solusi tambahan untuk menutupi celah pertahanan dari serangan drone asimetris.

Saat ini, Armada Laut Hitam Rusia diketahui mengoperasikan sembilan unit kapal Grachonok Class, di mana jumlah tersebut sudah termasuk unit yang hancur dalam serangan April lalu. Selain di bawah komando Angkatan Laut, sebanyak empat unit kapal sejenis juga bertugas di bawah Dinas Perbatasan FSB (Layanan Keamanan Federal) Rusia untuk memperkuat pengamanan di Distrik Federal Selatan.

Munculnya adaptasi jaring besi di kapal patroli ini membuktikan bahwa ancaman drone telah memaksa perubahan doktrin pertahanan secara fundamental di mana solusi “low-tech” kini harus berdampingan dengan sistem sensor canggih demi menjamin kelangsungan hidup kapal di palagan modern. (Gilang Perdana)

AL Singapura Refurbish Kapal Patroli Fearless Class Menjadi Sentinel Class, Siap Ronda Selat Malaka

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *