Proyek Senjata Lawan Tank (SLT) Latih: Kolaborasi Strategis Hariff Defense, PT Dahana, dan Pussenif

Di dunia militer, kemahiran seorang prajurit tidak datang begitu saja; ia lahir dari repetisi dan latihan yang konsisten. Namun, kenyataan di lapangan seringkali menghadirkan tantangan tersendiri, terutama terkait penggunaan Senjata Lawan Tank (SLT).
Baca juga: LRAC 89 TNI AD: Roket Anti Tank Penghancur Perkubuan Lawan
Selama ini, kesempatan prajurit Infanteri untuk menembakkan SLT tergolong langka karena biaya amunisi operasional yang sangat mahal serta keterbatasan lokasi latihan yang harus dilakukan di lapangan tembak pusat yang luas. Berangkat dari keresahan tersebut, Litbang TNI AD melalui Pussenif menggandeng industri pertahanan dalam negeri untuk menciptakan sebuah solusi strategis: Senjata Lawan Tank khusus versi latihan.
Proyek yang mulai dicetuskan sejak tahun 2020 ini bukan sekadar alat peraga, melainkan sebuah sistem senjata yang didesain dengan pendekatan user-centric. Fokus utamanya adalah memberikan “feel” atau sensasi penembakan yang identik dengan senjata asli, namun dengan biaya yang jauh lebih ekonomis.
Dengan desain yang lebih terjangkau, diharapkan setiap prajurit dalam kru tidak hanya kebagian tugas membantu pengoperasian, tetapi benar-benar bisa merasakan pengalaman menembak langsung. Keunggulan lainnya, SLT latih ini diproyeksikan dapat digunakan di lapangan tembak tingkat batalyon, sehingga intensitas latihan pasukan bisa meningkat tanpa harus terkendala logistik yang rumit.

Pengembangan teknologi ini merupakan buah sinergi yang apik antara Hariff Defense dan PT Dahana. Dalam pembagian tugasnya, Hariff memegang kendali atas sisi mekanikal, sistem elektronik, hingga perhitungan aerodinamika wahana untuk memastikan roket tetap stabil saat meluncur. Sementara itu, PT Dahana sebagai pakar bahan peledak di Indonesia, bertanggung jawab meriset propelan atau bahan bakar pendorongnya. Kaliber yang diusung adalah standar 80/81 mm, lengkap dengan sirip roket yang dapat melipat dan mengembang otomatis demi menjaga akurasi jalur terbang agar tidak terganggu oleh angin.
“Meski ditujukan untuk latihan, standar keamanan tetap menjadi prioritas tertinggi yang tidak bisa ditawar,” ujar Devi Abraham Syamsuardi, Product Management Control Maneger Hariff Defense.
“Tim pengembang sangat berhati-hati dalam menghitung faktor insani, seperti tingkat kebisingan suara dan paparan panas api saat peluncuran. Hal ini penting agar senjata tetap aman bagi pendengaran dan fisik prajurit. Selain itu, daya tolak balik atau recoil terus disempurnakan agar hentakan yang dihasilkan masih dalam batas toleransi bahu manusia. Dengan jarak tembak yang sudah mencapai minimal 100 meter, prototipe ini terus diuji coba untuk memastikan keandalannya secara menyeluruh,” kata Devi Abraham.
Hingga saat ini, SLT latih tersebut masih dalam tahap penyempurnaan prototipe dan belum masuk ke jalur produksi massal. Fokus pengembangan saat ini adalah memastikan aspek keamanan dan kenyamanan prajurit terpenuhi secara sempurna.
Melalui kolaborasi ini, Indonesia tidak hanya sedang berupaya menciptakan alat latihan yang efektif secara biaya, tetapi juga sedang melangkah menuju kemandirian alutsista yang lebih matang, di mana setiap prajurit memiliki kesempatan yang sama untuk mengasah kemampuan tempurnya secara maksimal. (Haryo Adjie)


