Game Changer: Cina Kembangkan Rudal Jelajah Stealth Kompak, ‘Pas’ di Dalam Perut J-20 dan J-35

Ambisi militer Cina dalam mendominasi teknologi peperangan udara semakin nyata dengan munculnya bocoran dokumen teknis mengenai pengembangan rudal jelajah siluman terbaru. Berbeda dengan rudal jelajah konvensional yang kerap digantung di bawah sayap, rudal misterius ini dirancang dengan dimensi kompak agar mampu masuk ke dalam internal weapons bay (ruang senjata internal) jet tempur stealth Cina, yakni Chengdu J-20 Mighty Dragon dan Shenyang J-35.
Baca juga: C-705 : Rudal Pamungkas Andalan Kapal Cepat TNI AL
Langkah strategis tersebut bertujuan agar pesawat pembawa tetap mempertahankan profil low observable yang sempurna, sehingga keberadaannya sulit diendus radar lawan hingga detik-detik terakhir sebelum rudal dilepaskan.
Berdasarkan material desain yang muncul di platform Weibo, rudal ini memiliki panjang kurang dari 4 meter dengan diameter di bawah 0,85 meter, ukuran yang secara presisi menyesuaikan batasan ruang sempit di perut pesawat stealth. Dengan konfigurasi ini, J-20 atau J-35 dapat menyusup jauh ke dalam zona pertahanan udara lawan yang sangat ketat tanpa mengorbankan karakteristik silumannya akibat hambatan aerodinamis atau pantulan radar dari senjata eksternal.
Begitu mencapai titik luncur yang ideal di dalam wilayah konflik, barulah senjata mematikan ini dilepaskan, memberikan waktu reaksi yang sangat minim bagi sensor pertahanan musuh untuk merespons ancaman yang tiba-tiba muncul tersebut.

Secara teknis, rudal ini mengadopsi fitur aerodinamis mutakhir yang difokuskan pada pengurangan jejak deteksi. Desainnya menggunakan blended body dengan sayap tetap dan konfigurasi V-tail yang unik. Penggunaan serrated exhaust nozzle atau saluran pembuangan bergerigi menjadi kunci untuk menghamburkan gelombang radar secara acak, sementara ekor-V berfungsi ganda untuk menutupi pancaran panas mesin dari deteksi sensor inframerah lawan, terutama dari sudut bawah. Setiap lekukan pada bodi rudal ini nampaknya telah diperhitungkan secara matang untuk meniru teknik persembunyian yang digunakan pada jet tempur siluman modern.
Tidak hanya fokus pada radar, Cina juga menyematkan sistem penekan inframerah (IR) yang sangat kompleks pada rudal ini. Terdapat empat nozzle pendingin di sekitar saluran buang yang bertugas menyuntikkan udara segar guna menurunkan suhu gas buang mesin secara drastis sebelum keluar ke atmosfer.
🇨🇳 China is developing a cruise missile with a range of 1,330 km, designed to stay under 4 meters in length so it can fit inside the internal weapon bays of the Chengdu J 20 and Shenyang J 35.
A compact long range design aimed at boosting stealth strike capability and next… pic.twitter.com/PfAlFvtcyi
— WAR (@warsurv) May 5, 2026
Seluruh sistem pembuangan ini juga disembunyikan di balik selubung luar, sementara bagian mesin dibalut dengan isolasi khusus berbahan rock wool untuk mencegah kebocoran panas ke dinding luar rudal. Kombinasi lapisan perlindungan ini diklaim bakal meningkatkan performa siluman termal secara signifikan, membuatnya sulit dikunci oleh rudal pencari panas.
Dari sisi performa, rudal jelajah ini dirancang untuk terbang pada kecepatan subsonik antara Mach 0,71 hingga Mach 0,75. Meski tidak secepat rudal hipersonik, kecepatan subsonik memberikan keuntungan berupa tingkat kebisingan dan suhu gesekan udara yang jauh lebih rendah, yang justru memperkuat aspek kerahasiaannya.
China’s proposed stealth cruise missile:
Diameter: 80cm
Length: 4 meters.
Range: 1000km+.A PL-16 (PL-15 with folded fins) is around 20cm in diameter. A J-20 and J-35 internal weapons bay can fit 6 of them with spaces to spare. Which means J-20 and J-35 can fit 2 of these… pic.twitter.com/xOXudxWMXT
— Zhao DaShuai 东北进修🇨🇳 Commentary (@zhao_dashuai) May 6, 2026
Dengan jangkauan operasional mencapai 1.329 kilometer (826 mil), rudal ini mampu menjangkau target strategis atau kapal induk lawan dari jarak yang aman, jauh di luar jangkauan sebagian besar sistem pertahanan pertahanan udara berbasis laut saat ini.
Menariknya, dokumen tersebut secara terang-terangan membandingkan senjata baru ini dengan rudal anti-kapal jarak jauh milik Amerika Serikat, AGM-158C LRASM. Meskipun mematikan, LRASM memiliki kendala fisik karena ukurannya yang terlalu besar untuk masuk ke dalam ruang senjata internal jet tempur F-35 atau F-22, sehingga harus dibawa di bawah sayap yang otomatis merusak profil siluman pesawat pengusungnya.
Sebaliknya, desain kompak Cina ini menghapus batasan tersebut, memungkinkan pesawat dan rudal tetap “tak terlihat” hingga peluncuran dilakukan. Jika sistem ini diproduksi massal untuk melengkapi ratusan armada J-20 yang sudah aktif, maka perimbangan kekuatan di kawasan maritim Indo-Pasifik dipastikan akan mengalami pergeseran yang sangat serius. (Bayu Pamungkas)


