Tu-16 (3) : Akhir Perjalanan Sang Bomber

Sungguh ironis nasib akhir Tu-16 AURI. Pengadaan dan penghapusannya lebih banyak ditentukan oleh satu perkara: politik! Bayangkan, “AURI harus menghapus seluruh armada Tu-16 sebagai syarat mendapatkan F-86 Sabre dan T-33 T-bird dari Amerika,” ujar Bagio Utomo, mantan anggota Skatek 042 yang mengurusi perbaikan Tu-16. Bagio menuturkan kesedihannya ketika terlibat dalam tim “penjagalan” Tu-16 pada tahun 1970.
Dokumen CIA (central intelligence agency) sebagaimana dikutip Audrey R Kahin dan George McT Kahin dalam bukunya “Subversi Sebagai Politik Luar Negeri” menulis: “Belanja senjata RI mencapai 229. 395.600 dollar AS. Angka itu merupakan akumulasi perdagangan pada tahun 1958. Sementara dari Januari hingga Agustus 1959 saja, nilainya mencapai 100.456.500 dollar AS. Dari jumlah ini, AURI kebagian 69.912. 200 dollar AS, yang di dalamnya termasuk pemesanan 20 pesawat pembom.”
Tidak dapat dipungkiri, memang, Tu-16 pembom paling maju pada zamannya. Selain dilengkapi peralatan elektronik canggih, badannya terbilang kukuh. “Badannya tidak mempan dibelah dengan kampak paling besar sekalipun. Harus pakai las yang besar. Bahkan, untuk membongkar sambungan antara sayap dan mesinnya, laspun tak sanggup. Karena campuran magnesiumnya lebih banyak ketimbang alumunium,” ujar Bagio.
Namun Tu-16 bukan tanpa cacat. Konyol sekali, beberapa bagian pesawat bisa tidak cocok dengan spare pengganti. Bahkan dengan spare yang diambil secara kanibal sekalipun. “Kita terpaksa memakai sistem kerajinan tangan, agar sama dan pas dengan kedudukannya. Seperti blister (kubah kaca-Red), mesti diamplas dulu,” kenang Bagio lagi. Pengadaan suku cadang juga sedikit rumit, karena penempatannya yang tersebar di Ujung Pandang dan Kemayoran.
Sebenarnya, persediaan suku cadang Tu-16 yang dipasok dari Rusia, memadai. Tapi urusan politik membelitnya sangat kuat. Tak heran kemudian, usai pengabdiannya selama Trikora – Dwikora dan di sela-sela nasibnya yang tak menentu pasca G30S/PKI, AURI pernah bermaksud menjual armada Tu-16-nya ke Mesir. Namun hal ini tidak pernah terlaksana.
Begitulah nasib Tu-16. Tragis. Farewell flight, penerbangan perpisahannya, dirayakan oleh para awak Tu-16 pada bulan Oktober 1970 menjelang HUT ABRI. Dijejali 10 orang, Tu-16 bernomor M-1625 diterbangkan dari Madiun ke Jakarta. “Sempat ke sasar waktu kita cari Monas,” ujar Zainal Sudarmadji. Saat mendarat lagi di Madiun, bannya meletus karena awaknya sengaja mengerem secara mendadak.

Patut diakui, keberadaan pembom strategis mampu memberikan efek psikologis bagi lawan-lawan Indonesia saat itu. Bahkan, sampai pertengahan 80-an, Tu-16 AURI masih dianggap ancaman oleh AS. “Lah, wong nama saya masih tercatat sebagai pilot Tu-16 di ruang operasi Subic Bay, kok,” ujar Sudjijantono, angkatan Cakra 1.
Sekian tahun hidup dalam kedigdayaan, sampailah AURI (juga ALRI) pada massa yang teramat pahit dalam perjalanannya. Pasokan suku cadang terhenti, nasib pesawat tak jelas. Ditulis oleh Harold Crouch “Politik dan Militer di Indonesia”, 1978), AL dan AU yang bergantung pada teknologi yang lebih maju dari AD tidak dapat memelihara lagi dengan baik peralatannya.
Pada awal tahun 1970, KSAU Marsdya Suwoto Sukendar mengatakan, hanya 15 sampai 20 persen pesawat AURI yang dapat diterbangkan kapal ALRI hanya 40 persen karena ketiadaan suku cadang dari Uni Soviet. Tahun 1970, kemudian dikenang sebagai tahun pemusnahan persenjataan Blok Timur.
(Dikutip dari www.angkasa-online.com)



kalau Bung Karno masih ada sampai
saat ini dan masih menjadi presiden
Indonesia Insyaallah TNI kita bisa
menjadi yang terkuat di dunia.
Dan, alangkah BODOHnya SOEHARTO
malah berpaling ke amerika bukannya kembali bekerja sama
dengan Uni Soviet pada saat itu…..
JAYALAH INDOENSIA
lagi lagi amerika…lagi lagi sikap feodal dari pejabat…kadang bikin frustasi !! Dulu australia aja takut ma kita,sekarang kalau nelayan kta ngelaut dtembakin,kalau nelayan mereka lewat,kita balikin buru2 smbil bungkuk2…
zaman skrg lebih baik mempunyai pembom taktis krn pembom strategis spt tu 16,b52 ato b 1 lancer bs jd santapan rudal darat ke udara ato bahkan dijatuhkan oleh penyergap. Operasi pd masa dtg lebih pada ketepatan sasaran dg bomb berpemandu laser ato dg gps dan berdaya ledak tinggi. Utk itu pesawat sekelas SU 30MK lbh baik dioperasikan
kenapa TU 16 tersebut tidak diremajakan lagi yak….
padahal pesawat tersebut memiliki body yang sangat kokoh dan berpengaruh besar untuk indonesia!!!!!!
Sbelum tu-16 kita sempet punya b-25 mitchell kan..itu pesawat juga sangar..sayang tradisi bomber gak berlanjut k zaman ini
dulu kita berjaya sakarang bagaikan macan ompong cuman punya wilayah gede tapi gak punya senjata.
kapan lagi kita bisa punya pembom TU-16 ,KRI IRIAN,& kapal2x selamlaen. “CUMA DEMI AMERIKA”
PENJAJAH!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
mudah-mudahan kejadian ini tidak terulang kembali
jaman SUHARTO AURI+ALRI dipretelin kekuatannya baik personel maupun persenjataan padahal kalo mo mangamankan perbatasan negara yang kepulauan seperti indonesia kekuatan LAUT dan UDARA sangat KRUSIAL ! jadi nostalgia jaman BK deh…
kapan kita bisa punya pesawat tu 16 dan kapal RI irian ?
Pak Redjo, mungkin pertanyaannya, kapan kita bisa punya pesawat sehebat Tu-16 dan kapal laut sesangar RI Irian? karena kalau ditanya punya, kita sudah punya (dulu)
walah padahal calon-ku AURI juga, hehehehe..
tak apalah, hidup AURI, HIDUP PESAWAT TEMPUR!!!
Asalkan sisanya yang masih ada di museum tetap awet sebagai kenangan sejarah
amerika bangsaaaaaaaat!!!!!!
gara-gara amerika bangsa kita terpuruk
sayang…habis manis sepah dibuang…demi amerika…