Latest

Browning M2HB : Senapan Mesin Berat Ranpur Kavaleri

Kodratnya memang bukan sebagai senjata khusus kavaleri, namun bisa dibilang inilah arsenal senjata pelengkap kavaleri yang lumayan menentukan dalam tiap operasi militer. Tanpa browning, seolah daya gempur korps kavaleri jadi tak lengkap, ini tak berlaku di di Indonesia saja, melainkan di seantero dunia, terutama di negara-negara pengguna standar militer NATO.

Browning M2HB dikenal dalam lingkungan TNI dengan sebutan SMB (senapan mesin berat), tak lain karena kaliber yang diadopsinya adalah 12,7 mm. SMB mampu menghantam sasaran secara akurat dalam jarak 2500 meter. Selain unggul dalam hal akurasi, tidak ada satupun rompi anti peluru yang mampu menangkal penetrasi proyektil 0.50 inci M2HB. Bahkan lapisan kaca anti peluru plexiglass pun jeboll dihajar proyektil SMB.

Browning M2HB juga populer dalam terminologi, salah satunya browning populer dengan sebutan “Ma Deuce”, Heavy Barrel, Cal. .50 dan SMB. Adopsi SMB sangat luas, hampir semua matra, baik Angkatan Laut, Angkatan Darat dan Angkatan Udara telah merasakan kehebatan browning M2HB. Mulai dari helikopter, pesawat tempur, tank, panser, hingga unit infantri pun telah lama menggunakan browning M2HB.

Untuk kavaleri Indonesia, SMB 12,7 mm sejak awal telah menjadi senjata pamungkas bagi panser TNI-AD, yakni VAB buatan Prancis dan V-150 versi intai buatan Cadilage Cage buatan AS. Di lingkungan Korps Marinir, kiprah browning M2HB terbilang baru lewat penempatannya sebagai senjata utama bagi tank pendarat LVTP-7 buatan Korea Selatan.

Turret LVTP-7 dengan Browning M2HB

Lain lagi di lingkungan TNI-AU, browning M2HB dtempatkan sebagai senapan mesin di pesawat tubro propeler OV-10 Bronco, menggantikan senapan mesin M-60 yang hanya berkaliber 7,62 mm. Selain itu, browning M2HB juga dirancang dalam model twin gun pada helikopter Puma SA-330 Skadron 8 Lanud Atang Sanjaya. Twin gun ini ditempatkan pada sisi pintu, jadilah door gun Puma tampil garang.

M2HB sebagai door gun pada helikopter US Navy

SMB browning M2HB menggunakan amunisi kaliber 12,7 x 99 mm. Amunisinya tersedia dalam berbagai tipe munisi dengan inti baja keras antara lain Armour Piercing MU3-P yang unggul karena mempunyai daya tembus terhadap lapisan baja, Mild Steel dengan ketebalan 16 mm pada jarak 150 meter.

Dikutip dari Majalah Commando Edisi Maret – April 2006, disebutkan secara teknis SMB dirancang untuk bisa menembak full otomatis, sehingga bisa dipahami betapa dahsyat efek daya rusak senjata ini. Dalam pelaksanaan di lapangan ada aturan-aturan yang sebaiknya dipatuhi agar senjata bisa berumur panjang.

Panser V-150 TNI-AD dengan Browning M2HB
Panser VAB dengan SMB Browning M2HB

Seperti diungkapkan personel YonKav 7 yang menjadi operator panser VAB, pihak pabrik mensyaratkan laras senapan harus diganti setelah 10.000 tembakan. Namun, di lingkungan batalyon, aturan tadi dibuat lebih ketat, setalah 5.000 tembakan laras sudah diganti.

VAB Indonesia dalam misi PBB, laras Browning cukup mencolok

Selain syarat teknis, kebiasaan menembak juga berpengaruh pada usia pakai senjata. Terdapat tiga gaya menembak pada SMB. Pertama disebut rentetan pendek, artinya ada sekitar dua hingga tiga peluru lepas dalam sekali tembakan. Selanjutnya ada rentetan sedang, dimana lima peluru langsung dimuntahkan salam sekali tembak. Dan yang terakhir, disebut rentetan panjang, tembakan ini disebut full otomatis, sangat pas untuk mengatasi serbuan massal atau menghancurkan sarang perkubuan lawan.

Aksi Browning M2HB dalam film Black Hawk Down

Dengan beragam keunggulannya, wajar bila senapan yang aktif digunakan sejak Perang Dunia II ini terus digunakan hingga saat ini, hampir tiap operasi militer besar di dunia selalu menghadirkan jenis senjata pemukul ini. Mulai dari perang Korea, perang Vietnam, perang Teluk, dan perang Afganistan melibatkan kiprah M2HB secara masif. Beberapa negara pun terus mengembangkan varian-varian M2HB untuk diadopsi dalam berbagai tipe ranpur. Bila Anda ingin lihat performa daya gempur browning M2HB di layar kaca, saksikan film Black Hawk Down, di film tersebut M2HB menjadi senjata standar pada ranpur Humvee. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi M2HB Browning
Kaliber : 12,7 mm (0.50 inchi)
Rata-Rata Tembakan : 550 butir/menit
Kecepatan Peluru : 930 meter/detik
Jarak Tembak Efektif : 2000 – 2500 meter
Berat : 38 Kg (58 Kg dengan Tripod)
Panjang : 1,65 meter
Panjang Laras : 1,140 meter
Amunisi : Sabuk
Mekanisme : Recoil, short recoil
Produksi awal : 1932

030429-N-4374S-015

030429-N-4374S-015 — Off the coast of Virginia — Aviation Electronics Technician First Class Jason Van Buren, an aircrewman assigned to the Helicopter Combat Support Squadron Eight (HC-8) Dragon Whales fires a .50 caliber machine gun while fellow aircrewman Senior Chief Aviation Structural Mechanic Pete Durrant observes during a gun shoot qualification. Sea Knights are capable of carrying 25 passengers or 10,000 lbs. of sling-loaded cargo.nOfficial U.S. Navy Photograph by PH2 (SW) Michael Sandberg; Fleet Combat Camera, Atlantic.nPhotograph released by PHC (AW/NAC) Greg McCreash, Operations Chief FCCA.

Cockerill 90 : Kanon Pamungkas Korps Kavaleri

Cockerill 90 mm pada Panser Anoa 6×6 buatan Pindad

Walau punya jenis spesifikasi ranpur yang berbeda, antara kavaleri TNI-AD dan Marinir TNI-AL punya kesamaan untuk urusan senjata andalan. Baik kavaleri TNI-AD dan Marinir TNI –AL diketahui sejak lama sama-sama mengandalkan kanon Cockerill kaliber 90mm. Di lingkungan TNI-AD, Cockerill 90 diketahui memperkuat tank ringan Scorpion dan panser V-150, bahkan panser besutan Pindad yang masih prototip, yakni Anoa 6×6 versi kanon juga mengadopsi Cockerill 90. (more…)

LVTP-7 : Pendarat Amfibi Korps Marinir TNI-AL

LVTP-7 dengan kubah yang dilengkapi SMB 12,7 mm

“Mendarat dan menang..,” itulah misi utama Marinir di seluruh dunia dalam menjalankan tugas sebagai pasukan pendarat, pembuka gerbang untuk operasi militer lanjutan. Bagi Korps Marinir TNI AL adalah hal lumrah untuk berjibaku dan mempertaruhkan nyawa dalam tiap operasi pendaratan militer di seluruh wilayan Nusantara.

Tapi “beban berat” Korps Marinir yang malang melintang dalam berbagai konflik, mulai dari Dwikora, Timor Timur sampai Aceh kebanyakan masih mengandalkan kendaraan tempur (ranpur) amfibi berusia paruh baya. Ambil contoh ranpur BTR-50 dan PT-76 yang sudah eksis menjadi alutsista Korps Marinir sejak awal tahun 60-an. Salah satu sukses misi tempur pendaratan adalah ketersediaan ranpur pengangkut personel (armoured personel carrier/APC) yang handal.

Untuk urusan ranpur pendarat amfibi, sudah empat dekade Marinir TNI AL selalu mengandalkan BTR-50. Walau sudah diretrofit, tetap pada hekekatnya BTR-50 adalah ranpur tua. Penggunaan ranpur tua pun membawa risiko yang tak kecil, sudah beberapa kali terjadi insiden yang menewaskan prajurit Korps Marinir. Memang ada ranpur pendarat lain yang bisa jadi alternatif, sebut saja AMX-10 dan BVP-2, keduanya memang lebih modern tapi sayang tak bisa membawa personel lebih banyak dari BTR-50, dimana BTR-50 bisa membawa 20 personel bersenjata lengkap.

LVTP-7 Korps Marinir TNI AL saat melintas di Jalan Buncit Raya, Jakarta

Barulah pada tahun 2010, muncul “solusi” mujarab untuk Korps Marinir dengan hadirnya ranpur LVTP (Landing Vehicle Tracked)-7. LVTP-7 dirancang dengan desain roda rantai, bisa dibilang masuk kelas tank amfibi. Ranpur ini tergolong unik, sebab LVTP-7 terlihat bongsor dengan bobot mencapai 30 ton. Jadilah LVTP-7 sebagai ranpur amfibi dengan bobot terberat yang dimiliki Korps Marinir. Bobot ranpur ini tentu bukan tanpa alasan, LVTP-7 sanggup membawa 25 personel bersenjata lengkap plus 3 awak.

Konfigurasi posisi awak dan personel di kabin LVTP-7

Selayaknya ranpur pembawa personel, asupan persenjataan pada LVTP-7 tergolong terbatas, pastinta tak dirancang untuk menghancurkan MBT (main battle tank). Tapi tetap ada sisi unik yang melengkapi persenjataan pada ranpur ini, maklum Amerika Serikat selalu mengandalkan varian LVTP-7 dalm tiap gelar operasi amfibi, bahkan tak cuma operasi amfibi, ranpur yang juga dijuluki AAV (Assault Amphibian Vehicle)-7 ini juga hadir di medan konflik berpasir, seperti di Somalia dan wilayah Irak.

Sebagai senjata andalan, LVTP-7 mempercayakan kehandalan SMB (senapan mesin berat) browning M2HB kaliber 12,7 mm. Secara teori ranpur ini biasa memuat hingga 1200 peluru kaliber 12,7 mm. Tapi bisa juga SMB ditukar dengan pelontar granat kaliber 40 mm dengan tipe peluru M430 berkategori HEDP (high explosive dual purpose). Sedangkan untuk perlindungan, ranpur ini dilengkapi smoke discharger kalibr 40 mm. LVTP-7 memilikki lapian baja standar 5 cm.

Ruang kabin personel, posisi "atap" pada ranpur dapat dibuka untuk keluar masuk pasukan dan bantuan tembakan

Sebagai penggerak, LVTP-7 menggunakan mesin General Motors 8V53T yang ditempatkan pada kompartemen depan, serupa dengan ranpur AMX-10 dan BVP-2. Dengan daya maksmal yang disemburkan sebesar 400 hp dan dukungan sistem transmisi FMC-400-3 dengan empat percepatan, ranpur ini dapat dipacu hingga kecepatan 64 Km per jam di darat dengan jarak tempuh 480 Km. Sementara saat berenang, berkat sepasang waterjet di kiri dan kanan mampu menghasilkn daya dorong hingga kecepatan 14 Km per jam.

Tampak ruang kemudi dan perangkat komunikasi

LVTP-7 milik Korps Marinir TNI-AL berasal dari Korea Selatan, pabrik pembuatnya pun bukan FMS, melainkan dibuat berdasarkan lisensi oleh Samsung Techwin. Indonesia memperoleh ranpur ini lewat program hibah, dari yang awalnya direncanakan bakal 35 unit, hingga saat ini baru hadir 10 unit LVTP-7 di Jakarta.

Presiden SBY saat menjajal pendaratan LVTP-7 di kawasan pantai Lampung

Walau dari segi jumlah sangat minim, LVTP-7 buatan Korea Selatan ini semuanya sudah di upgrade ke versi AAV-7A1. LVTP-7 sangat pas dioperasikan dari kapal jenis LPD (Landing Platform Dock), seperi KRI Surabaya dan KRI Makassar. Presiden SBY pun sempat menjajal melakukan pendaratan amfibi di pantai lampung menggunakan ranpur amfibi ini. Beberapa operasi tempur yang sudah dilewati LVTP-7 yakni pada perang Malvinas (digunakan Marinir Argentina), perang Teluk dan perang Irak. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi LVTP-7
Pabrik : FMC Corporation
Produksi Perdana : 1972
Berat : 30 ton
Panjang : 7,94 meter
Lebar : 3,27 meter
Tinggi : 3,26 meter
Kecepatan maksimum : 64 Km/jam di darat dan 14 Km/jam di air
Awak : 3 +25

BTR-80A : Monster Amfibi Korps Marinir

Jumlahnya memang tak seberapa, panser amfibi andalan Korps Marinir TNI AL ini hanya ada 12 unit. Tapi ada kesan mendalam tentang panser beroda delapan ini, walau unit yang dimiliki Korps Marinir amat terbatas, BTR-80A Indonesia sudah mendapat penugasan dalam misi memperkuat batalyon mekanik pada pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon. Hal ini menandakan Indonesia tidak pelit untuk berpartisipasi dalam menjaga perdamaian dunia, walau alutsista yang dimiliki masih minim. (more…)

BMP-3F : Tank Amfibi “Kelas Berat” TNI-AL

marinir

Yang ditunggu akhirnya datang juga, ranpur (kendaraan tempur) BMP-3F milik korps Marinir akhirnya tiba di Tanah Air pada 27 November lalu di Surabaya. Jumlahnya memang tak banyak, hanya 17 unit, tapi inilah jenis tank paling modern dan tercanggih yang dimiliki Indonesia saat ini, dilihat dari kelengkapan persenjataan yang dibawa. Menurut rencana awal, dengan anggaran US$ 50 juta, Korps Marinir bakal mendapatkan 20 unit tank, tapi karena terjadi kenaikan harga per unit, akhirnya jumlah BMP-3F yang bisa diboyong ke Tanah Air berjumlah 17 unit saja. (more…)

Anoa : Panser Amfibi “made in Indonesia”

Anoa APC yang akan dikirim ke Lebanon

Kalau ada ranpur TNI yang paling banyak disorot tahun ini, itu tak lain adalah Anoa. Panser dari jenis APS (angkut personel sedang)-3, atau bisa disebut APC (armoured personnel carrier). Alasanya, pertama Anoa adalah panser besutan lokal (PT. Pindad) yang dirancang dengan bodi Monocoque Armoured, desainnya bisa dibilang mencontoh panser TNI AD sebelumnya, yakni VAB buatan Perancis. Bahkan Anoa berpenggerak roda 6×6. Alasan kedua, Anoa adalah panser dengan kualifikasi amfibi pertama yang dibuat di dalam negeri.

Dan, tak kalah penting, Anoa mendapat pengakuan internasional, ini dibuktikan dengan minat dari Oman, Malaysia, Nepal, dan Bangladesh untuk membeli Anoa. Boleh dibilang, Anoa adalah flagship kavaleri Indonesia, apalagi Anoa telah dilbatkan dalam satuan batalion mekanis Kontingen Garuda di Lebanon. Informasi terakhir, 13 unit Anoa telah dikirim ke Lebanon untuk memperkuat Satgas Batalyon Mekanis TNI Kontingen Garuda XXIII-D/UNIFIL.

Anoa juga dibuat versi 4x4 untuk Polri
Presiden SBY saat mencoba Anoa, tampak dibelakang SBY berupa anjungan juru tembak. Hal yang membedakan dengan panser VAB

Selain alasan-alasan diatas, Anoa kerap menarik perhatian warga, khususnya di Jakarta, sebab beberapa unit Anoa digadang sebagai ranpur Paspampres. Tak jarang Anoa terlihat “nongkrong” ibarat hiasan tanpa persenjataan di area kediaman Presiden dan Wakil Presiden.

Dari segi desain, panser ini rasanya memang “menyadur ” desain panser VAB besutan GIAT Perancis. Tapi Anoa dihadirkan dengan penyempurnaan, selain suspensi yang lebih baik, Anoa mempunyai kubah tempat penembak depan yang terpisah. Bandingkan pada VAB, kubah penembak SMB (senapan mesin berat) tepat berada di samping pengemudi, tentu posisi ini kurang ergonomis bagi penembak. Untuk itulah pada Anoa dilakukan penyempurnaan. Alhasil ukuran Anoa lebih panjang sedikit ketimbang VAB.

Tampilan ruang kabin personel di panser Anoa

Masih ada perbedaan lain, bila VAB menggunakan kemudi sebelah kiri (standar Eropa), maka Anoa mengadopsi letak kemudi di kanan (standar Indonesia). Nah, untuk yang lain-lainnya bisa dibilang Anoa dan VAB ibarat pinang dibelah dua. Contohnya Anoa menggunakan tipe mesin yang sama dengan VAB, yakni Renault MIDR 062045 inline 6 cylinder turbo-charged diesel. Tentu untuk urusan dapur pacu masih harus di impor dari Perancis. Begitu pula dengan suspensi yang menggunakan Independent suspension, torsion bar masih di impor. Dengan sistem penggerak enam roda simetris, Anoa mampu bergerak lincah di berbagai medan. Termasuk di kemiringan 31 derajat.

Aksi Anoa dalam mengatasi halang rintang
Anoa dilengkapi dua buah propeler untuk berenang

Pada Agustus 2008, Pindad mendapat order 150 unit Anoa dari Departemen Pertahanan. Hingga produksi ke 30, plat baja Anoa masih impor, selanjutnya plat baja akan dipasok oleh PT. Krakatau Steel. Mengenai performa plat baja, performanya mampu mehanan hantaman peluru kaliber 5,56 dan 7,62 mm. Anoa dilapisi dengan baja khusus yang telah memenuhi standar level III NATO.

Untuk persenjataan, ada dua pilihan yang ditawarkan, yakni pelontar granat AGL 40 atau SMB 12,7 mm. Untuk menghindar dari sergapan lawan, Anoa juga dibekali pelontar granat asap 2 x3 66 mm. Sejak diperkenalkan pertama kali pada Hari ulang Tahun TNI ke-61 di Cilangkap – Jakarta (5/10/2006). Anoa telah dikembangkan dalam beberapa varian, seperti versi ambulance, komando, logistik, armoured recovery, surveillance, dan versi pelontar mortir.

Anoa 6x6 versi kanon 90 mm
Tampilan belakang Anoa versi kanon 90 mm

Bahkan panser amfibi ini lebih hebat lagi berhasil dikembangkan ke versi kanon. Untuk versi kanon, desainnya lumayan sangar dengan mengadopsi kanon tipe Cockerill 90 mm Mk III, serupa dengan yang digunakan pada tank Scorpion 90. Tapi sayang, belum ada pesanan mengalir untuk Anoa versi kanon. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi Anoa APC
Pabrik : PT. Pindad
Berat Tempur : 14 ton
Panjang : 6 meter
Lebar : 2,5 meter
Tinggi : 2,9 meter
Kru : 3 + 10 personel
Senjata Utama : SMB 12,7 mm atau pelontar granat AGL 40 mm
Mesin : Renault MIDR 062045 inline 6 cylinder turbo-charged diesel
Transmisi : Automatic, ZF S6HP502, 6 forward, 1 reverse
Suspensi : Independent suspension, torsion bar
Kapasitas BBM : 200 liter
Jarak Tempuh : 600 Km
Kecepatan Max : 90 Km/jam ; 2,2 meter / detik di air

VAB : Kisah Panser Perisai Ibu Kota

Sebagian besar dari kita tentu masih ingat terjadinya kerusuhan massal pada tahun 1998. Akibat rusuh massal di beberapa kota besar secara sporadis, berbuntut tumbangnya pemerintahan orde baru (orba) pimpinan Soeharto. Rusuh massal yang berlangsung sporadis amat mengerikan, terutama di Ibu Kota Jakarta sebagai titik awal gerakan demokrasi. Hampir di setiap wilayah Jakarta terjadi pengrusakan, penjarahan dan pembakaran. Aparat TNI (dulu ABRI) dan Polri dituntut kerja kerasnya untuk menanggulangi dampak rusuh yang bernuansa politik ini.

Dari sekian banyak aktor yang terlibat dalam pengamanan Ibu Kota, ranpur (kendaraan tempur) VAB dari Perancis terbilang cukup memikat perhatian. Selain VAB tergolong panser anyar pada waktu itu, desain panser ini juga unik. Pada penanggulangan rusuh di Jakarta, dibawah komando Yon Kav 7 Sersus/Panser Khusus Kodam Jaya, VAB dilibatkan sebagai ranpur PHH (pasukan penanggulan huru hara). Ciri khas panser ini terlihat dari turet terbuka untuk SMB (senapan mesin berat) 12,7 mm yang terletak di sisi kanan panser.

VAB PHH saat rusuh tahun 1998 (foto : irwan.net)
VAB TNI AD dalam sebuah defile

Dalam masa genting, Pangdam Jaya saat itu, Mayor Jenderal Sjafrie Sjamsoeddin kerap berpatroli menggunakan VAB keliling Jakarta. Kehadiran VAB diharapkan dapat membawa efek deteren di masyarakat, dalam kampanye deteren, YonKav 7 juga mengerahkan panser V-150. Dilihat dari desain dan namanya yang unik, sebenarnya apa sih VAB itu? Dalam bahasa Perancis VAB (Véhicule de l’Avant Blindé) atau bisa disebut APC (armoured personnel carrier) yang dirancang oleh Euro Mobilitie Division GIAT Industries of France.

VAB ditawarkan dalam dua sistem chassis, yakni berpenggerak roda 4×4 dan 6×6. Kedua versi sama-sama mengadopsi kemampuan amfibi lewat dua bilah propeler. Kavaleri TNI AD menggunakan versi 4×4 dengan SMB 12,7 mm. Tetapi sebenarnya VAB bisa di setting untuk beragam pilihan senjata, seperti varian anti serangan udara dengan rudal darat ke udara Mistral dan the twin-mounted 20mm cannon. Yang terakhir dikembangkan khusus untuk militer Oman.

VAB Perancis dengan SMB 12,7 mm
SMB 12,7 mm yang khas pada VAB, sayang kurang memberi perlindungan pada juru tembak

Selain bisa berenang, VAB juga mempunyai sistem proteksi bagi serangan Nubika (Nuklir Biologi dan Kimia) plus night vission bagi pengemudinya. VAB menurut spesifikasinya terdiri dari dua orang kru, yakni pengemudi dan penembak. Dan kapasitas personel yang bisa diangkut VAB yakni 10 orang dengan senjata lengkap.

Indonesia diketahui mulai tertarik pada panser ini sejak kiprahnya dalam mendukung pasukan perdamaian PBB di Bosnia. Bahkan saat itu, almarhum presiden Soeharto sempat menumpang VAB dalam kunjungannya ke Sarajevo, Ibu kota Bosnia Herzegovina pada bulan Maret 1995. VAB saat itu amat identik dengan pasukan penjaga perdamaian dari Perancis, walau tak sedikit VAB yang rusak atau hancur dalam konflik di Bosnia tersebut.

VAB dibekali dua unit propeler untuk "berenang"

Sejak sukses membawa rombongan presiden RI, VAB mulai dilirik untuk memperkuat kavaleri Indonesia. Akhirnya pesanan VAB pun bergulir, menurut Kerry Plowright dalam ADF Research Sheet 2008, disebutkan TNI AD telah memiliki 46 unit VAB 4×4. Dan pesanan VAB bertambah pada tahun 2006, pemerintah Indonesia membeli lagi VAB sejumlah 32 unit dari Renault Truck, Perancis untuk mendukung Kontingen Garuda XXIII-A di Lebanon Selatan. Pada tahun 2003, Renault Track Defence mengambil alih peran marketing VAB dalam perjanjian dengan GIAT. Puluhan kendaraan lapis baja yang dibeli Indonesia tersebut memiliki spesifikasi rangka tahun 1997 hingga 2000, tapi menggunakan komponen dan teknologi tercanggih.

VAB TNI AD dalam misi perdamaian di Lebanon

Panser VAB TNI AD dibuat dalam tiga jenis, yaitu jenis komando, angkut, dan ambulans yang dilengkapi dengan sistem integrated logistic support (ILS). Sukses VAB memang tersohor ke penjuru dunia, di segala medan panser ini hadir, mulai dari perang teluk, invasi ke Afganistan sampai operasi militer TNI di NAD dalam menumpas GAM (Gerakan Aceh Merdeka).

VAB TNI AD di wilayah operasi

Sukses di beragam medan operasi, membuat PT. Pindad tertarik untuk mengadopsi paltform VAB untuk panser made in Indonesia yang populer, yakni Anoa yang berpenggerak roda 6×6. Sejak di produksi tahun 1976, populasi VAB dalam beragam versi telah mencapai 5000 unit yang tersebar di penjuru dunia. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi VAB
Berat Tempur : 13,8 ton
Panjang : 5,98 meter
Lebar : 2,49 meter
Tinggi : 2,06 meter
Kru : 2 + 10
Perlindungan : mampu menahan peluru caliber 7,62 mm
Mesin : Renault MIDR 062045 235 kW (320 hp)
Kapasitas BBM : 310 liter
Jarak tempuh : 1200 km
Kecepatan Max : 90 Km/jam
2,2 meter/detik di air

Casspir MK3 : “Kuda Perang” Kopassus dari Afrika Selatan

Casspir Kopassus dalam sebuah defile

Bagi Anda yang eksis di era 80-an, mungkin akan teringat kembali saat melihat sosok ranpur (kendaraan tempur) Casspir. Ranpur buatan Afrika selatan (Afsel) yang dirancang oleh Council for Scientific and Industrial Research (CSIR) ini terbilang fenomemal, maklum di era 80-an berita seputar politik “Apartheid” di Afsel kerap menghiasi layar kaca di TVRI (Televisi Republik Indonesia). Nah, boleh dikata sosok Casspir kerap muncul kala itu sebagai ranpur bagi aparat polisi/militer Afsel dalam meredam pemberontakan kaum kulit hitam.

Dilhat dari desainnya, Casspir terlibang sangar dan unik, bodinya cenderung bersudut tegak dengan lambung berbentuk huruf V. Saking uniknya, Casspir dipercaya tampil sebagai “figuran” di beberapa film besar, salah satunya di film “Distric 9” yang kebetulan mengambil setting lokasi di Johannesburg, Afsel. Selain tampangnya yang seram, apa yang mejadi kebolehan Casspir?

Sejatinya ranpur yang bisa disebut panser atau truk ini punya kemampuan untuk memberikan perlindungan maksimum dari hantaman ledakan ranjau. Bagian samping Casspir dirancang mampu menahan ledakan bom setara dengan 14 kilogram TNT. Dan bagian bawah mampu menahan bom seberat 21 kilogram. Casspir juga mampu meredam hantaman peluru kaliber 5,56 milimeter dan 7,62 milimeter. Jadi tak soal bila Casspir dihujani peluru dari senjata macam M-16 atau AK-47. Kabinnya berdaya muat 12 personel bersenjata lengkap. Untuk mempermudah mobilitas, pintu dioperasikan dengan tenaga angin.

Sebagai ranpur yang dirancang mampu melibas medan off road, mobilitas Casspir mengadopsi axle yang sama seperti pada truk Unimog. Konstruksinya berupa single reduction hypoid drive axle dengan diff lock AL 3/2,5 yang sudah teruji kehandalannya merambah medan berat.

Sedang untuk dapur pacunya, ranpur ini menggunakan Diesel 6 silinder 4 valve type OM352A buatan Mercedes-Benz yang juga sama persis seperti yang digunakan Unimog. Guna menambah performa engine juga dilengkapi dengan turbo charger.

Casspir digunakan oleh Kepolisian di Amerika Latin

Casspir dibekali persenjataan untuk menggebrak sasaran, andalannya yakni varian senapan mesin kaliber 7,62 m. Tapi dapat juga dipasangkan senapam mesin berat (SMB) kaliber 12,7 mm atau 20 mm. Para personel yang berada di kabin belakang juga dapat memberikan tembakan bantuan dengan membuka atap/kubah di atas kompartemen. Casspir dapat membawa 12 personel dengan senjata lengkap, jumlah awak Casspir 2 orang (supir dan juru tembak).

Casspir milik Angola dengan SMB 12,7 mm

Dengan beragam kelebihan itulah, Kopassus (Komando Pasukan Khusus) TNI AD mempercayakan Casspir MK3 sebagai “kuda perang” andalan bagi satuan Gultor (Penanggulangan Teror). Tidak diketahui persis berapa jumlah Casspir yang dimiliki Kopassus, ranpur ini pertama kali terlihat oleh publik dalam acara Hari Juang Kartika di tahun 2004.

Hingga kini populasi Casspir mencapai 2500 unit lebih di seluruh dunia. Selain laris manis dibeli negara-negara Afrika, tercatat India juga mengoperasikan ranpur ini. Casspir sudah dibuat dalam beberapa varian, dan yang terbaru adalah versi MK4. Dalam proses produksi, Casspir telah beralih kepemilikan manufaktur, sejak 2004 produksi Casspir ditangani oleh Land Systems OMC, anak perusahaan BAE (British Aerospace). (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi Casspir
Berat : 10,88 ton
Panjang : 6,9 meter
Lebar : 2,45 meter
Tinggi : 2,85 meter
Kru : 2 + 12
Mesin : OM352A turbo-charged diesel 124 kW
Suspensi : 4×4
Jarak Tempuh : 770 Km

BMP-2 : Tank Amfibi “Sangar” & Battlle Proven

BMP-2 Marinir dalam sebuah defile

Tak banyak alustsista (alat utama sistem senjata) milik TNI yang berkualifikasi ”sangar,” khususnya di segmen kavaleri. Lebih modern mungkin ada, tapi yang benar-benar sangar hanya bisa dihitung dengan jari. Yang dimaksud sangar pada tulisan ini yakni dilihat dari segi desain, persenjataan dan battle proven (terbukti handal dalam medan perang). Dimana kesemua unsur tadi bila digabungkan mampu menciptakan daya getar (deteren) bagi lawan.

Ketimbang alutisista kavaleri buatan barat, seperti tank Scorpion, AMX-10 dan Stormer dipandang kurang punya daya getar ketimbang produk tank dan panser buatan Uni Soviet/Rusia. Pasalnya produk dari barat masih minim ”pengalaman perang” dan berdesain lebih mungil. Terkait kata sangar, Korps Marinir TNI-AL adalah institusi kavaleri yang paling beruntung, Korps Marinir hingga kini punya arsenal sangar (walau sebagian jadoel dan jumlah terbatas) macam tank amfibi PT-76, BTR-50, panser amfibi BTR-80 dan BMP-2

Yang disebut terakhir, BMP-2 adalah tank tipe APC (armored personel carrier) berkualifikasi amfibi. BMP-2 sejatinya bukan produk baru, tank ini dibeli bekas oleh pemerintah RI dari Ukraina dan Slovekia pada tahun 1998 dalam beberapa gelombang pengiriman. Menurut Kerry Plowright dari lembaga riset ADF 2008, disebutkan Indonesia kini mempunyai 40 unit BMP-2.

Tank Sangar Korps Marinir
Apa yang membuat BMP-2 disebut sangar? Tak lain karena desain tank dan persenjataan yang diadopsi. Sebagai sebuah APC, BMP-2 punya bekal senjata utama kanon otomatis 2A42 kaliber 30 mm. Selain manjur menghantam sasaran di darat, kanon 30 mm sangat efektif untuk menghajar sasaran di udara, seperti helikopter dan pesawat berkecepatan rendah. Sebagai gambaran, kanon 30 mm BMP-2 dapat memuntahkan 200 – 300/550 peluru per menit. BMP-2 dapat membawa 340 amunisi High Explosive kaliber 30 mm.

Canggihnya lagi, kanon 30 mm dilengkapi stabililizer sehingga dapat membidik sasaran secara akurat saat melaju dengan kecepatan 35 km per jam. Sudut kubah dapat berputar secara cepat 360 derajat, dan sudut elevasi laras hingga 74 derajat. Semua ini menjadikan BMP-2 handal untuk menghajar sasaran helikopter. Untuk itu Korps Marinir menempatkan tank ini pada resimen artileri pertahahan udara (Arhanud), walau sejatinya BMP-2 lebih pas berada di satuan kavaleri, pasalnya BMP-2 tak punya radar penjejak sasaran udara.

Pintu keluar masuk personel, pintu dapat memuat cadangan air/bahan bakar

Kesan sangar BMP-2 bertambah dengan adanya bekal rudal anti tank AT-5 Spandrel yang ditempatkan pada sisi atas kubah. Sebagai senjata tambahan, ada senapan mesin coaxial kaliber 7,62 mm dengan jumlah amunisi 2000 peluru. Tank angkut personel ini dapat membawa 7 – 8 personel dengan jumlah kru 3 orang.

Rudal anti tank AT-5 Spandrel

Berenang Tanpa Persiapan Rumit
Ketimbang tank-tank amfibi masa lalu, BMP-2 punya kehebatan mampu berenang tanpa persiapan yang rumit. Unik memang, tak ada bekal water jet ataupun baling-baling untuk berenang, tenaga untuk mengarungi air berasal dari putaran arah gerak rantai. Sekilas mirip dengan pola di panser V-150 TNI-AD, yang kemampuan renangnya dihasilkan dari arah gerak roda.

Dengan kemampuan mobilitas yang tinggi, tak pelak BMP-2 amat populer digunakan di banyak negara. Pengalaman tempur tank ini sudah mendunia, mulai dari medan salju hingga padang pasir terbukti mampu dilahap tank ini. BMP-2 mulai digunakan oleh Uni Soviet pada tahun 1982. Beberapa konflik dunia yang melibatkan tank ini antara lain perang di Afghanistan, perang Irak-Iran, perang Teluk tahun 1991, perang saudara di Georgia dan operasi militer Rusia di Chechnya.

BMP-2 Irak yang terkena hantaman kanon dalam perang melawan US Army

Sejak satu dasawarsa hadir di Tanah Air, BMP-2 sudah terjun ke medan konflik, contohnya pengamanan konflik SARA di Maluku dan penumpasan GPK GAM. Tak jarang saat melawan GAM, BMP-2 melakukan bantuan tembakan langsung ke kubu lawan. Di kawasan ASEAN, hanya Vietnam yang memiliki tank jenis ini, jumlahnya cukup besar yakni 600 unit. Beberapa negara sekutu Rusia mendapat kesempatan untuk memprokusi tank ini, seperti India dan Ukuraina. Dengan segala kesangarannya, tak salah bila BMP-2 Marinir bisa disejajarkan dengan APC andalan US Army, M2 Bradley. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi BMP-2
Kru : 3 + 7
Senjata Utama :
Main : 1 x 30mm cannon
Co-axial : 1 x 7.62mm machine gun
Anti-tank : 1 x AT-5 Spandrel Anti-Tank Guided Missile launcher
Berat Tempur : 14,300 kg
Panjang : 6.73 m
Lebar : 3.15 m
Tinggi : 2.45 m
Mesin : 300 hp Type UTD-20 6-cylinder diesel engine
Kecepatan Maksimum : 65 km/h
Kecepatan Maksimum di Air : 7 km/h
Jangkauan : 600 km