Helikopter Serang AH-64E Apache Inggris Bakal Terintegrasi dengan Drone ‘Loyal Wingman’ dari Anduril UK

Kementerian Pertahanan Inggris mengumumkan kelanjutan program revolusioner bertajuk Project NYX (Land Autonomous Collaborative Platform – ACP) pada 15 Mei 2026. Dalam fase terbaru ini, raksasa teknologi pertahanan Anduril UK (anak perusahaan Anduril Industries asal AS) secara resmi terpilih masuk ke tahap pengembangan selanjutnya bersama tiga konsorsium industri lainnya, yakni BAE Systems Operations, Tekever, dan Thales UK.
Baca juga: Gandiwa: Konsep Helikopter Tempur “Gado-Gado” AH-64 Apache dan AH-1 Cobra
Proyek ambisius yang disokong investasi awal senilai 10 juta Poundsterling ini dirancang khusus untuk menciptakan ekosistem “pendamping udara” (loyal wingman) otonom bagi armada helikopter serang andalan Angkatan Darat Inggris (British Army), Boeing AH-64E Apache V6. Langkah ini diambil guna memperluas jarak jangkau, tingkat kelangsungan hidup (survivability), serta mempertebal massa tempur (combat mass) di ruang udara yang kian pekat oleh ancaman.
Latar belakang lahirnya Project NYX didasari oleh realitas pertempuran modern yang berubah drastis di mana pekatnya sistem pertahanan udara berlapis (layered air defense), pengawasan medan perang yang ketat, maraknya drone murah, serta taktik peperangan elektronik (electronic warfare) telah mengubah kalkulasi risiko bagi pasukan helikopter berat.
Alih-alih memaksa kru Apache masuk lebih dalam ke perimeter bahaya demi mendeteksi dan mengunci target, Project NYX hadir memberikan solusi berupa platform nirawak yang terbang di garis paling depan untuk melakukan misi pengintaian, akuisisi target, peperangan elektronik, hingga eksekusi serangan presisi. Melalui konsep ini, formasi Apache dapat mendistribusikan fungsi sensor dan efek serangan ke dalam jaringan sistem taktis terdistribusi, tanpa perlu memusatkan risiko serta proses pengambilan keputusan kritis di dalam satu helikopter berawak tunggal.

Secara konsep operasional, teknologi otonomi misi kolaboratif yang disodorkan oleh Anduril UK membawa perubahan radikal yang berbeda dari model drone yang dikendalikan dari jarak jauh secara konvensional. Project NYX sepenuhnya menganut prinsip “Command Rather Than Control” (Perintah, Bukan Kendali). Melalui arsitektur ini, drone akan beroperasi secara mandiri di dalam parameter misi yang telah ditentukan tanpa menuntut pilot helikopter untuk menerbangkannya secara manual, sehingga tidak akan membebani psikologis atau fokus kru kokpit.
Berkat sistem otonomi, drone mampu mengerahkan launched effects dan membagi cakupan sensor di area operasi yang luas. Meski drone dibekali kecerdasan buatan tingkat tinggi untuk bernavigasi dan melacak target, regulasi ketat tetap diberlakukan di mana setiap keputusan mematikan (lethal decisions) yang berkaitan dengan pelepasan senjata mutlak berada di bawah otoritas dan validasi final manusia (human-in-the-loop).
🚨 Anduril has reportedly developed a new weapon system for the Apache attack helicopter in just six months.
For the first time ever, the AH 64 has launched its own drone, capable of flying up to 286 miles. One variant is said to deliver strike power comparable to a Hellfire… pic.twitter.com/CcM5mp65T5
— WAR (@warsurv) May 13, 2026
Arsitektur perangkat keras (hardware) drone yang diajukan oleh Anduril UK menggabungkan perangkat lunak otonomi mutakhir dengan fitur desain yang diadopsi dari sektor wahana hybrid-electric VTOL (lepas landas dan mendarat vertikal). Drone ini dirancang dengan kemampuan self-deploying atau menggelar diri secara mandiri dalam jarak jauh, menyusup cepat ke area konflik, serta membawa kapasitas muatan (payload) yang melampaui batas standar persyaratan minimum program.
Mengusung arsitektur sistem terbuka yang modular dan interoperabel, drone ini dirancang agar mudah diintegrasikan dengan sensor berdaulat Inggris maupun hulu ledak pihak ketiga di masa depan seiring berkembangnya teknologi kontra-drone dan sistem pertahanan lawan dalam satu dekade ke depan.
Guna mematangkan proyek ini, Anduril UK yang kini diperkuat lebih dari 100 insinyur lokal di Inggris telah mengucurkan dana mandiri hingga puluhan juta poundsterling, termasuk sukses melaksanakan uji coba penerbangan awal menggunakan wahana pengganti berskala penuh (full-scale surrogate vehicle) di fasilitas uji coba mereka di Wales Utara.
Tren integrasi helikopter serang dengan drone otonom di Inggris ini nyatanya merefleksikan pergeseran doktrin aliansi NATO yang lebih luas, seperti yang baru-baru ini dipraktikkan oleh Angkatan Darat Amerika Serikat (US Army). Dalam uji coba eksperimen perang fungsional lintas domain (Cross Domain Fires Concept Focused Warfighting Experiment 26) di Yuma Proving Ground, sebuah helikopter AH-64 Apache milik AS sukses meluncurkan wahana launched effect Altius 700 baik dalam kondisi melayang (hover) maupun saat bermanuver penuh.
Uji coba AS tersebut membuktikan lompatan besar di mana helikopter serang era Perang Dingin yang semula dioperasikan sebagai pemburu tank terisolasi kini telah berevolusi menjadi sebuah node tempur berbasis jaringan (networked combat node) yang mampu memproyeksikan sensor, taktik penyesatan (deception), serta efek serangan jauh ke depan melalui sistem otonom.
Sesuai dengan linimasa resmi dari Kementerian Pertahanan Inggris, cetak biru desain dari Anduril bersama tiga kompetitor lainnya akan dievaluasi secara ketat dalam beberapa bulan ke depan. Pihak Kemhan Inggris dijadwalkan akan mengerucutkan kontestan menjadi maksimal dua kandidat utama pada musim gugur tahun 2026 untuk memulai fase pembuatan prototipe fisik.
Jika seluruh rangkaian pengujian dan integrasi taktis berjalan sukses di lapangan, varian operasional penuh dari drone pendamping otonom untuk helikopter serang AH-64E Apache ini ditargetkan sudah resmi masuk dinas aktif pada tahun 2030. (Gilang Perdana)
IHADSS: Sensasi Teknologi “Blue Thunder” Untuk AH-64E Apache Guardian TNI AD


