Ironi Drone SIRTAP Spanyol: Sukses Raih Progres, Tegaskan Lambannya Eropa Membangun UCAV Lokal

Airbus Defence and Space baru saja menorehkan tonggak sejarah dalam kedirgantaraan militer Eropa setelah sistem pesawat tanpa awak terbaru mereka, SIRTAP (Sistema Integrado de Vigilancia Aérea), sukses menyelesaikan uji coba taksi (taxi test) pertamanya di Pangkalan Udara Getafe, Spanyol.
Baca juga: Airbus SirTAP – Drone Intai MALE Spanyol-Kolombia yang Masih Menanti Kontrak
Dalam pengujian penting tersebut, wahana udara ini dikendalikan penuh dari stasiun kontrol darat (Ground Control Station) untuk memverifikasi fungsi pengereman, sistem kemudi, sensor navigasi, hingga respons sistem komando di darat. Progres positif ini secara langsung menggeser fokus program SIRTAP ke tahap uji taksi kecepatan tinggi (high-speed taxi trials) sebelum akhirnya melaksanakan penerbangan perdana (maiden flight) yang dijadwalkan dalam waktu dekat.
Namun, di balik selebrasi keberhasilan Airbus, pencapaian SIRTAP ini sekaligus menyiratkan sebuah paradoks besar mengenai lambannya erosi taji industri pertahanan Eropa di ranah pesawat tanpa awak kelas MALE (Medium-Altitude Long-Endurance). Ketika benua biru masih berkutat pada fase uji darat untuk drone intai tak bersenjata, negara-negara kompetitor seperti Turki dan Cina sudah melompat jauh ke depan dengan memproduksi massal dan mengoperasikan puluhan jenis UCAV (Unmanned Combat Aerial Vehicle) berkemampuan serang penuh di berbagai palagan konflik global.
Kelambatan birokrasi dan inkonsistensi pendanaan di internal Uni Eropa membuat mereka tertinggal dalam perlombaan teknologi yang kini justru didominasi oleh nama-nama seperti Baykar Makina melalui lini Bayraktar-nya atau Aviation Industry Corporation of China (AVIC) lewat seri Wing Loong.
New milestone achieved! The #Airbus U850 #SIRTAP has successfully completed its first taxi at the @EjercitoAire Getafe Air Base runway, right next to our facilities.
During this taxi test, the aircraft is fully controlled from the ground control station. The test verifies the… pic.twitter.com/l7JYfxnXBG
— Airbus Defence (@AirbusDefence) June 15, 2026
Menilik sejarah pengembangannya, proyek SIRTAP lahir dari kebutuhan mendesak Angkatan Darat dan Angkatan Udara Spanyol untuk menggantikan armada drone taktis mereka yang mulai menua, seperti Searcher MKII buatan Israel. Diinisiasi bersama antara Spanyol dan Kolombia sejak pertengahan dekade lalu, program ini sempat mengalami dinamika anggaran sebelum akhirnya Kementerian Pertahanan Spanyol resmi menandatangani kontrak pengadaan senilai 495 juta euro dengan Airbus pada akhir tahun 2023 untuk memproduksi sembilan sistem SIRTAP. Keputusan Spanyol untuk mempertahankan proyek ini adalah demi menjaga kedaulatan industri pertahanan domestik serta memastikan transfer teknologi kedirgantaraan tetap berputar di dalam negeri, menolak opsi instan untuk membeli drone siap pakai dari luar Eropa.
Airbus Raih Kontrak Produksi Drone MALE SiRTAP untuk Angkatan Darat dan Udara Spanyol
Secara spesifik, SIRTAP dirancang sebagai platform intai taktis berkemampuan tinggi dengan spesifikasi teknis yang disesuaikan untuk operasi di lingkungan ekstrem. Drone ini memiliki panjang sekitar 7,3 meter, bentang sayap mencapai 12 meter, dan bobot lepas landas maksimum (MTOW) berkisar di angka 750 kilogram.
Ditenagai oleh mesin propeler tunggal yang andal, SIRTAP diproyeksikan mampu terbang terus-menerus selama lebih dari 20 jam (endurance) dengan langit-langit jelajah operasional hingga ketinggian 21.000 kaki. Karakteristik fisik dan desain modularnya sengaja dioptimalkan agar seluruh sistem drone ini dapat dibongkar-pasang dengan cepat untuk kemudian diangkut menggunakan pesawat angkut taktis sekelas C-295.
Personalmente, con el aumento del uso de drones por parte de la insurgencia, invertiría en su cazador, el SIRTAP con un pod localizador de señales/SIGJAM Antidot sería un combo excelente para contrarrestar esta amenaza con “regalos” de vuelta pic.twitter.com/LRv95pB6tH
— plaka (@operativplaka) June 8, 2026
Keunggulan utama yang ditawarkan oleh SIRTAP terletak pada fleksibilitas arsitektur payload dan ketangguhan operasionalnya di medan terpencil. Drone ini dilengkapi dengan pod elektro-optik/infra-merah (EO/IR) generasi terbaru serta radar aperture sintetis (SAR) canggih yang memungkinkannya menjalankan misi intelijen, pengawasan, dan pengintaian (ISR) sepanjang hari dalam kondisi cuaca buruk sekalipun.
Selain itu, kelebihan operasional SIRTAP adalah kemampuannya untuk lepas landas dan mendarat di landasan pacu yang tidak dipersiapkan atau tidak beraspal (unpaved airstrips), sebuah fitur krusial yang jarang dimiliki oleh drone MALE berukuran besar. Meski keunggulan ini sangat mumpuni untuk misi pengawasan perbatasan dan maritim, tantangan besar Airbus ke depan tetaplah membuktikan apakah platform SIRTAP dapat dengan cepat ditingkatkan menjadi UCAV bersenjata guna mengejar ketertinggalan Eropa di pasar ekspor militer dunia. (Bayu Pamungkas)
Hermes 900 Starliner: Drone Intai MALE Pertama dengan Sertifikasi Ganda, Militer dan Sipil


