Biaya Produksi Membengkak, Jadwal Operasional KF-21 Boramae Terancam Mundur

Program jet tempur KF-21 Boramae kini tengah menghadapi tantangan serius yang dapat memengaruhi jadwal pengirimannya. Berdasarkan dokumen terbaru dari Badan Program Akuisisi Pertahanan (Defense Acquisition Procurement Administration/DAPA) yang diserahkan kepada parlemen pada Selasa (12/5/2026), proyek kebanggaan Seoul ini mengalami pembengkakan biaya produksi yang cukup signifikan.

Baca juga: Tandem Seat, KAI Perlihatkan Prototipe Ketiga dan Keempat Jet Tempur KF-21 Boramae

Seperti dikutip Yonhap News Agency, lonjakan anggaran ini tidak hanya membayangi rencana jangka panjang, tetapi juga mulai memberikan tekanan nyata pada fase produksi yang sedang berjalan saat ini.

Laporan tersebut mengungkapkan bahwa proyeksi biaya untuk produksi fase Block-II melonjak tajam hingga 29,5 persen. Estimasi awal yang ditetapkan pada Agustus 2024 sebesar 14,24 triliun won kini membengkak menjadi 18,44 triliun won (sekitar US$12,5 miliar). Kenaikan sebesar 4,19 triliun won ini memicu kekhawatiran mengenai kemampuan fiskal pemerintah dalam mempertahankan tempo proyek sesuai jadwal semula.

Tidak hanya pada fase masa depan, fase Block-I yang tengah berjalan pun tidak luput dari tekanan, di mana biaya produksinya telah merangkak naik dari 7,92 triliun won menjadi 8,38 triliun won.

Sah! KF-21 Boramae Kantongi Sertifikat Kelayakan Tempur Final Setelah 1.600 Kali Uji Terbang

DAPA mengidentifikasi bahwa pembengkakan biaya ini dipicu oleh kombinasi faktor ekonomi makro global yang tidak terhindarkan. Tingginya angka inflasi dunia serta gangguan pada rantai pasok global telah meningkatkan harga bahan baku dan komponen kedirgantaraan secara drastis. Situasi ini diperparah oleh pelemahan nilai tukar mata uang Won terhadap Dollar AS, yang secara otomatis menaikkan biaya pengadaan berbagai sistem avionik dan komponen kunci yang masih harus diimpor dari luar negeri. Akibatnya, margin anggaran yang telah dialokasikan sebelumnya terkikis oleh kenaikan harga vendor di seluruh lini produksi.

Kondisi finansial ini diprediksi akan membawa dampak domino terhadap jadwal operasional di Angkatan Udara Korea Selatan (ROKAF). DAPA dan ROKAF kini tengah mendiskusikan opsi untuk menunda jadwal penugasan (fielding) batch pertama sebanyak 40 jet dari fase Block-I. Target pengiriman yang semula dijadwalkan rampung pada 2028 kemungkinan besar akan mundur satu tahun ke tahun 2029.

Sementara itu, untuk 80 unit jet pada fase Block-II yang memiliki kemampuan serangan udara-ke-darat, jadwal masuk kedinasannya diperkirakan akan molor lebih lama, yakni antara dua hingga tiga tahun dari target semula tahun 2032.

Penundaan ini menjadi dilema strategis bagi ROKAF, mengingat KF-21 sangat dibutuhkan untuk segera menggantikan armada gaek F-4 Phantom dan F-5 Tiger yang telah dipensiunkan. Meskipun dibayangi masalah anggaran, KF-21 tetap menunjukkan performa teknis yang solid dalam berbagai uji coba, termasuk kemampuan melaju hingga Mach 1.81 dan integrasi radar AESA canggih. (Gilang Perdana)

Kembaran ‘Identik’ F-5E/F Tiger II TNI AU Segera Pensiun, Meksiko Mulai Cari Pengganti Sang Macan Legendaris

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *