Kejutan! Indonesia Jadi Pelanggan Ekspor Pertama di Dunia untuk Drone Siluman Kızılelma

Meski harus menanti konfirmasi dari Kementerian Pertahanan RI, ajang pameran pertahanan SAHA Expo 2026 dikejutkan dengan pengumuman penting, yaitu Indonesia secara resmi menandatangani kontrak akuisisi drone tempur (Unmanned Combat Aerial Vehicle) stealth Bayraktar Kızılelma.

Baca juga: Perkuat Operasi Asimetris, Aselsan Luncurkan Drone Bawah Laut Kilic dan USV Tufan di SAHA 2026

Seperti dikutip dari defenceturkey.com, penandatanganan kontrak dilakukan oleh CEO Baykar Technology, Haluk Bayraktar, dan Chairman Republikorp Indonesia, Norman Joseph. Kesepakatan ini mencakup pembelian satu skadron perdana yang terdiri dari 12 unit Bayraktar Kızılelma, dengan jadwal pengiriman unit pertama direncanakan mulai mengalir ke tanah air pada tahun 2028.

Lebih ambisius lagi, kesepakatan kerangka kerja ini juga mencakup opsi penambahan hingga empat skadron atau sebanyak 48 unit tambahan, yang menjadikan potensi total armada Kızılelma Indonesia mencapai 60 pesawat. Langkah ini memposisikan Indonesia sebagai pelanggan ekspor pertama di dunia untuk drone tempur stealth paling mutakhir milik Turki tersebut.

Kerja sama strategis ini tidak hanya terpaku pada pengadaan alutsista siap pakai, tetapi juga mencakup komitmen mendalam pada sektor pemeliharaan dan kemandirian industri lokal. Dalam kesepakatan tersebut, Baykar dan Republikorp berencana membangun pusat produksi dan pemeliharaan lokal di Indonesia untuk mendukung keberlanjutan operasional armada Kızılelma dalam jangka panjang.

Haluk Bayraktar menekankan bahwa Kızılelma adalah puncak dari teknologi drone Turki yang memulai penerbangan perdananya pada 2022 dan baru saja menyelesaikan fase produksi massal tahun ini. Bagi Indonesia, Kızılelma merupakan tipe produk ketiga yang diakuisisi dari Baykar setelah sebelumnya menyepakati kontrak untuk Bayraktar TB2 dan Bayraktar Akıncı, yang menunjukkan tingkat kepercayaan tinggi terhadap ekosistem teknologi nirawak dari Ankara.

Norman Joseph mengungkapkan bahwa kehadiran lima skadron Kızılelma di masa depan akan secara drastis meningkatkan kapasitas udara dan pertahanan nasional Indonesia. Selain Kızılelma, Indonesia juga tengah mematangkan rencana untuk mengoperasikan varian Bayraktar TB3 yang akan digunakan baik oleh Angkatan Udara maupun Angkatan Laut, terutama untuk operasional di platform maritim.

Dalam visi peperangan udara masa depan, Kızılelma diproyeksikan untuk menjalankan peran sebagai Loyal Wingman, pendamping bagi jet tempur berawak generasi kelima seperti KAAN yang juga tengah dijajaki proses pengadaannya. Konsep wingman ini dianggap sebagai kunci masa depan pertempuran udara, di mana pesawat tak berawak siluman bertugas menembus zona bahaya dan menjalankan misi tempur berisiko tinggi guna melindungi aset berawak.

Secara teknis, Bayraktar Kızılelma menawarkan spesifikasi yang menjadikannya predator udara yang sulit dideteksi. UCAV ini memiliki berat lepas landas maksimum (MTOW) sebesar 6.000 kg dengan kapasitas muatan senjata mencapai 1.500 kg yang dapat dibawa di dalam internal weapon bay guna mempertahankan profil silumannya.

Ditenagai oleh mesin turbofan, Kızılelma mampu terbang pada ketinggian operasional hingga 35.000 kaki dengan radius operasional mencapai 500 mil laut dan daya tahan terbang selama 5 jam. Dari sisi performa, pesawat ini memiliki kecepatan jelajah Mach 0.6 dan mampu mencapai kecepatan maksimum hingga Mach 0.9 pada varian awalnya.

Dilengkapi dengan radar AESA canggih dan kemampuan manuver agresif, Kızılelma dirancang untuk menjalankan misi serangan udara-ke-darat, supresi pertahanan udara lawan (SEAD), hingga pertempuran udara-ke-udara secara otonom. Penguasaan teknologi ini memastikan Indonesia berada di garda terdepan transformasi kekuatan udara di kawasan Asia Tenggara. (Gilang Perdana)

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *