Category Archives: Panser

VAB : Kisah Panser Perisai Ibu Kota

Sebagian besar dari kita tentu masih ingat terjadinya kerusuhan massal pada tahun 1998. Akibat rusuh massal di beberapa kota besar secara sporadis, berbuntut tumbangnya pemerintahan orde baru (orba) pimpinan Soeharto. Rusuh massal yang berlangsung sporadis amat mengerikan, terutama di Ibu Kota Jakarta sebagai titik awal gerakan demokrasi. Hampir di setiap wilayah Jakarta terjadi pengrusakan, penjarahan dan pembakaran. Aparat TNI (dulu ABRI) dan Polri dituntut kerja kerasnya untuk menanggulangi dampak rusuh yang bernuansa politik ini.

Dari sekian banyak aktor yang terlibat dalam pengamanan Ibu Kota, ranpur (kendaraan tempur) VAB dari Perancis terbilang cukup memikat perhatian. Selain VAB tergolong panser anyar pada waktu itu, desain panser ini juga unik. Pada penanggulangan rusuh di Jakarta, dibawah komando Yon Kav 7 Sersus/Panser Khusus Kodam Jaya, VAB dilibatkan sebagai ranpur PHH (pasukan penanggulan huru hara). Ciri khas panser ini terlihat dari turet terbuka untuk SMB (senapan mesin berat) 12,7 mm yang terletak di sisi kanan panser.

VAB PHH saat rusuh tahun 1998 (foto : irwan.net)

VAB TNI AD dalam sebuah defile

Dalam masa genting, Pangdam Jaya saat itu, Mayor Jenderal Sjafrie Sjamsoeddin kerap berpatroli menggunakan VAB keliling Jakarta. Kehadiran VAB diharapkan dapat membawa efek deteren di masyarakat, dalam kampanye deteren, YonKav 7 juga mengerahkan panser V-150. Dilihat dari desain dan namanya yang unik, sebenarnya apa sih VAB itu? Dalam bahasa Perancis VAB (Véhicule de l’Avant Blindé) atau bisa disebut APC (armoured personnel carrier) yang dirancang oleh Euro Mobilitie Division GIAT Industries of France.

VAB ditawarkan dalam dua sistem chassis, yakni berpenggerak roda 4×4 dan 6×6. Kedua versi sama-sama mengadopsi kemampuan amfibi lewat dua bilah propeler. Kavaleri TNI AD menggunakan versi 4×4 dengan SMB 12,7 mm. Tetapi sebenarnya VAB bisa di setting untuk beragam pilihan senjata, seperti varian anti serangan udara dengan rudal darat ke udara Mistral dan the twin-mounted 20mm cannon. Yang terakhir dikembangkan khusus untuk militer Oman.

VAB Perancis dengan SMB 12,7 mm

SMB 12,7 mm yang khas pada VAB, sayang kurang memberi perlindungan pada juru tembak

Selain bisa berenang, VAB juga mempunyai sistem proteksi bagi serangan Nubika (Nuklir Biologi dan Kimia) plus night vission bagi pengemudinya. VAB menurut spesifikasinya terdiri dari dua orang kru, yakni pengemudi dan penembak. Dan kapasitas personel yang bisa diangkut VAB yakni 10 orang dengan senjata lengkap.

Indonesia diketahui mulai tertarik pada panser ini sejak kiprahnya dalam mendukung pasukan perdamaian PBB di Bosnia. Bahkan saat itu, almarhum presiden Soeharto sempat menumpang VAB dalam kunjungannya ke Sarajevo, Ibu kota Bosnia Herzegovina pada bulan Maret 1995. VAB saat itu amat identik dengan pasukan penjaga perdamaian dari Perancis, walau tak sedikit VAB yang rusak atau hancur dalam konflik di Bosnia tersebut.

VAB dibekali dua unit propeler untuk "berenang"

Sejak sukses membawa rombongan presiden RI, VAB mulai dilirik untuk memperkuat kavaleri Indonesia. Akhirnya pesanan VAB pun bergulir, menurut Kerry Plowright dalam ADF Research Sheet 2008, disebutkan TNI AD telah memiliki 46 unit VAB 4×4. Dan pesanan VAB bertambah pada tahun 2006, pemerintah Indonesia membeli lagi VAB sejumlah 32 unit dari Renault Truck, Perancis untuk mendukung Kontingen Garuda XXIII-A di Lebanon Selatan. Pada tahun 2003, Renault Track Defence mengambil alih peran marketing VAB dalam perjanjian dengan GIAT. Puluhan kendaraan lapis baja yang dibeli Indonesia tersebut memiliki spesifikasi rangka tahun 1997 hingga 2000, tapi menggunakan komponen dan teknologi tercanggih.

VAB TNI AD dalam misi perdamaian di Lebanon

Panser VAB TNI AD dibuat dalam tiga jenis, yaitu jenis komando, angkut, dan ambulans yang dilengkapi dengan sistem integrated logistic support (ILS). Sukses VAB memang tersohor ke penjuru dunia, di segala medan panser ini hadir, mulai dari perang teluk, invasi ke Afganistan sampai operasi militer TNI di NAD dalam menumpas GAM (Gerakan Aceh Merdeka).

VAB TNI AD di wilayah operasi

Sukses di beragam medan operasi, membuat PT. Pindad tertarik untuk mengadopsi paltform VAB untuk panser made in Indonesia yang populer, yakni Anoa yang berpenggerak roda 6×6. Sejak di produksi tahun 1976, populasi VAB dalam beragam versi telah mencapai 5000 unit yang tersebar di penjuru dunia. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi VAB
Berat Tempur : 13,8 ton
Panjang : 5,98 meter
Lebar : 2,49 meter
Tinggi : 2,06 meter
Kru : 2 + 10
Perlindungan : mampu menahan peluru caliber 7,62 mm
Mesin : Renault MIDR 062045 235 kW (320 hp)
Kapasitas BBM : 310 liter
Jarak tempuh : 1200 km
Kecepatan Max : 90 Km/jam
2,2 meter/detik di air

Tentang iklan-iklan ini

Casspir MK3 : “Kuda Perang” Kopassus dari Afrika Selatan

Casspir Kopassus dalam sebuah defile

Bagi Anda yang eksis di era 80-an, mungkin akan teringat kembali saat melihat sosok ranpur (kendaraan tempur) Casspir. Ranpur buatan Afrika selatan (Afsel) yang dirancang oleh Council for Scientific and Industrial Research (CSIR) ini terbilang fenomemal, maklum di era 80-an berita seputar politik “Apartheid” di Afsel kerap menghiasi layar kaca di TVRI (Televisi Republik Indonesia). Nah, boleh dikata sosok Casspir kerap muncul kala itu sebagai ranpur bagi aparat polisi/militer Afsel dalam meredam pemberontakan kaum kulit hitam.

Dilhat dari desainnya, Casspir terlibang sangar dan unik, bodinya cenderung bersudut tegak dengan lambung berbentuk huruf V. Saking uniknya, Casspir dipercaya tampil sebagai “figuran” di beberapa film besar, salah satunya di film “Distric 9” yang kebetulan mengambil setting lokasi di Johannesburg, Afsel. Selain tampangnya yang seram, apa yang mejadi kebolehan Casspir?

Sejatinya ranpur yang bisa disebut panser atau truk ini punya kemampuan untuk memberikan perlindungan maksimum dari hantaman ledakan ranjau. Bagian samping Casspir dirancang mampu menahan ledakan bom setara dengan 14 kilogram TNT. Dan bagian bawah mampu menahan bom seberat 21 kilogram. Casspir juga mampu meredam hantaman peluru kaliber 5,56 milimeter dan 7,62 milimeter. Jadi tak soal bila Casspir dihujani peluru dari senjata macam M-16 atau AK-47. Kabinnya berdaya muat 12 personel bersenjata lengkap. Untuk mempermudah mobilitas, pintu dioperasikan dengan tenaga angin.

Sebagai ranpur yang dirancang mampu melibas medan off road, mobilitas Casspir mengadopsi axle yang sama seperti pada truk Unimog. Konstruksinya berupa single reduction hypoid drive axle dengan diff lock AL 3/2,5 yang sudah teruji kehandalannya merambah medan berat.

Sedang untuk dapur pacunya, ranpur ini menggunakan Diesel 6 silinder 4 valve type OM352A buatan Mercedes-Benz yang juga sama persis seperti yang digunakan Unimog. Guna menambah performa engine juga dilengkapi dengan turbo charger.

Casspir digunakan oleh Kepolisian di Amerika Latin

Casspir dibekali persenjataan untuk menggebrak sasaran, andalannya yakni varian senapan mesin kaliber 7,62 m. Tapi dapat juga dipasangkan senapam mesin berat (SMB) kaliber 12,7 mm atau 20 mm. Para personel yang berada di kabin belakang juga dapat memberikan tembakan bantuan dengan membuka atap/kubah di atas kompartemen. Casspir dapat membawa 12 personel dengan senjata lengkap, jumlah awak Casspir 2 orang (supir dan juru tembak).

Casspir milik Angola dengan SMB 12,7 mm

Dengan beragam kelebihan itulah, Kopassus (Komando Pasukan Khusus) TNI AD mempercayakan Casspir MK3 sebagai “kuda perang” andalan bagi satuan Gultor (Penanggulangan Teror). Tidak diketahui persis berapa jumlah Casspir yang dimiliki Kopassus, ranpur ini pertama kali terlihat oleh publik dalam acara Hari Juang Kartika di tahun 2004.

Hingga kini populasi Casspir mencapai 2500 unit lebih di seluruh dunia. Selain laris manis dibeli negara-negara Afrika, tercatat India juga mengoperasikan ranpur ini. Casspir sudah dibuat dalam beberapa varian, dan yang terbaru adalah versi MK4. Dalam proses produksi, Casspir telah beralih kepemilikan manufaktur, sejak 2004 produksi Casspir ditangani oleh Land Systems OMC, anak perusahaan BAE (British Aerospace). (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi Casspir
Berat : 10,88 ton
Panjang : 6,9 meter
Lebar : 2,45 meter
Tinggi : 2,85 meter
Kru : 2 + 12
Mesin : OM352A turbo-charged diesel 124 kW
Suspensi : 4×4
Jarak Tempuh : 770 Km

BRDM-1 : Panser Amfibi 4×4 dari Era Bung Karno

Peninggalan mesin perang era tahun 60-an di Republik ini lumayan banyak, terutama yang berasal dari Uni Soviet. Meski sebagian besar arsenal tempur era Bung Karno ini sudah masuk museum, tapi toh masih ada beberapa yang terus digunakan hingga saat ini, contoh nya tank amfibi legendaris PT-76 dan panser amfibi BTR-50 milik Korps Marinir TNI-AL.

Ibarat tak kenal maka tak sayang, pada era tahun 60-an, utamanya saat momen pembebasan Irian Barat, Indonesia ternyata pernah kedatangan panser amfibi 4×4 yang cukup legendaris, yakni BRDM (Bronirovannaya Razvedyvatelnaya Dozornaya Mashina)-1. Panser untuk misi intai ini terbilang unik, sebab BRDM-1 dilengkapi 4 roda tambahan yang bisa dinaikan dan diturunkan. Guna 4 roda tambahan tersebut untuk meningkatkan performa panser saat melahap medan off road.

Tampilan dua dimensi BRDM-1

BRDM-1 dirancang dengan beberapa versi, dari mulai versi standar hingga versi lanjutan yang mampu menggotong 3 sampai 6 rudal anti tank ‘Sagger’. BRDM-1 versi Indonesia adalah versi standar, dirancang untuk dipersenjatai senapan mesin kaliber sedang 7,62 mm atau senapan mesin berat Dshk kaliber 12,7 mm. Secara keseluruhan, versi BRDM-1 mencakup varian Command Vehicle, Radiological Chemical Reconnaissance Vehicle, dan BRDM-1 with Sagger.

Susunan ban yang unik menjadi ciri khas BRDM-1

BRDM-1 diawaki oleh empat orang, (driver, co-driver, gunner, dan komandan). Untuk melaju di lautan, panser ini dilengkapi penangkal gelombang yang bisa digerakan secara otomatis. Untuk melaju di air, panser ini dibekali baling-baling tunggal pada bagian belakang. Panser ini menggunakan mesin tipe GAZ-40PB dengan 6 silinder berbahan bakar bensin. Letak mesin berada di bagian depan.

BRDM-1 dengan rudal Snapper

Menurut sumber dari Wikipedia, Indonesia setidaknya pernah memiliki 10 unit BRDM-1 yang dipesan pada tahun 1962 dan tiba di Tanah Air pada tahun 1963. Populasi BRDM-1 di seluruh dunia diperkirakan lebih dari 10.000 unit, sebagian besar berada di negeri eks sekutu Uni Soviet. Saat ini diketahui salah satu unit BRDM-1 masih dirawat oleh Korps Marinir TNI-AL sebagai kendaraan non operasional. Sisanya, dua unit BRDM-1 bisa Anda lihat di depan gerbang Ksatrian Marinir di Cilandak. Ada lagi 1 unit BRDM-1 menjadi penghuni museum Satria Mandala di Jakarta. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Tampilan bagian belakang, memperlihatkan penutup baling-baling

Spesifikasi BRDM-1
Negara Pembuat : Uni Soviet
Produksi : 1957 – 1966
Berat : 5630 Kg
Panjang : 5,7 meter
Lebar : 2,25 meter
Tinggi : 2,9 meter
Kapasitas BBM : 150 liter
Jangkauan operasi : 750 Km (di darat)
120 Km (di Air)
Kecepatan maksimum : 90 Km/jam di darat
9 Km/jam di air

FV 601 Saladin : Dipakai Jarang Dibuang Sayang

Saladin TNI-AD dalam kamuflase tempur

Selain punya panser lawas model Ferret dan Saracen, Korps Kavaleri TNI-AD masih punya panser lain yang juga sama-sama berusia lanjut dan berasal dari satu pabrik, yakni panser berpenggerak roda 6×6 FV601 ”Saladin”. Trio panser, Ferret, Saracen, dan Saladin ketiganya merupakan asal pabrikan Alvis dari Inggris. Trio panser ini sama-sama didatangkan pada awal tahun 60-an. Bila Saracen populer sebagai APC (armoured personal carrier) yang legendaris sebagai kendaraan pengusung peti jenazah Pahlawan Revolusi. Maka Saladin juga punya sisi fenomal yang tak kalah serunya.

Dari segi histori misalnya, bersama Ferret dan Saracen, panser Saladin turut aktif mengamankan Ibu Kota saat terjadi pemberontakan G30S. Trio panser ini memang punya komposisi unit yang ideal. Ferret sebagai kendaraan intai, Saracen sebagai angkut pasukan, dan Saladin berperan sebagai unit panser pemukul. Hal ini tak lain terlihat dari adopsi kanon L5A1 kaliber 76 mm.

Meski sudah berusia lanjut, Saladin masih aktif dioperasikan hingga saat ini, kiprahnya bisa dilihat dalam tiap beberapa latihan tempur. Dalam beberapa operasi pemulihan keamanan, Saladin juga kerap masih muncul, seperti di NAD dan meredam rusuh di Jakarta pada tahun 1998 lalu. Pada awal kedatangannya, Saladin dan kedua saudaranya ditempatkan dalam satuan Yon Kav 7/SerSus Kodam Jaya Jakarta. Namun seiring reorganisasi, panser lawas ini digeser ke satuan-satuan lain di luar Jakarta. Saat ini Saladin diketahui memperkuat unit kavaleri Kostrad dan beberapa Kodam, seperti di Yon Kav/2 Diponegoro dan Yon Kav/10 Hasanudin.

Seperti halnya alutsista tua TNI yang hingga kini masih digunakan, Saladin tentu juga mengalami refrofit besar-besaran. Sebelum mengulas Saladin versi retrofit, ada baiknya kita kupas Saladin versi lawas.

Dari Bensin ke Diesel
Saladin versi lawas mengadopsi mesin bensin Rolls Royce B80 MK 6A dengan 8 silinder. Dengan mesin tersebut, Saladin mempunyai kecepatan maksimum 72 Km per jam dengan jarak jelajah maksimum 402 Km. Konsumsi bahan bakar dengan kecepatan rata-rata 40 Km per jam adalah 1,7 liter. Amunisi yang dibawa mencakup 42 amunisi kanon kaliber 76 mm dan 2750 amunusi kaliber 7,62 mm. Untuk kendali turret dapat dilakukan secara otomatis atau manual oleh komandan dan gunner. Untuk membidik sasaran, kanon tidak dilengkapi stabiliser.

Sedangkan Saladin versi retrofit yang pengerjaannya dilakukan Direktorat Peralatan Bengkel Pusat Peralatan TNI-AD, mencakup pada penggantian dari mesin bensin ke mesin diesel, yakni dengan menggunakan tipe Perkins Phaser Diesel 160T dengan 6 silinder 4 langkah turbocharged. Daya yang dimiliki adalah 160 horse power / 2600 RPM dan torsi 59,23 KGM / 1600 RPM memberikan tenaga yang lebih besar dan pemakaia bahan bakar lebih hemat. Transimis semi otomatis ”Daimler Pre Selective” dengan 5 kecepatan tetap dipertahankan perubahan rasio pada transfer box dari 2,43 menjadi 2,049 mendapatkan variasi kecepatan dan tenaga yang baik.

Performa yang dihasilkan dari Saladin versi retrofit adalah jarak jelajah yang meningkat menjadi 600 Km. Berat tempur meningkat dari 10.900 Kg menjadi 11.600 Kg, namum kecepatan maksimum menurun menjasi 70 Km per jam. Kapasitas tanki bahan bakar menurun dari 240 liter menjadi 200 liter. Konsumsi bahan bakar dengan kecepatan rata-rata 40 Km per jam yakni 3 liter.
Untuk urusan persenjataan tidak ada yang berubah banyak, hanya pada turret terdapat modifikasi persikop khas tank Scorpion. Untuk melaju di medan off road, Saladin kini juga dibekali winch.

Dengan usia alutsista yang tua, tentu performa Saladin sudah mengalami banyak keterbatasan. Meski sudah di upgrade, Saladin sudah jarang ditempatkan sebagai garda alutsista terdepan. Panser jenis ini lebih banyak mengisi hari-hari tuanya sebagai elemen kekuatan di level teritorial terbatas. Singkat kata, seperti ungkapan ”dipakai jarang dibuang sayang”. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi FV601 Saladin
Pabrik : Alvis, United Kingdom
Awak : 3 orang
Konfigurasi : 6×6
Berat : 11.600 Kg
Panjang : 4,93 meter
Lebar : 2,54 meter
Tinggi : 3 meter

BTR-40 : Panser Yang Nyaris Jadi Besi Tua

BTR-40 hasil retrofit Bengkel Pusat Peralatan TNI-AD

Satu lagi inventaris alutsista TNI-AD yang berusia sepuh, yakni panser BTR (Bronetransporter)-40. BTR-40 bisa dikategorikan sebagai mesin perang satu angkatan dengan tank amfibi PT-76/BTR-50P buatan Rusia yang legendaris. Yakni sama-sama didatangkan pada awal tahun 1960-an. Meski menyandang ”gelar” BTR, panser ringan ini tidak mempunyai kemampuan amfibi. Pada masanya BTR-40 sangat diunggulkan sebagai kendaraan taktis berpenggerak roda 4×4.

Persiapan konvoi BTR-40 TNI-AD

Diperkirakan populasi BTR-40 di Indonesia mencapai 85 unit. Dan seperti halnya mesin perang ex Rusia, BTR-40 sempat terbengkalai dalam waktu lama akibat ketiadaan suku cadang. Bisa dikatakan sebagian panser ini telah menjadi besi tua. Sadar akan jumlahnya yang relatif banyak dan kualitas baja yang cukup baik. BTR-40 pada tahun 1995/1996 dicoba untuk ”dibangkitkan” dari ”kubur”. BTR-40 mengalami program retforofit besar-besaran. Utamanya mencakup penggantian mesin dari bensin ke diesel, perangkat komunikasi, rangka, persenjataan, dan masih banyak lainnya. Program retrofit BTR-40 dilakukan oleh Direktorat Peralatan Bengkel Pusat Peralatan TNI-AD. BTR-40 hasil retrofit pertama kali diperlihatkan ke publik pada pameran ABRI di tahun 1995.

Tapi perubahan yang cukup mudah dilihat adalah dilengkapinya BTR-40 hasil retrofit dengan atap model tetutup. Hal ini menjadikan personel dan awak panser terlindungi dari serangan peluru lawan. BTR-40 retrofit pun kini sudah dilengkapi air conditioner. BTR-40 dirancang dengan beragam versi, TNI-AD memiliki tipe APC (Armoured Personel Carrier) dengan bekal standar senapan mesin kaliber 7,62 atau 12 mm. Dengan desain persenjataan yang terbilang minim, akhirnya diputuskan sebagian BTR-40 disalurkan untuk satuan Brimob Polri. Di tangan Polri, justru BTR-40 banyak mengemban penugasan, contohnya keterlibatan BTR-40 dalam menumpas GPK GAM di Aceh.

BTR-40 Polri, dirancang untuk penangkal aksi huru hara

BTR-40 Retrofit Polri saat beroperasi di Aceh

Sejarah BTR-40
Pengembangan desain BTR-40 dimulai pada awal tahun 1947 oleh biro Gorkovsky Avtomobilny Zavod (GAZ). Rancang bangun BTR-40 didasarkan dari kendaraan truk tipe GAZ-63 4×4 yang berbobot 2 ton. BTR-40 sejak tahun 60-an hingga kini masih digunakan di banyak negara, terutama di negara-negara sahabat Rusia, seperti RRC, Vietnam, Korea Utara, eks Jerman Timur, Ukraina, Polandia, Yaman Utara, Cuba, dan Mesir. Bahkan Israel pun sempat memiliki BTR-40 hasil dari rampasan perang saat melawan Mesir.

BTR-40 versi awal milik pejuang Palestina

Beragam varian BTR-40

BTR-40 terbilang fleksibel untuk urusan persenjataan, selain versi APC, BTR-40 juga bisa disulap sebagai pengusung mortir dan dapat dipasangi kanon anti serangan udara tipe ZPTU twin gun kaliber 14,5 mm. Di lingkungan TNI-AD, BTR-40 ditempatkan sebagai komponen unit kavaleri di beberapa Kodam di luar pulau Jawa.

BTR-40 dengan kanon anti AA ZU23 kaliber 14,5mm

BTR-40 Retfofit TNI-AD/Polri
Tentu BTR-40 di era Sukarno berbeda dengan BTR-40 di era reformasi. Untuk urusan body memang tetap dipertahankan, tapi pada versi retrofit ditambahkan armoured steel plate armox 500S setebal 6 hingga 8 mm. Ini menjadikan BTR-40 punya atap, dan personil lebih terlindungi baik dari serangan lawan dan cuaca hujan/panas.

Rangka BTR-40 yang nyaris jadi besi tua

Proses retrofit di Bengkel Peralatan TNI-AD

BTR-40 Retrofit dengan senjatan GPMG 7,62 mm tanpa kubah

Dari sisi mesin, BTR-40 retrofit menggunakan dapur pacu Isuzu 4 BEI motor diesel dengan 4 silinder. Jumlah percepatan yakni 5 maju dan 1 mundur, tipe silinder Isuzu MSA 5G. Kecepatan maksimumnya 100 km/jam dengan jarak jelajah 660 Km. Bandingkan dengan BTR-40 versi jadoel, mesin menggunakan jenis GAZ-40 motor bensin dengan 6 silinder. Jumlah percepatan 4 maju dan 1 mundur, kecepatan maksimumnya hanya 80 Km/jam dengan jarak jelajah 288 Km. Jelas dari performa mesin, BTR-40 retrofit punya kinerja yang jauh lebih baik.

BTR-40 TNI-AD tanpa kubah

Bagaimana dengan persenjataan? Untuk versi kavaleri TNI-AD, BTR-40 dilengkapi variasi pilihan senjata, diantaranya pelontar granat otomatis AGL 40mm, senapan mesin berat kaliber 12,7 atau senapan mesin ringan kaliber 7,62 mm GPMG. Untuk menjamin keamanan awak penembak, BTR-40 dilengkapi kubah lapis baja yang dapat berputar kesegala arah. Bila panser terjebak di medan perang tak perlu khawatir, BTR-40 dibekali pelontar granat asap kaliber 66 mm sebanyak 8 tabung. Untuk keamanan pengemudi, BTR-40 punya kaca anti peluru dari jenis bullet protective glass setebal 62 mm dengan kemiringan 45 derajat.

Ruang kemudi BTR-40

BTR-40 milik AD Rusia

Bila BTR-40 jadoel tak dilengkapi alat komunikasi, BTR-40 retrofit sudah dibekali radio komunikasi tipe PRC 64. Sebagai kendaraan dengan kemampuan four wheel drive, BTR-40 sangat siap untuk terjun di medan off road. Kemampuan ini semakin afdol berkat penambahan alat pionir seperti kapak, skop, gergaji, dan kabel sling. Untuk jelajah off road, BTR-40 dibekali winch, pada versi jadoel winch digerakan secara mekanis pada gearbox dengan beban tarik 5 ton. Sedangkan pada BTR-40 retrofit, winch menggunakan jenis electronic ramsey model RE10.000 dengan beban tarik 4,5 ton. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi BTR-40 Retrofit
Panjang : 4,780 meter
Lebar : 1,880 meter
Tinggi : 2,695 meter (versi kanon dengan kubah)
Mesin : Isuzu 4 BE1 Diesel
Berat kosong : 4960 Kg
Berat tempur : 6000 Kg
Awak + personel : 10 orang
Radius putar : 6,7 meter
Kapasitas tanki : 110 liter
Kecepatan max : 100 Km/jam
Sumber listrik : Alternator 24 volt

Tactica : Panser Korban Tragedi Priok

Tragedi berdarah di Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara 14 April lalu membuat keprihatinan mendalam, ratusan orang mengalami luka berat/ringan dan ditambah tiga nyawa anggota Satpol PP melayang. Tapi korban kerusuhan di Koja tentu cukup luas, salah satunya terbukti puluhan kendaraan aparat dari Polri dan Satpol PP hancur dan dibakar massa. Dalam tiap kerusuhan yang melibatkan aparat vs warga, sudah umum terdengar kendaraan aparat dihancurkan massa.

Tapi bila dicermati, ada sisi dahsyat lain dari tragedi Koja, yakni untuk pertama kalinya di Republik ini ada sebuah panser dibakar massa, hingga bisa dikatakan total lost. Panser yang dimaksud adalah tipe Tactica buatan BAE Land System, Inggris. Panser ini jelas bukan panser untuk keperluan militer/tempur (non ofensif). Tactica dirancang untuk digunakan lingkungan kepolisian/anti huru hara, desainnya lebih mengacu pada APC (Armoured Personal Carrier), alias kendaraan lapis baja angkut personel. Tactica sendiri punya beberapa versi, seperti angkut personel, water canon, dan penjinak bahan peledak. Di lingkungan Polri, Tactica dioperasikan satuan Brimob dan Gegana.

Nah, yang bernasib sial pada tragedi Koja adalah Tactiva versi water canon. Alih-alih menghalau massa, panser ini malah jadi bulan-bulanan Massa. Meski bersifat lapis baja, ketebalan baja hanya mampu menahan serangan peluru kaliber 5,56 mm. Dan tentunya Tactica bukanlah kendaraan anti api, sebab hancurnya Tactica di Koja disebabkan karena dibakar oleh massa. Syukur, awak Tactica dapat menyelamatkan diri.

Diperkirakan populasi Tactica mencapai ratusan unit di Indonesia. Panser yang pertama kali diproduksi tahun 1989 ini juga aktif mengamankan Jakarta saat terjadi kerusuhan massal di tahun 1998. Selain Indonesia, Tactica juga dioperasikan oleh kepolisian Norwegia, Ghana, Saudi Arabia, dan angkatan darat Argentina.(Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi
Pabrik : BAE Land System
Awak : 2 + 12
Mesin : Turbocharged Diesel
Kecepatan max : 120 Km per jam
RodaPenggerak : 4×4