KRI Badau 841: Kapal Perang Tercanggih Armada Satrol TNI AL

Satuan kapal patroli (Satrol) TNI AL mengemban tugas yang tak ringan, di tangan satuan inilah dipecayakan operasi ‘ronda’ di sekitaran perairan dangkal NKRI yang padat aktivitas ekonomi kelautan. Untuk menjalankan tugas patroli tersebut, Satrol di Armada Barat (Armabar) dan Armada Timur (Armatim) dilengkapi dengan kapal-kapal bertonase ringan, lincah bermanuver, dan relatif punya kecepatan tinggi.

Meski lincah dalam bermanuver dan bisa ngebut untuk mengejar speed boat perompak, kapal perang di Satrol umumnya hanya dibekali persenjataan secara terbatas. Jangan bicara soal rudal dan torpedo di Satrol, karena kedua senjata tadi di lingkungan TNI AL sudah menjadi ‘pegangan’ Satuan Kapal Eskorta yang terdiri dari frigat dan korvet, dan Satuan Kapal Cepat yang terdiri dari unsur KCR (Kapal Cepat Rudal) dan KCT (Kapal Cepat Torpedo). Di lingkungan Satrol TNI AL, hingga kini  senjata penggebuk kriminal di lautan maksimum masih dipercayakan pada kanon Bofors 40mm, kanon Bofors ini terdapat pada kapal patroli jenis Attack Class buatan Australia. Sementara kebanyakan sebatas mengadopsi kanon Oerlikon 20mm, dan SMB (senapan mesin berat) kaliber 12,7mm.

Karena fungsi patroli yang cukup menantang, ditambah luasnya coverage yang harus dipantau, Satrol TNI AL terbilang satuan yang paling banyak memiliki unit kapal dalam binaannya. Dikutip dari situs Wikipedia.org, setidaknya ada kelas Boa (9 kapal), kelas Viper (5 kapal), kelas Kobra (5 kapal), kelas Tarihu (4 kapal), kelas Krait (2 kapal), kelas Cucut (2 kapal), kelas Sibarau (7 kapal), kelas PC-43 (1 kapal), dan kelas Badau (2 kapal). Sebagian besar kapal di Satrol TNI AL merupakan buatan Dalam Negeri oleh Fasharkan (Fasilitas Pemeliharaan dan Perbaikan) TNI AL, seperti kelas Boa, Viper, Kobra, Tarihu, dan Krait. Kecuali kelas Krait yang berlambung bahan alumunium, Boa, Viper, Kobra, dan Tarihu mengandalkan bahan fiberglass untuk lambung kapalnya.

2

KDB Waspada P02 (sekarang KRI Salawaku 842) dan KDB Seteria P04, tampak saat kunjungan memeriahkan Arung Samudra Tahun 1995 di Tanjung Priok.

MM-38 Exocet adalah senjata andalan kapal patroli ini

MM-38 Exocet adalah senjata andalan kapal patroli ini

Untuk kelas Cucut, kelas Sibarau (Attack Class), dan kelas Badau memang buatan Luar Negeri, tapi kesemuanya berasal dari bekas pakai dari Angkatan Laut Negeri Tetangga. Pengadaanya bisa lewat pembelian atau pun hibah. KRI Cucut 866 misalnya, dulunya adalah kapal patroli Singapura RSS Jupiter. Kemudian KRI Sibarau 847, dulunya adalah HMAS Bandolier, diperoleh TNI AL melalui prorgram hibah dari Australia pda tahun 1973. Dan yang relatif baru adalah KRI Badau 841 dan KRI Salawaku 841, kedua kapal perang kembar ini merupakan hibah dari Kerajaan Brunei pada 15 April 2011.

Sesuai judul tulisan, KRI Badau dan juga KRI Salawaku disebut sebagai yang tercanggih di kelas Satrol, lantaran platform awal dari dua kapal ini terbilang paling maju diantara kapal-kapal di kelas Satrol. KRI Badau 841 (ex KDB/Kapal Diraja Brunei –  Pejuang P03)  dan KRI Salawaku (ex KDB Waspada P02) aslinya bisa menggotong rudal anti kapal (anti ship missile) jenis MM-38 Exocet, satu kapal terdiri dari dua platform peluncur. Dengan standar kapal cepat rudal, sudah lumrah bila sistem elektroniknya lumayan memadai untuk peperangan laut, sebut saja ada radar Kelvin Hughes Type 1007 nav (surface search). Juga dilengkapi sista untuk perang elektronik (electronic warfare) dengan Decca RDL-2 Intercept dan E/O Rademac 2500 Tracking.

Tampilan sisi buritan

Tampilan sisi buritan

Animo masyarakat pada kedua kapal saat Arung Samudra 1995

Animo masyarakat pada kedua kapal saat Arung Samudra 1995

Selain rudal Exocet, untuk menghajar target di permukaan dan anti serangan udara, dipercayakan pada Oerlikon twin cannon CGM-B01 kaliber 30 mm. Khusus untuk kanon ini telah kami kupas secara mendalam disini. Senjata lain yang disertakan adalah 2 unit SMS (senapan mesin sedang) kaliber 7,62 mm untuk pertahanan diri jarak dekat. Kapal jenis ini dapat menampung 4 perwira dan 20 ABK (anak buah kapal)

Dilihat dari spesifikasi mesin, kapal ex-Brunei ini juga cukup perkasa, ditengai dua mesin diesen MTU 20V 538 TB91b 9000 bhp. Kecepatan maksimumnya yakni 32 knots (59 km/jam), sementara kecepatan jelajahnya 14 knots. Jarak jelajahnya hingga 1.200 nm atau 2.200 km. Kapasitas bahan bakar yang dapat dibawa adalah 16 ton.

Dirunut dari sejarahnya, kedua kapal patroli ini dibuat oleh galangan kapal Vosper Thornycroft, Singapura. KDB Pejuang P03 (KRI Badau) meluncur sejak tahun 1979, sedangkan KDB Waspada P02 (KRI Salawaku) meluncur di tahun 1978. Meski kedua kapal perang ini ‘kembar,’ tapi ada perbedaan sedikit, ini bisa dilihat dari desain deck anjungan atas. Pada KRI Badau menggunakan deck terbuka dengan penutup canvas, sementara KRI Salawaku deck atasnya tertutup, seperti halnya deck anjungan dibawah.

Oerlikon Twin cannon 30mm pada sisi haluan

Oerlikon Twin cannon 30mm pada sisi haluan

Dari Satuan Kapal Cepat ke Satuan Kapal Patroli

Saat pertama kali kedua kapal ini diserahkan dan kemudian diresmikan sebagai arsenal armada TNI AL. KRI Badau dan KRI Salawaku masuk sebagai elemen satuan kapal cepat. Hal ini ditandai dengan nomer lambungnya, KRI Badau 643 dan KRI Salawaku 642. Dari segi identitas lambung, 6xx memang menjadi penanda kapal cepat di lingkungan TNI AL, baik kapal cepat rudal dan torpedo.

Meski KRI Badau dan KRI Salawaku aslinya bisa dilengkapi rudal, tapi pada kenyataan saat kapal ini diserahkan ke Indonesia sudah tidak lagi dilengkapi rudal. Belum diketahui, bagaimana dengan sistem elektronik dan navigasi kapal, apakah ikut ‘dikurangi’ kemampuannya. Secara teori, bukan tak mungkin bila Badau dan Salawaku di setting kembali untuk dipasangi rudal anti kapal jenis C-705 dan C-802 buatan Cina. Tapi menurut penuturan mantan perwira di KRI Badau, body kapal patrol tersebut dinilai sudah cukup tua, sehingga kurang pas bila dipasangi rudal anti kapal.

KRI Badau, saat masih menjadi KDB Pejuang P03

KRI Badau, saat masih menjadi KDB Pejuang P03

KRI Badau dan KRI Salawaku dengan nomer lambung lama, saat menjadi arsenal Satuan Kapal Cepat TNI AL

KRI Badau dan KRI Salawaku dengan nomer lambung lama, saat menjadi arsenal Satuan Kapal Cepat TNI AL

Seiring kedua kapal patroli yang tak bisa tampil maksimal dari sisi kesenjataan, KRI Badau dan KRI Salawaku kini di reorganisasi menjadi kelas kapal di satuan kapal patrol, nomer lambung kapal pun berubah, KRI Badau dari 643 menjadi 841 dan KRI Salawaku dari 642 ke 842. Awalnya kedua kapal melengkapi Armabar, kini dialih tugaskakan pada Armatim. Perubahan identitas lambung kapal juga marak sebelumnya, seperti KRI Barakuda dari jenis FPB-57, yang tadinya 814 jadi 633, KRI Todak yang tadinya 803 jadi 631. Seiring penataan numbering lambung pada kapal perang TNI AL, kini armada patroli di identifikasi dengan nomer 8xx.

Seandainya KRI Badau dan KRI Salawaku dapat dilengkapi kembali dengan MM-38 Exocet, maka kedua kapal perang ini bisa punya daya gempur yang hampir setara dengan KCR kelas Dagger (KRI Mandau, KRI Rencong, KRI Keris, dan KRI Badik ). Keempat kapal buatan Korea Selatan ini juga dipersenjatai MM-38 Exocet sebanyak 4 peluncur pada tiap kapal. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi KRI Badau 841

  • Tipe                       :               Fast attack craft
  • Bobot                    :               206 tons (full load)
  • Panjang                                :               37 meter
  • Draft                      :               1.8 meter
  • Mesin                   :               2 MTU 20V 538 TB91 diesels
  • Kecepatan          :               32 knots (59 km/h)
  • Jarak jelajah     :               200 nautical miles (2,200 km) at 14 knots (26 km/h)
  • Sensors and processing systems                               : Kelvin Hughes Type 1007 (surface search)
  • Electronic warfare           :               Decca RDL ESM
About these ads

26 responses to “KRI Badau 841: Kapal Perang Tercanggih Armada Satrol TNI AL

  1. ijin juragan: kapal eks AL brunei memang dulu bawa excocet mm38,kategori sama dengan class KRI badik dager.tapi sesudah hibah ke RI-skr kapal itu udah tak se detrent clas dager- juga skr mungkin belum tentu masuk kategori kapal satrol paling canggih di ALRI,sebab di ALRI skr udah ada KRI krait,tarihu,clurit dll yg selain dijejali avionic mending-juga umur nya masih segar.tapi mudah2 ya,ALRI mau pasang misile di 2 eks brunei tuh-spy jadi se seram dulu lagi.trims

    • Ya mas Dodie, itu sudah dijelaskan di dalam tulisan :-)

    • Warga Samudra

      Kalo dipasangin rudal secara teori masih mungkin, cuma dalam perjanjian hibah bisa jadi ada syarat2 yg harus “dihormati” negara penerima hibah. Dari sisi platform senjata dan elektronik Badau cs masih lebih unggul dibanding kapal patroli buatan dalam negeri, memang utk usia pakai sudah jauh lebih tua.

  2. kapal patroli TNI AL saat ini sudah lebih baik lagi, selain clurit yg kelas 40m, saat ini sedang dlm produksi kelas 60m, apabila di tambah dengan KCR Trimaran akan bertambah menakutkan kapal patroli TNI AL

  3. mau nambahin aja, sebenernya klasifikasi kapal itu ada di satuan patroli atau di satuan kapal cepat, lebih karena “modal” yang udah dikeluarkan untuk ngebangun kapal itu sendiri. Jadi wajar kalau kapal hibah ditaruh di Satrol, sementara ada kapal patroli yang naik peringkat, semisal FPB-57 yang dipasangi rudal, jadi deh di upgrade ke Satuan kapal cepat.

  4. ngomong2x soal “satrol” ALRI bakalan kedatangan barang “canggih” lagi neeh dalam waktu dekat……..OPV ala KORVET NAHKODA RAGAM eng ing eng…..tp msh trondol blm dipasangin apa2x :D http://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000016286791/nahkoda-ragam-kapal-perang-dari-brunei-tiba-2013/30

  5. Wahh berarti gak bertaring nih kapal gan,..??

    • persenjataan dan CMS DIJUAL TERPISAH gan :P jadi ada biaya upgrade lagee keknye *syarat dan kententuan berlaku loh ya hi3x

      • Pantes murah.harga aslinya kan paling cuma dapet satu kapal.tapi gak papa.cms sama rudal kan bs dipasang kapan aja.kalo bangun kapal gak bisa buru2.paling cepet kapal cepat di bangun satu tahun.gimana kalo kita keburu perang.suatu tindakan bijak beli kapal yg udah jadi jadi bisa melipatgandakan otot dalam waktu singkat.buat baru dari awal emang puas tapi lama.kita keburu pegel nunggunya.ngomong2 nakhoda ragfam class ini kan masuk kelas korvet.ya gak mungkinlah dimasukin satrol.pasti masuk eskorta

      • jendralKorup

        @comrade wehrmacht ssshhhh NR was just OVER WEIGHT and OVER LOAD OPV not a REAL corvette 8-) let’s watch what her gonna be after upgraded :P mo jadi korvet beneran apa korvet banci hi3x

      • arnachojuni

        Emang jadi dibeli tuh nahkoda ragam gan?
        Kok kayaknya ribet banget belinya.
        Keburu karatan semua tuh kapal.
        Hehehehee…..

  6. Jangan underestimated gitu dong kamerad jenderal.bobot NR kan 1.700 ton.jelas itu bobot antara korvet dan frigat.berarti dengan badan segitu dia bisa dijejalin peralatan peran anti pesawat,anti KS dan anti kapal permukaan.jadi little destroyer dong…setau ane yg dipretelin cuma rudal exocet,seawolf sama torpedo doang.cms nya masih,buatan thales lagi.kalau dipretel juga kita kan sudah bisa buat cms sendiri.torpedo sudah ada SUT pindad.tinggal pasangin C705 dan deep charge anti KS.beres deh.kalo dah didandanin kayaknya nih NR lebih tangguh ketimbang Sigma.drpd nunggu platform baru yg bangunnya tahunan,ini sudah pilihan terbaik mengejar MEF

  7. Assalamualaikum saudaraku yang kami cintai; 1.dilihat bofors maupun oerlikon dipasangkan di KRI.TNI.AL; Kenapa tidak di kapal patroli polisi air,kapal pattoli bea cukai,dkp?.KRI.TNI-AL cukup mengakuisi rudal brahmos,HQ.12 dan HQ.16,JAMAN 2013 kedepan adalah kemampuan rudal menembaknya bagaimana?. 2.akuisilah jenis kapal destroy tetapi rudal2 cukup artinya daya tembaknya antara 80-120 km(kemapuan rudal dilepaskan dari TNI.AL) 3.Pengadaan KRI.seperti kelasnya KRI dr.soeharso (KRI yang dapat menjadi RS)

  8. walaikum salam saudaraku…mungkin sebab senjata penangkis serangan udara (oerlikon skysield )harganya terlal mahal.jadi ianya cuma di pasang pada kapal perang utama saja.sedangkan rudal bramos yg d letak pada kapal perang utama perlu di jaga dan di antisipasi dari serangan udara.terimakasih saudaraku.tapi mudah2an kapal2 perang TNI AL yg lain dapat di pasang oerlikon skysield juga.agar lebih selamat dari serangan udara yg tiba2.juga kemampuan radarnya yg lebih canggih.agar bisa mengesan serangan rudal/missile sejak dini.

  9. ancrit masa kapal jaman indo yang tercanggih sekarang nyungsep ngenes kayak gini . . . . . . .

    Moga2 aja indonesia bisa punya nanti Kapal perang yg kuat kyk ini :

    http://id.wikipedia.org/wiki/KRI_Irian

    (kapal terkuat d asia tenggara pd masa nya , kapal perang inggris,belanda dan jepang pun tidak berani berhadapan dengan nya)

    sepanjang sejarah g ada kapal seri Sverdlov yg kalah di medan perang . . . . . . . . (yamato kapal yg sedikit lebih besar milik jepang aja karam d medan perang)

    tapi menyedihkan masa orba kapal ini malah d jadi in besi tua . . . .

    T-T

  10. btw sekedar info aja indonesia dah mulai ngembangin kapal Sangar lho
    jd jgn kecewa ma produksi dalam negri
    cek aja yg ini :

    http://id.wikipedia.org/wiki/KRI_Klewang

    (kapal siluman anti Radar tercanggih yg akan menjadi kebanggaan milik indonesia saat ini)

    kalau dah d luncurkan kapal lalat diatas (KRI Badau 841)
    bakal jadi kyk kapal mainan anak2 di hadapan “KRI Klewang”
    (bakal buta g bs nyentuh dan g bs nyerang alias pasrah nunggu nasib)

    I love indonesia . . . . .

    ^o^

    • kapal kekuatan dulu gak usah diusung kesana-sini .semua tinggal sejarah yg udah karat.yg harus difikir bagaimana perbandingan kekuatan sekarang dengan kedepannya terhadap negara yg pernah kita anggap mereka tidak berani dengan indonesia di waktu tahun 60-an.kok sekarang 75 persen terbalik yaa situasinya.kini malah kita kesana kemari cari besi rongsokan…aku yakin deh pasti mereka tertawakan kita di belakang .lalu mereka akan bilang..rasain looo….orang indonesia yg dungu…wkwkwkw

    • perhatikanlah keseluruhannya,jangan cuman merhati’in yg canggih tapi satu atau dua aja.lantas gimana persenjataannya dengan yg beratus lainnya.rasa-rasanya pertahanan anti serangan udaranya masih guna persenajataan kuno.

      • kalo masalah kapal yg kebakar itu mah masih mending , ga kebakar pas bertugas . . . . .

        kebakarnya pas demo itu . . . .
        (masih ada kemungkinan human error/ unsur sabot)

        kalo nyerah saat gagal 1-2 kali pas ujicoba , ga bakal maju2 kita

        apa kita harus nunggu kapal bekas siap pake dari negara laen yang mahal2 getu ?

        alias ga percaya pada teklologi bikinan sendiri ?

        (sama aja bakar pajak demi barang Rongsokan dong)

        -_- ‘

  11. kalau kapalnya aja yg canggih,tapi persenjataan serta radarnya masih kuno,karena yg dilirik harga murah…gak ada gunanya…

  12. jangan kebanyakan memuji diri sendiri,kadang -kadang kecacatan badan sendiri harus di perhatikan….

  13. Masalahnya kita menolak saat ditawarin alih tecnología rudal brahmos dr India kr n kita sdh pakai yakhof, saat ini kita Butuh kapal destroyer yg bisa mengusung 16 rudal yakhof/ brahmos,16 c 705, rudal Peñangkis serangan udara n pernah elektronika juga torpedo untuk melawan kapal selam, señapan mesin sdh hrs kembar + 2 kaliber 30mm 6 laras, percaya PAL, kodja bahari, palindo mampu bikin kapal destroyer atau fregat n kita terima tuh huí ah 10 kapal selam kls kilo, masa kalahsama negri tetangga kapal patrolinya 115 m dengan berbagai rudal SAM n rudal anti serangan udara ayo Indonesia kamu bisa

  14. Jangan biasakan trima bekas2 negara lain. Usahan made in domestic

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s