Bofors 120mm : Meriam Kaliber Terbesar di Frigat TNI AL

Bofors 120mm tampak pada sisi haluan KRI Fatahilah

Selain punya beragam rudal anti kapal, faktanya TNI AL juga tak dapat melupakan unsur fire power pada artileri kapal. Mulai dari kelas frigat/korvet, tentu membutuhkan kelengkapan meriam sebagai pelibas sasaran di permukaan dan sasaran di udara secara terbatas. Dan, hingga kini pun keberadaan meriam dengan kaliber besar masih mampu membawa daya deteren (daya getar) pada lawan.

Lepas ditinggal sosok KRI Irian, yang dahulu berbekal meriam kaliber 152mm/57, praktis TNI AL tak punya lagi meriam dengan kaliber besar nan sangar. Armada kapal perang TNI AL selepas tiadanya KRI Irian, TNI AL praktis hanya mengandalkan meriam kaliber 40/57/76 dan 100mm. Baru kemudian pada akhir 1979, ada angin segar dengan datangnya frigat gress, alias beli benar-benar baru dari Belanda. Yakni frigat kelas Fatahilah, frigat buatan galangan kapal Wilton Fijenoord, Schiedam ini ada 3 jenis, diantaranya KRI Fatahilah 361, KRI Malahayati 362, dan KRI Nala 363.

Selain diterima dengan suatu kebanggaan, karena beli baru, 3 frigat ini juga punya alutsista yang cukup modern pada masanya. Sebut saja rudal anti kapal MM-38 Exocet, mortir anti kapal selam Bofros ASR 375mm, dan torpedo Honeywell MK46. Tapi lain dari itu, ada yang sangat mentereng dari figat kelas Fatahilah, pasalnya pada sisi haluan tersemat meriam Bofors 120/62 kaliber 120mm. Dengan adanya Bofors 120, TNI AL memasuki babak baru dalam meriam kaliber besar, dan menjadikan armada tempur TNI AL punya daya deteren di kawasan.

Satu hal lain yang menarik, untuk rudal MM-38 Exocet boleh jadi sudah jadi barang kuno saat ini, efek getarnya pun sudah melemah, tapi lain dengan Bofors 120, meriam ini masih cukup sangar untuk menjebol posisi kapal lawan, ditambah dengan kaliber yang besar, meriam besutan Swedia ini juga sangat pas sebagai unsur bantuan tembakan kapal dalam misi pendaratan amifibi oleh Korps Marinir.

Mau tahu bagaimana kehandalam meriam Bofors 120/62 (4.7 inchi) ini? Meriam kategori single mounting ini punya kubah (turret) yang terlihat lumayan besar dibanding kapal perang TNI AL pada umumnya. Berat turret-nya mencapai 28 ton, belum termasuk amunisi dan rel untuk flare. Sudut elevasi laras bisa mulai dari -10 hingga 80 derajat. Kecepatan pergerakan elevasinya adalah 32 derajat per detik. Nah, untuk jangakauan tembaknya bisa mencapai maksimum 18.500 meter dengan sistem pemandu tembakan Signaal WM28. Untuk kinerja meriam ini, dapat memuntahkan 80 proyektil untuk setiap menit. Untuk menghindari panas yang berlebih, laras dilengkapi sistem pendingin water cooled.

Lebih jauh tentang turret Bofors 120, kubahnya dilapisi dengan baja dengan ketebalan 4mm. Lapisan baja tipis ini dirancang untuk memberi perlindungan pada awak meriam. Sebagai informasi, meski dapat dikendalikan secara otomatis, tapi meriam ini tetap membutuhkan awak/operator untuk loading amunisi. Untuk proses loading amunisi, memakai mekanisme breech casing magazine, dimana untuk tiap magazine terdiri dari 4 amunisi.

Bicara soal amunisi, Bofors 120 dapat memuntahkan proyektil dengan hulu ledak HE (high explosive) seberat 21Kg, dengan bobot total per amunisi mencapai 35Kg. Kecepatan luncur proyektilnya ditaksir mencapai 800 meter per detik. Sadar bahwa ini adalah meriam kapal, dan pastinya bakal sulit untuk menentukan target tembak di laut yang bergelombang, maka di meriam ini dilengkapi pula dengan gyro-stabilized yang beroperasi dengan tenaga 440 Vac/60 Hz 157 kW. Adanya gyro sangat dibutuhkan tatkala meriam akan menembak dalam laju kecepatan kapal yang tinggi.

Bofors 120 dalam tahap pembuatan

Tampilan dua dimensi Bofors 120mm, tampak pada sisi luar kubah dilengkapi rel untuk pelepas flare

Bofors 120mm, sejenis yang digunakan TNI AL, nampak digunakan pada frigat AL Finlandia

Bofors 120mm versi dual laras, banyak digunakan armada AL Inggris dan AL Belanda

Dilihat dari sejarahnya, meriam Bofors 120mm mulai dirancang pada tahun 1963, dan baru mulai digunakan pada tahun 1967. Meriam dengan panjang laras 5,520 meter ini dibuat dalam dua versi, ada yang versi laras tunggal, seperti yang digunakan TNI AL. Selain TNI AL, Bofors 120mm laras tunggal juga tercatat digunakan oleh AL Finlandia pada frigat kelas Turunmaa dan Pohjanmaa. Ada juga yang versi dual laras, untuk tipe ini digunakan oleh armada frigat Belanda dan Inggris. Walau kecenderungan kapal perang kini menggunakan meriam model reaksi cepat, macam Oto Melara, tapi tetap fungsi dan kehandalan daya gempur meriam kaliber 120mm tidak dapat tergantikan. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi Bofors 120/62 :
Negara pembuat : Swedia
Kaliber : 120mm
Jarak tembak max : 18.500 meter
Kecepatan luncur proyektil : 800 m/detik
Bobot total amunisi : 35Kg
Sudut elevasi laras : -10 sampai 80 derajat
Kecepatan tembak : 80 proyektil per menit
Pendidingn : water cooled

Tentang iklan-iklan ini

11 responses to “Bofors 120mm : Meriam Kaliber Terbesar di Frigat TNI AL

  1. Rudal bisa aja kuno tergantung kecepatan,daya rusak warhead dan teknik serang.Kalo meriam sih gak tergantikan deterennya karena semakin besar meriam semakin mengerikan dia.Tapi memang semakin besar meriam harus diperhitungkan jg besar kapal pengusungnya.Liat aja tuh meriam fatahillah kegedean.jd kyk kelas Graf Spee-nya Nazi tuh…nanggung manuvernya keberatan meriam.Cocoknya tuh meriam emang di taro di destroyer yg memang seharusnya kita miliki minimal 3 sbg penggertak,dulu aja kita punya 7 tp ya sudahlah yg berlalu biar berlalu.tp jgn lebih gede dr destroyer.Hare gene semakin gede kapal semakin gampang diserang.Apalagi laut kita sempit n gak dlm jd manuver kapal gede bresiko.Untuk melindunginya pun hrs tersedia unsur kawal mcm KS atau PKR.Gak efisien kalo cm buat jaga laut kita.Kecuali kalau kita berniat perang di samudera…Cruiser rajanya…

  2. kamerad jenderal korup….itu kalo AL lawan AL doang.kalo itu sih urusan KCR bkn destroyer or frigat.destroyer n frigat tugasnya mengawal armada termasuk armada pendaratan.inget…marinir kita masih gabung ma AL.mereka butuh naval gunfire support (NGS) saat pendaratan. kalo cuma pake cal 76 ato ciws ya gak ngaruh buat ngancurin perkuatan moesoeh di pantai.bisa jadi rempeyek marinir kita.kita tetep butuh meriam besar kecuali marinir kita berdiri sendiri terpisah dr AL dan punya NGS sendiri.

    • meriam digunakan hanya untuk pertempuran JARAK DEKAT dan support fire (itupun jarang)…..AL modern lebih mementingkan kerja sama team dengan intel (untuk mengetahui pin point target dalam hal ini satelit dkk) dan AU (dengan JDAM + carpet bombingnya) ditambah dengan misil2x yg diluncurkan dari DDG (guided missile destroyer kek AEGIS dkk)..jadi kalo TNI AL masih berkutat dengan hanya meriam (berapa pun besar kalibernya) tanpa dilengkapi DATA LINK,radar penuntun misil dan misil yg mumpuni…..siap2x tuh kapal jadi RUMPON (i’m serious about this)

  3. makin siip klo bs compatible ditaruh di kapal versi trimaran..
    jmn skrg kekny lbh ke efektitas pnggunaan kekuatan

  4. fallshirmjager

    lumayan kalo ada serangan dari malaysia kita bisa serang pake meriam ini terus kalo ada landing operation meriam ini bisa melindungi marinir kita

  5. tapi fregat kita ga punya sistem pertahanan anti-misile kayak gatling gun gtu… rugi aja punya meriam Gede2 kalo ga bsa ngelindungin dri dari misile

  6. kang orbashit: navy kita green water navy sesuai dgn konsep negara kepulauan dimana proyeksi AL bukan hanya di lautan (blue water navy) tp jg di darat dmana dukungan AL untuk pendaratan marinir kita sgt dibutuhkan.US Navy gak ada urusan sm US Marine jd mereka gak butuh melihara kapal bermeriam untuk gun fire support.US Marine pun gak lg didaratin dr laut tp lewat heliborne mengingat skrg mreka lebih sbg pasukan komando ketimbang serbu masal.menggunakan sasaran darat masal tersebar dgn rudal sama saja membunuh lalat dengan granat,mubazir.itulah cerdiknya TNI AL yg memaksimalkan anggaran dgn kebutuhan.

    Kang kusuma yogi: kenapa gak rudal anti rudal aja?CIWS macam Phalanx cm berguna untuk rudal sub sonic mcm harpoon.kalo supersonic apalagi sea skimming mcm yakhont ya kedodoran.lawannya rudal penangkis rudal mcm sea wolf seperti yg di nakhoda ragam class yg mau kita beli.

  7. DEWAN PIMPINAN RANTING PARTAI AMANAT NASIONAL PONDOK KARYA PONDOK AREN TANGSEL BANTEN MENILAI BAHWA KEKUATAN TEMPUR TNI.AL PERLU DITAMBAHKAN DENGAN KCR YANG DILENGKAPI RUDAL BRAHMOS INDIA-RUSIA,PASKHAS DETA ARHANUDSE TNI.AU DIPERSENJATAI RUDAL S.300 RUSIA,RUDAL SHAHAB IRAN,KALAU DILIHAT KEKUATAN TEMPUR KITA TERLALU TUA DAN KURANG UP TO DATE,SEBAGAI ASPIRASI KAMI DAN RASA TANGGUNG JAWAB KAMI AGAR F.PAN DPR RI MEMPERHATIKAN ASPIRASI KAMI YANG CINTA AKAN TNI.KERJA KERAS,KERJA CERDAS-KERJA IKHLAS.

  8. Dewan Pimpinan Ranting PARTAI AMANAT NASIONAL Pondok Karya Pondok Aren Tangerang Selatan Banten menilai BOFORS 120 MM hanya pantas ditaruh dalam peralatan alutsista POLISI AIR,DIRJEN BEA CUKAI,KP3 PELABUHAN dan Catatan keburukan DKP agar anak buah DKP-tidak ditangkap pihak diraja sendiri- ini tanah air kita,…kenapa harus diam tak ingin membebaskan bangsa dan rakyat Indonesia,kami berharap agar Saudaraku SBY dapat membina lahir/hatin, moral etika prajurit mata rakyat.

  9. Assalamualaikum, 1.selain meriam bofor 120/65 yang dipasangkan di KRI.TNI AL adakah TNI.AL tetap konsisten menambahkan rudal brahmos ditambahkan kedalam jajaran TNI.AL?. 2.Didalam pembangunan YON ARHANUDSE PASKHAS TNI.AU adakah TNI.AU akan menambahkan rudal ARHANUDSE-nya dengan jenis RUDAL HQ.12 atau HQ.16 china?.setidaknya ada referensi lain ke RUDAL SHAHAB Iran?.Jelas rakyat mendukung TNI.AU dalam pengadaan SUKHOI 35 BM lagi menjadi 1 skadron.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s