AK-230 : Kanon Reaksi Cepat Korvet Parchim TNI AL

Bila dicermati, sebelum tahun 1994, kekuatan armada kapal perang TNI AL mempunyai titik rawan dalam segmen senjata penangkis serangan udara. Pasalnya, sebagian besar elemen sista (sistem senjata) yang digunakan masih dioperasikan secara manual, meski pun dalam operasinya awak diberi panduan tembakan lewat radar. Memang pada faktanya mulai tahun 80-an ada fregat kelas Van Speijk yang dilengkapi meriam reaksi cepat OTO Melara kaliber 76mm yang dioperasikan secara remote.

OTO Melara pun dikenal sakti dan battle proven untuk misi tembakan sasaran ke permukaan dan udara. Meriam ini cukup banyak digunakan oleh angkatan luat di seluruh dunia. Tapi dengan 6 unit Speijk (masing-masing kapal memiliki 1 meriam) milik TNI AL, jumlah OTO Melara yang bisa meng-cover pergerakan armada dirasa masih kurang. Baru setelah kedatangan 4 frigat kelas SIGMA dari Belanda, jumlah populasi OTO Melara TNI AL bisa dikatrol menjadi 10 pucuk. (Lihat artikel tentang OTO Melara).

Tapi ada sebuah kegalauan, dengan kaliber yang relartif besar, 76mm, kecepatan proyektil yang bisa dimuntahkan tidak terlalu memadai, semisal untuk menghadang rudal yang akan menerjang kapal. Sebagai informasi, OTO Melara maksimum dapat memuntahkan 120 proyektil per menitnya. Dengan spesifikasi tersebut, OTO Melara memang handal untuk melawan pesawat tempur, tapi belum tentu cocok untuk menghadang rudal.

Salah satu korvet kelas Parchim milik TNI AL, KRI Sultan Thaha Syaifuddin (376) – tampak AK-230 berada di sisi haluan paling depan

KRI Memet Sastrawira 380

CIWS
Untuk menghadang sergapan rudal dan serbuan beberapa pesawat tempur sekaligus, idealnya dibutuhkan sista level kanon dengan kaliber menengah dari kelas CIWS (close in weapon system). Yang paling mudah dilihat, AL AS yang mempercayakan Phalanx kaliber 20mm dan AL Belanda yang menggunakan Goalkeeper kaliber 30mm, kedua senjata ini menganut konsep laras putar, gatling. Penggunaan model gatling diperlukan untuk mencegah panas berlebih pada laras, mengingat proyektil yang dimuntahkan bisa mencapai 4.500 – 5.000 per menit.

Karena keterbatasan dana dan lain-lain, hingga kini Indonesia memang belum punya sista sekelas Phalanx. Tapi merujuk ke awal paragraf, sejak 1994 Indonesia sejatinya sudah punya sista berbasis CIWS, yakni AK-230 kaliber 30mm. AK-230 secara langsung menjadi arsenal alutsista TNI AL, pasalnya pada 16 korvet kelas Parchim yang dibeli bekas pakai armada eks Jerman Timur, sudah tersemat kanon ini. AK-230 tentunya tidak sesakti Phalanx atau Goalkeeper, tapi AK-230 sudah dioperasikan secara otomatis/remote. Dimana akurasi tembakannya dikendalikan dari perangkat MR 103 yang dilengkapi layar monitor pengamat jenis khusus yang dijuluki NATO sebagai Tim Man. Tak ketinggalan ada satu unit perangkat pengarah optis untuk AK-230.

Tampilan utuh AK-230

Visual 2 dimensi AK 230

visual belt pada amunisi AK-230

Untuk menuntun tembakan ke sasaran, juga digunakan Muff Cobb radar systems. Untuk tiap larasnya memiliki bobot 155Kg dengan panjang laras 1930mm (total keseluruhan 2670mm). Dalam rangkaian senjata, setiap ‘sabuk’ amunisi terdiri dari 500 peluru. Untuk jenis amunisi, AK-230 bisa menggunakan jenis HE (high explosive) dan AP-T.

Bagaimana dengan kemampuan kecepatan tembak? AK-230 dengan laras ganda secara teori dapat memuntahkan 1.000 proyektil dalam satu menit, untuk kecepatan luncur proyektil mencapai 1.050 meter per detik, cukup ideal untuk menggasak rudal berkecepatan sub sonic maupun kapal boat. Kemampuan AK-230 juga masih lebih unggul ketimbang kanon Rheinmetall 20mm yang banyak terdapat di KRI-KRI, secara teori kecepatan luncur proyektil Rheinmetall 20mm mencapai 1.044 meter per detik. Sebagian besar Rheinmetall yang digunakan TNI AL pun maish diopersasikan secara manual (lihat artikel tentang Rheinmetall)

Kembali ke AK-230, kanon dengan sistem gas ini mempunyai daya jangkau maksimum hingga 6.700 meter, tapi untuk efektivitas melahap target di udara, jangkauannnya antara 2.500 sampai 4.000 meter. Penggunaan laras tetap tentu membawa problem jika digunakan terus menerus, untuk itu AK-230 dilengkapi dua perangkat NN-30 30mm water cooled untuk mendinginkan laras.

Pengendali tembakan, Muff Cob

Menurut sejarahnya, AK-230 merupakan hasil rancang bangun Uni Soviet selama era Perang Dingin di tahun 1950-an. Dan baru pada tahun 1969, Uni Soviet resmi menggunakan AK-230 untuk kelengkapan armada kapal perangnya. Kanon ini terbilang banyak digunakan oleh negara-negara sekutu Soviet/Rusia. Menurut informasi dari Wikipedia, AK-230 telah diproduksi sebanyak 1450 pucuk, dimana 300 diantaranya diproduksi berdasarkan lisensi oleh Cina, dan diberi label type 69. Sebagai pengembangan, sejak pertengahan 70-an, AK-230 telah digantikan perannya oleh AK-630 yang juga berkaliber 30mm. Bedanya AK-630 menggunakan laras putar (6 laras) model gatling.

Di segmen kanon/merian. Sista di kapal-kapal perang TNI AL juga mengandalkan kanon Bofors 40mm dan 57mm, tapi kedua kanon tersebut masih kalah jauh untuk memberi efek penangkalan yang maksimum bila kapal menghadapi serangan udara secara masif. Sebagai contoh Bofors 57 MK2 yang ada di FPB-57 mempunya kecepatan tembak maksimum 220 proyektil per menit. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi AK-230
Negara asal : Uni Soviet
Kaliber : 30mm
Jangkauan tembak max : 6.7Km
Jangkauan tembak efektif : 4Km
Laras : ganda

Elevasi laras : -12 sampai 85 derajat

Berat tiap laras : 155Kg

Tentang iklan-iklan ini

7 responses to “AK-230 : Kanon Reaksi Cepat Korvet Parchim TNI AL

  1. justru senjata yang kaya begini, malah punya daya getar di mata Malaysia…

    Suka

  2. hmmmm….small question, are those parchim can still be sailing anyway? and if it’s true how about the fuel? u know with gas price skyrocketing like these days i doubt TNI AL still manage to operate most of their vessel especially good old PARCHIM!…..plus the weapons are old like my grad pa :) ……hope those “gatling” guns can fire well LoL

    Suka

    • Kalo berlayar ya jelas masih, kan baru saja di retrofit dgn mengganti mesin pake Caterpilar punya, tp soal BBM sudah isu dr dulu, dr hasil pantauan, kapal2 perang kita, ga usah parchim lah… lebih banyak merapat ketimbang berlayar, alasannya ya memang krn biaya operasi yg tinggi… utk keluarga parchim lebih banyak standy di pangkalan, alias on call kalo ada panggilan operasi..hehe

      Suka

  3. Kalo gitu ngapain kita beli kapal banyak2 tp operasionalnya memble? anggaran operasional dan perawatan jg hrs berbanding lurus dgn pembelian alutsista jd gak nyangklak karena suku cadang seret atau gak ada bbm.

    Suka

    • just for show off may be?…..i can’t imagine when some of alutsista TNI will be like TNI AU’s fokker 27 which just crashed the other day…..no gasoline, lack of maintenance,rusty equipment and when the sh*t hits the fan there’s no way to look back

      Suka

  4. coba ja di film battleship korvet pke snjata ini, kan keren

    Suka

  5. penggunaan Phalanx bkn hal mstahil bg TNI, mslh klasik. duit ada tapi gak dicairin..

    Suka

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s