F-5E Tiger II : Macan Angkasa Andalan Skadron 14

F5E (kursi tunggal) Tiger II - Skadron 14

Kamis pagi, 27 April 2000, dua F-5E Tiger TNI-AU segera mengudara setelah mendapat kode “scramble” dari menara pengawas. Dengan cepat kedua jet tempur itu melejit menuju area di sekitar pulau Roti, Timor Barat. Tak berapa lama, pada ketinggian 29 ribu kaki, mereka menemukan apa yang dicari, satu gugus terbang yang terdiri dari lima pesawat: Satu pesawat tanker udara, diikuti empat F/A-18 Hornett di belakangnya, milik angkatan udara Australia (RAAF) dari Skadron 75. Itu diketahui dari identitas di ekor pesawat.

Gugus terbang itu ditangkap satuan radar sejak berjarak 120 mil laut dari Kupang. Tak ada keterangan apapun mengenai gugus terbang itu, tak juga ada ijin melintas wilayah udara Indonesia yang diterima pihak Pangkalan Udara El Tari, Kupang. Karenanya, gugus terbang itu dianggap blackflight, penerbangan tak dikenal, dan harus dicegat. Untuk itulah dua jet tempur berjuluk “Tiger” ini diterbangkan.

Manuver 3 F-5E Tiger TNI-AU

Suasana sempat tegang, karena pilot Tiger tak bisa berkomunikasi lewat radio dengan pilot Hornett. Bukan tak mungkin itu akan memicu konflik. Kalau terpaksa harus duel, bagaimana jadinya dua Tiger yang kalah jumlah, harus menghadapi empat Hornett RAAF yang lebih canggih. Pada saat itu, kedua pilot Tiger TNI-AU mencoba mendekati Hornett sampai kontak visual bisa dilakukan.

Ketika itulah, pilot-pilot F-5E melihat pilot Hornett memberi isyarat mengangkat tangan, tanda mereka tak bersenjata. Dengan bahasa tarzan juga, pimpinan penerbangan Hornett, yang diketahui berangkat dari Lanud Tindall, Australia, memberi tahu mereka sudah mendapat clearance untuk lewat wilayah udara Indonesia. Tujuannya adalah Singapura. Suasana pun mencair, kedua belah pihak saling memberi hormat. Sesuai aturan internasional, kedua Tiger tetap mengawal gugus terbang RAAF itu, hingga masuk jalur internasional, menuju Paya Lebar, Singapura.

Deretan F-5E/F bersiaga di apron

Macan Kecil
Dua F-5E Tiger II yang menyergap rombongan Hornett tadi berasal dari Sakdron Udara 14, yang berpangkalan di Lanud Iswahyudi, Madiun. Mereka saat itu tengah ditempatkan di Kupang, untuk mendukung tugas patroli dan pengamanan wilayah udara Indonesia di kawasan Timur. Skadron Udara 14 mendapat 12 unit F-5E Tiger II yang berkursi tunggal, dan 4 F-5F berkursi ganda pada tahun 1980 silam, seiring dengan revitalisasi kekuatan udara Indonesia, yang sempat gembos pasca berakhirnya hubungan mesra dengan Soviet.

Jet-jet tempur berhidung lancip ini, sebenarnya lumayan populer dan banyak digunakan di negara-negara Eropa, Timur Tengah, dan Asia. Terutama negara-negara sahabat AS. Karena memang, pesawat ini dilahirkan untuk memenuhi kebutuhan pesawat tempur negara-negara sekutu AS dalam NATO dan SEATO. Di tanah kelahirannya sendiri, jet buatan pabrikan Northrop ini malah tak begitu banyak digunakan.

F-5F (dua kursi/latih) Skadron 14

Northrop mendesain pesawat ini berdasarkan hasil studi kebutuhan militer di Eropa dan Asia. Dari studi itu, paling tidak adasejumlah faktor yang harus dipenuhi. Antara lain, pesawat tersebut harus cukup canggih dan tak ketinggalan jaman. Artinya, jet perang itu harus bisa terbang supersonik. Harus murah, dengan menimbang kemampuan keuangan negara-negara (calon) pemakai, yang sebagian besar perekonomiannya belum kuat. Mesti mudah pula dioperasikan dan mudah dirawat.

Pada 1955, Northrop mengajukan konsep jet tempur ringan modern ke pihak Angkatan Udara AS (USAF). Penempur supersonik itu, didesain sebagai jet tempur untuk serang darat (air to ground role), sebagai bagian dari misi penyerbuan. Murah harganya,mudah pengoperasiannya, mampu take-off dan landing di landasan pendek, serta mudah perawatan. Tapi USAF menolak proposal itu. USAF tak butuh burung besi seperti itu.

Visual kokpit F-5E Tiger II

Tujuh tahun kemudian, tahun 1962, jet tempur ringan ini barulah mendapat tempat. Departemen Pertahanan AS di bawah pemerintahan Presiden Kennedy, memilih pesawat ini untuk program MAP (Military Assistance Program), program bantuan militer AS kepada sekutu-sekutunya di NATO dan SEATO. Prototipe berkode N-156, yang terbang pertama kali pada July 1959 itu, mulai diproduksi pada tahun 1963. Northrop memberi nama penempur mungil yang lincah ini F-5A Freedom Fighter, si Pejuang Kebebasan. Versi tempat duduk ganda, yang berfungsi sebagai pesawat latih, diberi kode F-5B.

F-5E Tiger II TNI-AU dengan muatan bom dan rudal sidewinder di sayap

Bagian badan (fuselage) pesawat perang ini langsing, dengan hidung yang runcing panjang. Mirip dengan ikan todak. Bentang sayapnya yang pendek, nampak seperti tidak proporsional dengan bodynya yang panjang singset seperti itu. Namun jangan tanya soal kemampuan. Freedom Fighter bisa melejit dengan kecepatan 1,4 Mach di ketinggian 36 ribu kaki, berkat dorongan sepasang mesin J85-GE-13 Turbo Jet, buatan General Electric, mesin kecil berdaya dorong besar. Mampu mencapai ketinggian terbang 50.500 kaki. Mampu menjangkau jarak 1.387 mil dengan tanki penuh, sementara radius tempur dengan perlengkapan penuh, mencapai 195 mil. Atau dengan tanki penuh plus dua bom, mencapai 558 mil.

Jet supersonik mungil ini mampu bermanuver dengan lincah, bisa menggendong dua rudal udara ke udara AIM-9 Sidewinder di ujung sayapnya (wingtip). Lima cantelan di sayap dan badan, mampu menggendong beban 6200 pounds. Bisa berupa tangki cadangan, bom, misil udara ke darat, serta 20 roket. Di moncongnya yang mancung, dipasangi sepasang kanon 20 mm jenis M39 dengan 280 putaran. Tapi sebagai pesawat yang didesain untuk serang darat, kemampuan tarung udaranya (air to air) memang terbatas.

Senapan mesin kaliber 20 mm dengan penutup yang dibuka

Kehandalan jet yang sejatinya untuk negara-negara kelas dua itu, tak ayal menarik perhatian USAF juga. Pada 1965 mereka meminjam 12 unit Pejuang Kebebasan dari stok MAP, untuk uji coba di palagan Vietnam, yang menjadi kancah jet-jet buatan Rusia, semacam Mig-15, Mig-17, dan yang paling gres, Mig-21 unjuk kebolehan. Program itu diberi kode nama “Skoshi Tiger”, alias “Little Tiger” (macan kecil). Sejak itulah, F-5 mendapat julukan baru, Tiger, alias si macan. Kelak, nama itulah yang terus melekat, menggeser julukan Pejuang Kebebasan.

Berbarengan dengan produksi F-5A/B untuk negara-negara pemesan, Northrop melakukan proyek peningkatan kemampuan si Macan Kecil. Airframe dimodifikasi, sehingga bagian fuselage menjadi lebih besar, sehingga tankinya juga bisa diperbesar. Dengan demikian, daya angkut bahan bakar juga lebih banyak, bisa terbang lebih lama dan lebih jauh. Dengan tanki serta dua rudal side wider di wingtip-nya, punya radius tempur 656 mil. Jarak jangkau maksimalnya menjadi 1.543 mil.

Bagian sayap juga dipermak, menjadi lebih besar, dan ditambahi sirip sayap (flap) yang bisa diatur dalam empat moda, yang membuatnya punya sudut serang (angle of attack) lebih baik, lebih lincah bermanuver, terutama pada kecepatan tinggi. Sepasang mesinnya ikut di-upgrade, dengan J85-GE-21 Turbojet yang lebih digdaya. Ini membuat Tiger baru ini mampu melesat dengan kecepatan maksimum 1,6 mach, atau 1,5 mach dengan ujung sayap (wingtip) dicanteli rudal AIM-9 Side Winder. Terbangnya juga lebih tinggi, mencapai 51.800 kaki. Sebagai perbandingan, jet baru yang diberi kode F-5A-21 ini punya kemampuan menanjak meningkat 23% lebih baik dibanding Tiger lama, kemampuan beloknya meningkat 17%, radius putar meningkat 39%.

Tak hanya airframe, jeroannya juga di-upgrade. Sisi avionik Hoffman Electronics AN/ARN-56 TACAN, Magnavox AN/ARC-50 UHF, AN/APX-72 IFF/SIF, automatic UHF DF, AN/AIC-18 intercom, SST-181 X-band Skyspot radar transponder, dan solid-state attitude and heading reference system terbaru. Perangkat radar dari Emerson Electric AN/APQ-159 berkemampuan mencium jejak musuh dalam jarak23 mil, juga menambah kesaktian Tiger baru ini. Untuk fire control, dipasanglah jendela bidik optikal AN/ASG-31 yang terintegrasi dengan radar penjejak.

Hasil pengembangan ini adalah, Tiger baru yang lebih sakti untuk tarung udara. Cocok digunakan untuk misi meraih keunggulan udara (air superiority). Northrop membaptis jet baru ini dengan kode F-5E Tiger II. Versi tempatduduk gandanya diberi kode F-5F. Pesawat inilah yang kemudian memenangkan tender dari USAF untuk program IFA (International Fighter Aircraft), pada tahun 1970. Mengalahkan pesaingnya dari Ling-Temco-Vought dengan V-1000, yang merupakan pengembangan dari F-8 Crusade, Lockeed dengan CL-1200 Lancer, yang dikembangkan dari F-104 Starfighter, serta McDonnel Douglas, yang mengajukan versi modifikasi Phantom. Proyek ini diadakan untuk mengantisipasi ancaman –pada era perang dingin—jet musuh, yang dalam andalan Soviet, Mig-21 Fishbed. Tiger II dianggap cocok untuk meladeni Fishbed, yang ketika itu berstatus jet tempur paling mutakhir milik blok Timur.

Seiring dengan mulai produksinya Tiger II, maka era Tiger I, si Macan Kecil pun berakhir sudah. Produksinya dihentikan pada tahun 1972. Sesuai tujuan penciptaannya, Tiger II mulai memperkuat kekuatan udara negara-negara sekutu AS. Beberapa negara memesan Tiger II dengan tambahan atau perubahan peralatan. Dan memang Northrop menyediakan opsi bagi pemesannya untuk membuat F-5E sesuai keinginan negara pemesan. Misalnya perangkat radio dan avionik yang lebih modern. Bisa pula dipesan dengan kelengkapan chaff/flare (pengalih rudal). Beberapa versi, dilengkapi dengan kemampuan pengisian BBM di udara, seperti F-5E yang dimiliki angkatan udara Singapura.

Bahkan, beberapa negara pemesan, seperti Iran dan Arab Saudi, menginginkan F-5E mereka didesain punya peran utama sebagai jet serang darat. Untuk keperluan itu, dibuat varian F-5E yang dilengkapi sistem LATAR (laser-augmented target acquisition and recognation) –sistem laser pemandu tembakan ke sasaran darat. Varian ini juga dibekali kemampuan menggendong AGM-65 Maverick, rudal udara ke darat.
Sejumlah F-5E juga dibuat di beberapa negara berdasarkan lisensi dari Northrop. Swiss memproduksi 90 unit, Korea Selatan membuat 68 unit, dan Taiwan memproduksi 380 unit. Northrop sendiri memproduksi 792 F-5E (kursi tunggal), 140 F-5F (kursi ganda), dan 12 RF-5E (versi pengintaian udara/recon).

Indonesia mendatangkan 12 F-5E dan 4 F-5F versi standar pada tahun 1980 silam, lewat program Foreign Military Sales (FMS). Penempur yang masih gres itu datang dari pabrik Northrop dalam bentuk terurai, dalam dua tahap. Tahap pertama pada bulan April dan tahap kedua pada bulan Juli. Perakitan dilakukan di hanggar Lanud Iswahyudi, Madiun, yang nantinya jadi markas kawanan Macan udara itu. Tiger II resmi digunakan pada Mei 1980, masuk Skadron Udara 14 Buru Sergap, di bawah Wing Operasional 300, menggantikan F-86 Avon Sabre, yang sudah uzur. Peresmiannya, ketika itu, dilakukan oleh Menhamkan Pangab Jenderal M. Yusuf.

Upgradable
Saat ini, banyak Tiger II yang sudah pensiun dari operasional. Namun, tetap banyak juga yang masih membelah langit. Maklum, meski sudah terbilang “tua”, jet tempur generasi ketiga ini biar bagaimanapun masih bisa diandalkan sebagai alat penjaga kedaulatan langit. Apalagi bila kemampuannya ditingkatkan (up-grade), serta peralatannya dimodernisasi. Seperti yang dilakukan Singapura, dengan memodernisasi dan mendesain ulang armada F-5E milik mereka, dengan radar baru FIAR Grifo-FX Band, buatan Galileo Avionica. Kokpit didesain ulang, menjadi lebih modern, dengan display multi fungsi, serta menambah kemampuan untuk menembakkan rudal udara ke udara AIM-120 AMRAAM dan Rafael Phyton, jenis rudal yang masuk kategori BVR (beyond visual range).

Thailand juga memodernisasi sejumlah F-5E mereka, yang dilakukan di Israel, sehingga bisa menggendong rudal Phyton III dan IV, diintegrasikan dengan helm DASH, sehingga pilotnya bisa mengunci sasaran hanya dengan menoleh ke arah sasaran. Upgrade yang dikerjakan oleh Israel ini, menghasilkan varian yang diberi nama F-5T Tigris. Varian ini tak memiliki kemampuan menembak misil BVR.

F-5E milik AU Kanada yang di upgrade menjadi CF-5E Tiger. CF-5 punya kemampuan isi ulang bahan bakar di udara.

Indonesia juga sebenarnya tak ketinggalan, dengan melakukan upgrade pada armada Tiger II Skadron 14 lewat program MACAN (Modernize of Avionics Capabilities for Armament & Navigation), yang dikerjakan perusahaan Belgia SABCA. Program yang dilakukan pada tahun 1995 ini, bertujuan untuk meningkatkan kemampuan elektronik dan persenjataan, agar setidaknya kemampuan F-5E Tiger II bisa setara dengan kemampuan F-16 Fighting Falcon, jet tempur generasi empat yang masuk kekuatan udara Indonesia pada tahun 1989 silam.
Upgrade itu meliputi pemasangan GEC-Marconi Avionics HUD/WAC, dan Sky Guardian RWR. Sistem komputerisasi juga ditingkatkan dengan sistem air data computer mutakhir. Peningkatan dilakukan juga pada stores management system, HOTAS control, dan MIL-STD 155eB databus. Radar APG-69 (V) 3 yang sudah lawas, diganti dengan radar (V) 5 standar. Makanya, meski kalah mutakhir dari Hornett –yang notabene perancangannya banyak mengadopsi platform dari F-5E—Macan-macan udara dari Skadron 14 masih sanggup mengejar, dan menggertak Hornett Australia dalam insiden Pulau Roti. Macan Skadron 14 mampu membuktikan fungsinya sebagai skadron buru sergap.

Namun sekarang, dari 16 unit F-5E/F yang ada, lebih dari separuhnya tak bisa menjelajah langit, alias tak siap operasional. Seretnya suku cadang, minimnya anggaran (perawatan), ditambah dampak embargo senjata yang pernah diterapkan AS, membuat Macan-macan udara kita terpaksa lebih banyak ngendon di hanggarnya. Bahkan satu Tiger II, pernah bertahun-tahun tersandera di Amerika, dan baru bisa diambil pulang ketika embargo mulai dicabut. Pesawat itu tadinya dalam program perbaikan. Namun dengan adanya embargo senjata, AS tak mengijinkan pesawat itu diserahkan kembali ke Indonesia.

Kondisi ini memang sungguh memprihatikan. Mengingat kekuatan penuh macan-macan angkasa itu sebenarnya masih sangat diperlukan untuk menjaga kedaulatan langit Indonesia, yang sangat luas itu. (Aulia Hs)

Spesifikasi:
Awak: 1 (F-5E), 2 (F-5F)
Panjang: 47 ft 4¾ in (14.45 m)
Bentang sayap: 26 ft 8 in (8.13 m)
Luas sayap: 186 ft² (17.28 m²)
Tinggi: 13 ft 4½ in (4.08 m)
Berat Kosong: 9,558 lb (4,349 kg)
Max takeoff weight: 24,664 lb (11,187 kg)
Mesin: 2× General Electric J85-GE-21B turbojet
Daya dorong: 3,500 lbf (15.5 kN) per mesin.
Daya dorong dengan afterburner: Masing-masing 5,000 lbf (22.2 kN)
Kapasitas tangki internal: 677 US gal (2,563 L)
Kapasitas tangki eksternal: 275 US gal (1,040 L) per tanki, mampu membawa hingga 3 tanki

Performance
Kecepatan maksimum: 917 kn (1,060 mph, 1,700 km/jam, mach 1.6)
Jangkauan: 760 nmi (870 mi, 1,405 km)
Jangkauan maksimum: 2,010 nmi (2,310 mi, 3,700 km[40])
Ketinggian maksimum: 51,800 ft (15,800 m)
Kecepatan menanjak: 34,400 ft/min (175 m/detik)

Persenjataan:
Gun: 2× 20 mm (0.787 in) Pontiac M39A2 cannons in the nose, 280 rounds/gun
Hardpoints: 7 total (3× wet): 2× wing-tip AAM launch rails, 4× under-wing & 1× under-fuselage pylon stations holding up to 7,000 lb (3,200 kg) of payload.
Rockets:
2× LAU-61/LAU-68 rocket pods (each with 19× /7× Hydra 70 mm rockets, respectively); atau
2× LAU-5003 rocket pods (each with 19× CRV7 70 mm rockets); atau
2× LAU-10 rocket pods (each with 4× Zuni 127 mm rockets); atau
2× Matra rocket pods (each with 18× SNEB 68 mm rockets)

Rudal:
Air to Air:
4× AIM-9 Sidewinders atau
4× AIM-120 AMRAAMs
Udara ke darat:
2× AGM-65 Mavericks

Bombs:
Aneka bom udara-darat semacam bom tanpa pemandu Mark 80 series (termasuk 3 kg and 14 kg practice bombs), CBU-24/49/52/58 cluster bomb munitions, napalm bomb canisters dan M129 Leaflet bom.

Avionics
AN/APQ-153 radar pada F-5E generasi awal
AN/APQ-159 radar pada F-5E generasi akhir

Tentang iklan-iklan ini

18 responses to “F-5E Tiger II : Macan Angkasa Andalan Skadron 14

  1. Ada kenangan yang berkesan pada saat pesawat ini datang dan di beritakan oleh media koran,,saya mendapatkan gambarnya dan saya tempel di papan majalah dindin di SD kampung saya..

    Suka

  2. F5E TIGER MILIK TNI AU SEBAIKNYA DIMODERNISASI PERANGKAT TEMPURNYA BAIK RADAR, RUDAL, ATAUPUN MESIN PESAWATNYA. INDUSTRI DALAM NEGERI HRS DILIBATKAN DI DALAMNYA INI PENTING UTK PEMBELAJARAN APABILA SUATU KETIKA INDONESIA BISA MEMBUAT PESAWAT TEMPUR SENDIRI QTA SUDAH MEMPUNYAI PENGALAMAN, SEMOGA

    Suka

    • soekarnoismLEFT

      kan udah gan di project “macan”..tetep aje airframe dan mesin nye udeh out of date…mangkanya perlu adanya stop gap fighter jet neh untuk gantiin F-5,mmm kalo pake JF-17 logistic nightmare kagak yak ? abisan TNI AU pake pesawatnye gado2x hehehehe..nah kalo kejadian tuh F-5 bisa digeser untuk PENERBAL TNI-AL…

      Suka

  3. soekarnoismLEFT

    buat 2 skwadron tempur su-30 (sq1 barat dan sq2 timur masing masing 12 pesawat),radar di perbanyak dan di modernisasi khususnye di deket tim2x,malingshit,irian ama aussie,tambah PKR,LPD ama LHD di gugus armabar ama armatim,6 kapal selam untuk patroli sepanjang perbatasan laut malingshit (yang sering cari gara2x), tambah rm-70 grad MLRS untuk KKO/marinir (25 biji lah ‘mayan),bmp-3F (30 an biji),bvp-2(tambahin lagi),skalian modif ANOA APS untuk bisa gotong misil AT/kanon 105 mm,banyakin RPG-29, untuk AD beli tank (25 biji OPLOT (varian t-80 ukraina)),ama gun ship MI-35 (20 an biji lah) terakhir NAIKKAN STANDAR HIDUP PARA PRAJURIT KHUSUSNYA YANG DI
    PERBATASAN !! ps:SAY NO TO ANOTHER NOTA PROTES !!!

    Suka

  4. Kurang ajar Amerika.

    Suka

  5. soekarnoismLEFT

    harus ada public pressure yang terus menerus kepada pemerintah dan anggota HEWAN agar alutsista AURI (ALRI juga !) di perbanyak dan dipermodern sebagai perbandingan kita lihat arsenal jet tempur, dari info WIKIpedia negeri jiran MALONsia aja punya 71 pesawat tempur: SU-30 MKM,F/A-18,MIG-29 N,F-5E,HAWK mk 208 ! bandingkan dengan kita: F-16 blok 15 OCU cuman 10 ekor,SU-27/30 10 (total 16),F-5E 16 ekor,HAWK 209 29 total 65 EKOR ! coba lihat variasi jet tempur MALON disitu ada F/A-18 dan MIG-29 N !…suka tidak suka MALON adalah ancaman bagi kita begitupun dengan MALON mereka masih menganggap KITA sebagai ancaman oleh karena itu sedia payung sebelum hujan, kedepannya konflik indo dan malon akan semakin meruncing khususnya perebutan sumber daya alam (blok ambalat dkk) mengapa ? kekayaan alam MALON sudah hampir habis tereksploitasi dan kondisi ekonomi mereka terus menurun,parawisata mereka juga prospeknya semakin suram dimana dunia internasional mengetahui bahwa mereka MEMBAJAK budaya kita dan diklaim milik mereka…

    Suka

  6. eko-DPRT PAN PONDOK KARYA PONDOK AREN TANGSEL

    KEPADA SAUDARAKU JAJARAN TNI.AU YANG KAMI BANGGAKAN.WALAUPUN DENGAN ALUTSISTA TUA,KAMI MEYAKINI BAHWA MENHAN AKAN MENAMBAH PESAWAT TEMPUR YANG MEMADAI,MUNGKIN F.18,SU.27-30 MENJADI 2 SKADRON.SKADRON MIG 29 RUSIA VERSI TERBARU.BAGAIMANA SAUDARAKU FRAKSI PAN DAPATKAH SAUDARAKU DAPAT MEMBANTU TNI.AU GUNA MENJAGA KEDAULATAN NKRI

    Suka

    • soekarnoismLEFT

      anu sorry gan mo koreksi dikit..keknya TNI-AU TIDAK TERTARIK menggunakan F/A-18 ! sebabnya 1.amrik tidak akan ngasih barang high tech sembarangan apalagi yang akan menjadi ancaman sekutu asteng dan pasifiknya (singapur,new zealand dan aussie)
      2.F/A-18 punya MALON adalah versi KW3, jadi kemampuan tempurnya udah banyak dikurangi (malah denger2x cuman untuk aerobatic doang) :)
      justru saat ini kita harus menggenjot riset dan produksi alutsista LOKAL (PT PINDAD,PT DI dan PT PAL),tempo hari ada nota kesepahaman dengan kroya untuk joint production 50 unit KFX namun akibat krisis semenanjung korea keknya bakal tertunda….mangkanya pemerintah+ANGGOTA HEWAN harus punya rencana back up..minimum untuk stop gap fighter jets..lebih baik lancarin pencairan dana untuk TNI-AU agar bisa memodernisasi alutsista mereka minimum untuk jangka pendek dan menengah,misal pengadaan 1 skwadron interceptor jet SU-35BM+BVR missile (R-77?),penambahan dan peningkatan RADAR jarak menengah/jauh,pengadaan rudal darat ke udara (SAM) yang diintegrasikan dengan KOHANUDNAS (usul saya beli 20 unit tambahan SA-13 gopher untuk PSU jarak dekat (PASKHAS sudah punya manpads SAM QW3 dari tiongkok), 5 unit SA-6 gainful+10 unit SA-8 gecko untuk PSU jarak menengah dan S-300 PMU2 untuk PSU jarak jauh) pengoperasian dilakukan oleh satuan PASKHAS…
      sedangkan untuk alutsista pasukan tempur PASKHAS sendiri harus disediakan alutsista yang memadai juga misal, untuk pertahan pangkalan tidak lagi mengandalkan si “mbah” HISPANO triple gun lagi atau 12,7 DSHKm tapi penyediaan RANPUR yang bisa menjadi DIRECT FIRE SUPPORT bagaimana dengan BMD-3/BMD-4/sprut-SD ? selain mobilitas tinggi rampur ini secara khusus memang dirancang untuk para trooper (di russia yang make VDV)jumlah tidak perlu banyak 10~15 unit lebih dari cukup…

      Suka

  7. saatnya dana pertahanan dikucurkan lebih pada AU dan AL mengingat merekalah perisai terdepan kita.kedua matra itu amat bergantung dgn teknologi yg lebih maju dan mahal dari AD jd wajar kalo anggaran untuk mereka lebih bsar.paradigma AU dan AL dgn paradigma AD berbeda.AL dan AU adl man who drive the gun,org yg mengawaki senjata jd kinerjanya amat bergantung pada kualitas senjatanya sedangkan AD adalah soul of the gun,jiwa senjata itu sendiri jd kualitas personil AD amat menentukan hasil dari misi yg diemban ketimbang senjatanya.80 persen senjata dan teknologi AD bs dibuat pindad jd AD gak sah kwatir kekurangan senjata atau kalah teknologi.alutsista AU dan AL kebanyakan menggunakan teknologi tinggi yg mahal dan buatan luar negeri sehingga butuh dana yg besar.saatnya konsep keadilan anggaran pertahanan ditegakkan!

    Suka

    • terorisKAMPRET

      komen lo gw banget kamerad! jaman BK AURI ada MIG,SA-2 ama TU sedang ALRI ada IL-28,whiskey class subs ama RI IRIAN

      Suka

  8. SAUDARAKU PANGLIMA,SAUDARAKU MENHAN-SAUDARAKU JAJARAN MABES TNI DAN SAUDARAKU KETUA F.PAN DPR.RI.DPRT PAN PONDOK KARYA PONDOK AREN TANGSEL MENDUKUNG TNI.AU MENAMBAHKAN 1 SKAD.SU-35BM,MENAMBAHKAN BATALYON DETA ARHANUDSE PASKAS DENGAN RUDAL S.300,S.400,BRAHMOS,RUDAL IRAN SHAHAB KALAU HARGANYA MURAH TAPI TIDAK MURAHAN SEPERTI PEMBELIAN 39KRI TNI.AL TAHUN KEMAREN,JADI SAMPAH BUAT KAMI RAKYAT INDONESIA.APA F.16 NASIBNYA SAMA SEPERTI 39 KRI TNI.AL?.LEBIH BAIK BELI 6 F.16 VISTA DARIPADA BELI SAMPAH?.BUKAN BEGITU?.

    Suka

  9. Aku bukan saudara dari PAN hihihihihihi

    Suka

  10. terorisKAMPRET

    F-16 rasa blok 52 baru akan datang 2014 keburu SBY turun…kira2x ada masalah enggk yak?,KFX malah lebih parah baru bs produksi tahun 2040? buseet gw udah mampus br nongol tuh pesawat….mending ambil JF-17 ajah 2 tahun udah bisa kelar 6 biji jd 2015 udah dapet 12 biji plus senjata loh ini,masalah harga jangan tanya… bersaing bangettt :) itung2x stop gap drpd gagal ngambil gripen NG

    Suka

  11. indra sutedja dwiwangsa

    buat ajah tiruannya……..

    Suka

  12. NKRI HARGA MATI

    kalo boleh saya kasih saran minimal TNI AU beli 50 unit sukhoi T-50 PAKFA supaya negara malon berpiir panjang untuk menganggu NKRI. bravo TNI AU

    Suka

  13. Katanya akan dapet hibah 1 skuadron F5 dari korsel bonus pembelian t-50 ??? beneran gak tu apa cuma hoak??kira2 pesawat tempur yang cocok untuk mengganti armada F5 apa ??? mungkin heavy fighter sekelas Sukhoi 27/30, Typoon ato medium fighter sekelas f16 atau j17 ? semoga gap antara graunded dengan datangnya pesawat pengganti tidak terlalu lama, karena kebiasaan kita pesawat sudah jadi monumen dan monumen tersebut sudah ambruk baru pesawat pengganti datang, contohnya Broco yang digantikan Tucano setelah hampir 10 th digrauded

    Suka

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s